The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 198



Setelah menerima izin dari tuannya, sulur besar yang rou shi keluarkan dari dalam kubah pembatas antara kawasan lembah dan kawasan lain mulai menelan segala sesuatu yang melewatinya, termasuk mayat-mayat para prajurit kekaisaran dunia atas dari luar kawasan kubah yang melindungi lembah utara hanya terlihat lilitan sulur yang bergerak cepat dari udara kosong.


Srigala-srigala besar yang menggeram liar itu kini tak lagi berkutik dan hanya terdengar suara ringkikan menyedihkan tanpa perlawanan dari hewan-hewan buas itu, hingga akhirnya terdengar suara retakan tulang yang mengakhiri kehidupan mereka.


Disisi lain Yi, Bingbing, Hui dan Zhe ze terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan tiba-tiba tumbuhan besar merambat itu.


Sulur besar yang sebagian telah mengurung hampir semua prajurit dunia atas beserta mayat dan juga monster besar itu kini telah ikut membelenggu tubuh mereka masing-masing, sebuah penjara sulur membekukan pergerakan mereka.


"Tenang"bisik yi pada ketiga mahluk immortal yang berada disekitarnya.


Hening.


Keheningan mencekam ditengah dinginnya gunung salju itu tak membut yi lengah, pendengarnya semakin tajam dan waspada hingga akhirnya ia bisa merasakan bahwa tubuh mereka seakan mulai ditarik dan disatukan dalam satu penjara sulur buatan.


Hening.


Yi, Hui, bingbing dan zhe ze saling berpandangan satu sama lain dengan waspada saat mereka berada didalam penjara buatan ini. Fakta bahwa kekuatan spiritual mereka berada di ujung tombak dan terasa sangat keruh bahkan hampir kosong membuat keempat mahluk immortal dari dunia atas itu mulai sedikit merasakan rayapan putus asa hingga penjara buatan itu dengan cepat bergerak dan tertarik mundur kesuatu tempat.


Keempatnya mulai tegang melihat kobaran api yang secara tiba-tiba muncul dari suatu tempat, hingga suara kobaran api terdengar keras mulai membakar segala sesuatu disekitar mereka. Mereka terdiam melihat mayat-mayat para prajurit dunia atas dan juga hewan buas yang juga berada didalam balutan penjara sulur tanaman ikut termakan kobaran api.


Mereka terjebak !!


Ledakan besar terdengar setelahnya dengan kepulan besar asap hitam yang mengacaukan pandangan.


"Paman !! Paman.... Pamann !!"teriak yao er yang kini telah berada di depan pintu kamar dai luan.


Bocah lelaki kecil itu dengan tidak sabaran terus mengetuk pintu besar kamar dai luan. keringat dingin terlihat mengalir deras dari kening kecilnya, ia sangat mengkhawatirkan adik perempuannya yang kini tak sadarkan diri. Tapi, sekeras apapun tangannya mengetuk kasar pintu itu, suara tak terdengar hingga kedalam ruangan dai luan karena naga pelindung itu telah memasang tabir.


Disisi lain, dai luan kini tengah menahan emosinya yang tengah meluap. ruangannya terlihat suram dan gelap tanpa penerangan disana, dai luan terdiam saat ia merasakan samar kehangatan lain yang tengah mendingin lemah.


Deg !


Ekspresinya menjadi kaku.


Sontak saja, dai luan langsung melesat menuju kearah pintu kamarnya. Terdengar suara hantaman keras dari pintu yang terbuka memperlihatkan dua sosok dengan tinggi yang berbeda bertepatan saat ia membuka pintu.


Hening.


Dai luan menunduk memandang dua sosok kecil dihadapannya. Ia mengabaikan bagaimana dengan nasib pintu kamarnya yang telah hancur terbelah dan Ia berusaha memperkuat ekspresinya yang kaku bercampur panik itu dengan berusaha bersikap dingin dan acuh tak acuh.


"Apa yang terjadi ??"tanya dai luan yang melihat tubuh lemah mungil yue er berada di punggung yao er.


"Aku tidak tahu paman, tapi mei mei sangat kesakitan"sahut yao er.


Dai luan terdiam mendengar jawaban yao er. Ia sedikit ragu saat akan membawa yue er dalam gendongannya tapi pada akhirnya ia mengambil tubuh mungil belahan jiwanya itu dan untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu ia melakukan kontak fisik dengan belahan jiwanya. Ia sedikit ketakutan saat merasakan begitu ringannya sosok yang kini tengah ia bawa itu, seringan bulu bahkan ia takut tanpa sengaja bisa meremukkan tubuh kecil ini.


Dai luan bisa merasakan bahwa tubuh kecil ini masih sangat lemah dan penyebab utamanya adalah dirinya. Tapi, bagaimana mereka berdua bisa terhubung dan itu sangat-sangat akan menyulitkan keduanya dimasa depan, dikemudian hari kemungkinan besar jika ia terluka mungkin saja yue er akan ikut terluka dan ia tak bisa membayangkan bahwa dirinya harus menunggu beberapa tahun lagi untuk melihat bagaimana belahan jiwanya tumbuh. Dai luan perlahan mengalirkan energi spiritualnya ketubuh kecil itu, energi spiritual hitam terlihat mengalir lembut membalut tubuh kecil yue er.


"Akhhh... brengsek !!!"desis dai luan didalam hatinya, ia merasa sangat menyesal telah membuat sosok kecil ini terluka.


Tubuh kecil yue er yang terlihat sangat mungil kini tengah bergelung hangat dalam gendongan dai luan, ekspresi gadis kecil itu mulai berangsur-angsur membaik terbukti dari dengkuran halus yang keluar dari arah gadis kecil itu. Dai luan menahan sedikit nafasnya, ia takut jika hembusan nafasnya bisa membangunkan sosok kecil ini.


Tubuh dai luan tetap kaku dan tak bergerak satu incipun dari tempatnya karena ia takut membangunkan yue er, akhirnya sedikit tidak rela ia membiarkan sosok kecil itu untuk tidur diatas ranjangnya.


"Tunggulah dia disini, aku akan pergi membuat ramuan"ucap dai luan dingin.


Ia cepat-cepat langsung pergi dari dalam kamarnya sendiri.


Yao er hanya memandang kepergian dai luan dengan pandangan aneh, dan ia kembali menatap adik perempuan kesayangannya itu. Yao er perlahan ikut naik keatas ranjang dan berbaring tidur disamping saudari kembarnya itu.


"Apa yang kau lakukan ??"tanya so ah pada rou shi.


"Hamba hanya ingin menghilangkan keberadaan anda dan saya di lembah ini yang mulia permaisuri"sahut rou shi pelan, ia merasa sangat bersalah karena terbawa emosi dan membakar segala sesuatu termasuk pohon-pohon hidup di luar tabir tapi ia juga bingung kenapa api itu sangat besar. Ia juga tanpa sengaja melihat ada sebuah kaca tipis yang berada tepat diatas tempat pertarungan para mahluk immortal itu, dan setelah ia lihat lagi dengan baik ia tahu ada mahluk lain yang tengah melihat pertarungan itu, dan kemungkinan besar dialah dalang dari pertarungan orang-orang ini dan juga sosok yang mengirim hewan buas itu dan rou shi juga merasa bahwa sosok yang mengejar mereka ikut mengawasi pertarungan. Dua sosok itu tak bisa ia remehkan, sekarang ini tugas utamanya adalah memastikan bahwa permaisuri harus tetap aman bagaimanapun caranya sampai weida de tianghuang kembali.


Kobaran api besar yang telah rou shi buat membakar segalanya dengan kepulan asap hitam besar yang menutupi seluruh tempat pertarungan itu, disisi lain cermin air yang telah yuan buat retak dan hancur. so ah yang berada disampingnya terlihat berkeringat dingin dan pucat.


Penjara sulur yang membukus yi, hui, bingbing dan juga zhe ze kini telah tertarik mundur menembus perbatasan tabir antara lembah utara dan daerah gunung utara. Rou shi yang tak mau mengambil banyak resiko karena jika para immortal itu tetap sadar dan berbuat ulah ia lebih memilih untuk menaburkan bubuk bunga penidur didalam penjara sulur miliknya.


Yi yang masih setengah tersadar bisa merasakan penjara sulur ini tengah menuju kesuatu tempat hingga ia tak bisa menahan serbuk asing yang telah mengambil alih kesadarannya.