
"Xuan"bisik so ah dalam tidurnya.
Ia yang semula terbaring tak sadarkan diri kini kaget saat ia merasakan perasaan resah di hatinya. Ia menoleh melirik lentera cahaya yang bersinar terang kemudian dengan lembut ia memposisikan dirinya duduk dan bersandar di papan tempat tidur yang sudah di beri lapisan lembut bantal.
Sepi.
"Ini dimana ?"tanya so ah pada dirinya sendiri.
Ia mengelus lembut perutnya, so ah turun dari tempat tidur. Pandangan mata so ah mengedar kesegala arah, menatap segala sesuatu yang terasa asing dan terlihat barang-barang berharga serta langka yang memenuhi setiap sudut ruangan ini. Tanpa alas kaki, ia berjalan kearah jendela besar. Saat jendela itu terbuka, hembusan angin dingin menerpa tubuhnya yang saat ini tidak memakai pakaian tebal.
"Dingin"bisik so ah.
Jika ia tidak ingat bahwa bukan hanya dia saja yang kedinginan mungkin ia tidak akan perduli, tapi anak yang ada didalam rahimnya mungkin akan tersiksa karena rasa dingin. So ah mengedarkan pandangannya lagi mencari sesuatu yang bisa ia pakai akhirnya matanya berhenti dan melihat sebuah jubah yang tergeletak diatas kursi.
Ia menghirup aroma yang tersisa disana dan bisa merasakan aroma dari suaminya menyeruak keluar, walau samar rasa sedihnya sedikit terobati.
Ia memakai jubah hitam itu ketubuhnya, dan berjalan lagi kearah jendela.
"Dimana ini ??"bisik so ah.
Sejauh matanya memandang yang ia lihat hanya ada gumpalan abu-abu disetiap sudut tempat ini. So ah berjalan keluar dari kamarnya, dan melihat bahwa ruangan-ruangan yang ia lewati mempunyai banyak barang-barang yang berharga dan langka. Ia sampai takut untuk menyentuh mereka, jadi ia hanya berjalan lurus mencari keberadaan suaminya di tempat ini.
Saat keluar dari tempat ini, so ah baru mengetahui bahwa tempat yang ia tempati adalah sebuah pavilun berukuran sedang. Banyak lilitan-lilitan mawar merah di setiap tiang paviliun, ia yang tanpa alas kaki bisa merasakan bagaiman rumput-rumput hijau disela-sela jalan batu yang ia lewati untuk menuju ke jembatan kecil yang menghubungkan ketempat lain.
"Kenapa hanya ada aku sendiri ??"tanya so ah pada dirinya sendiri.
Setiap tempat yang ia lewati selalu ada lentera cahaya dibeberapa sisi halaman hingga menerangi setiap sudut halaman. Terlihat seperti siang padahal malam, apakah itu tidak terlalu boros ??...
Karena lelah akhirnya so ah memilih untuk beristirahat disebuah gazebo yang ia lihat. Disana sudah disediakan sebuah meja panjang dan tempat duduk. Diatas meja ada wadah yang berisi buah-buahan segar seakan sengaja disiapkan untuknya jika ia datang kemari.
Ia duduk dan makan buah-buah itu, sembari mengedarkan pandangannya kesekaliling.
Ketika ia mengunyah apelnya, ia baru teringat bahwa beberapa waktu yang lalu jantungnya berdenyut ngilu.
So ah langsung memasukkan tangannya dan mengecek sendiri tak ada luka disana, tapi kenapa perasaan gelisah itu ada ?? Semakin dan semakin membuatnya ketakutan. Karena terlalu fokus dengan pikirannya, so ah baru menyadari bahwa ada sebuah ayunan besar dengan kasur lembut disana.
Ia berdiri dan menatap ke tempat asing ini, saat melihat keatas ia merasa melihat bintang-bintang yang terlihat beberapa kali lebih besar daripada biasanya.
Di keempat sisi gazebo terdapat kain-kain putih tipis panjang yang mungkin digunakan untuk menjaga privasi orang didalamnya. So ah menarik tali disisi kanan tiang dan kain-kain putih itu jatuh kebawah menutupi gazebo. So ah berjalan mengistirahatkan dirinya di ayunan besar.
"Lembutnyaa..."bisik so ah ketika tubuhnya jatuh di ayunan kasur yang terasa sangat lembut.
Ia yang berbaring menyamping mengelus lembut perutnya.
"Kenapa sekarang bayi niang niang menjadi pendiam ??"tanya so ah lembut.
Ia merasa kesepian.
Hatinya gelisah, tak tenang.
Entah bagaimana pikirannya selalu berfikir bahwa akan ada sesuatu yang besar telah terjadi...
Apakah nanti ia akan bertanya pada suaminya ??...
Ya, ia harus bertanya...
Pedang perak yuan menancap dalam di dada kiri xuan.
"Eghh..."desis xuan.
"Hahahaha apakah kau tahu bahwa aku sudah sangat bosan melihat kekuatan lemah tikus-tikus kecil... ternyata melawan diri sendiri sangat menyenangkan"ucap xuan senang.
Disisi lain, bahu yuan tertusuk pedang hitam xuan menembus dalam hingga keluar kebelakang bahunya. Ia yang mendengar perkataan xuan tersulut emosi dan menyerang kembali mahluk gila didepannya itu.
Pedang keduanya terus saling berbenturan satu sama lain, tak ada yang mau mengalah dan menyerah.
Luka-luka mulai memenuhi jiwa yuan dan xuan, itu lebih menyakitkan daripada tergores pada tubuh fana mereka. Tapi keduanya tetap terus bertarung bagaikan orang gila saling memperebutkan hak kesadaran akan satu tubuh.
Yuan memuntahkan seteguk darah merah dari mulutnya, ia bertumpu pada pedang perak yang tak pernah lepas dari genggaman tangannya. Saat matanya melihat luka-luka yang juga diterima xuan, ekspresinya langsung turun drastis.
So ah !!!....
"Apa yang kau lakukan !!!"teriak yuan marah.
"Aku ??"tanya xuan sembari tersenyum mengejek karena melihat yuan yang baru sadar dengan apa yang lelaki itu lakukan padanya. Ia sengaja mengalah karena itu adalah kelemahan yuan, ia berani mengambil banyak resiko karena so ah berada di wilayah yang sudah ia berkahi dengan kekuatan sucinya walau ia tahu sekarang mungkin istri kecilnya sedang kesakitan tapi istri kecilnya mempunyai dua pelindung mungil didalam tubuh itu yang tak akan tinggal diam saja jika inangnya kesakitan. Xuan juga sudah mulai mengajari dan memberi pengalaman bagi kedua anaknya yang belum lahir dengan mengajari pengendalian kekuatan spiritual mereka yang sangat besar dan menahan kekuatan mereka sendiri, agar nanti so ah tak akan kesakitan lebih sakit dari rasa sakit yang lebih mengerikan.
"Bukankah pedang itu pedang yang sama dengan pedang yang kau gunakan untuk menusuk istri dan anakku ?"ucap xuan santai.
"Kauu !!!..."desis yuan geram.
"Hahahaha ayo serang lagi dan biarkan rasa berdosamu itu terus mengalir"ucap xuan dingin.
"Biarkan wanitaku ikut dengan diriku"ucap xuan lagi.
Yuan sudah diambang rasa kewarasannya karena racun ular yang sudah mengalir menyatu dijiwanya membuat pikirannya tumpang tindah dan berantakkan. Pedang perak yang ada digenggaman tangannya itu ia sabetkan dengan ganas pada jiwa xuan.
"Mati kau !!!"desis yuan dingin.
Mata birunya yang semula terang berubah menjadi gelap penuh dengan kebencian. Xuan tersenyum sangat dalam saat melihat mata itu.
Trangg...
Tranggg...
Bruakk...
Coughh...
Coughhh...
Mata xuan sedikit melebar ketika ia memuntahkan seteguk darah segar berwarna hitam. Dadanya terasa sangat panas dan seakan dihantam batu besar, ia mundur.
Rasa panas menyengat terus menghantam jiwanya. Ia merasakan jiwanya sedikit retak.
"Ergghh"desis xuan.
Tegukan demi tegukan darah keluar dari dalam, ia muntahkan. Tangannya bertumpu pada pedang hitamnya yang menancap dalam tanah dimensi yang ia pijak. rembesan darah pekat mengalir dari kulit pucatnya menuruni hanfu hitam yang ia pakai.