The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 249



Yuan menyerang yi dari belakang, lelaki itu menghempaskan yi dengan titik lemah lelaki itu. Yi yang tak tahu bahwa kaisar menyerangnya, terhempas jauh.


Yuan tersenyum datar, merasa bahwa takkan ada yang menghalanginya. Tapi, ia mendecih saat melihat tubuh so ah di lilit ekor ular ganas itu.


So ah tak ingin kalah, ia menumbuhkan lebih banyak sulur hidup yang juga melilit tubuh ular dihadapannya ini. Tapi, semakin ia berusaha untuk membebaskan dirinya sendiri. Ular raksasa ini semakin meremat habis tubuhnya.


Kembali, jantungnya berdetak ngilu.


Ia merasakan sesuatu akan meledak keluar dan kesadarannya terenggut.


Cheng rou tertawa gila, dirinya dan juga zheng bai semakin gila menghabisi nyawa-nyawa di sekitar mereka. Entah itu, lawan atau sekutu seluruhnya telah habis terbantai.


Semakin banyak darah pengorbanan, semakin banyak manfaat besar untuk kekuatan spiritualnya.


Zheng bai yang membantai asal mahluk-mahluk buas disekelilingnya terlihat ganas, brutal dan tatapan mata tak bernyawa.


Ia merasakan kekosongan besar dihatinya.


Dan ia yakin kini hatinya begitu berlubang.


Tapi, ketika ia melihat tubuh manusia itu berada dalam genggaman cheng rou.


Mata zheng bai menatapnya datar.


Ia pergi ke arah so ah.


Saat ia hampir mendekati tubuh manusia itu, serangan liar datang kearahnya.


Yuan menyerang zheng bai.


.


.


.


Dunia atas.


Wan yu kesal dengan sosok yang telah menebas habis puncak dari pohon raksasa kuno.


Patahan-patahan dari beberapa ranting dan batang pohon raksasa itu telah memenuhi istana kekaisaran.


Bangunan megah istana kini telah hancur karena pohon itu.


"Kau !!!... keluar !!", desis marah wan yu.


Tak ada sahutan.


Ia yang tadinya sempat khawatir karena kekuatan tak seimbang antara dirinya dengan sosok yang masih bersembunyi itu kini perlahan menyombongkan dirinya.


"Aku adalah keturunan asli kekaisaran ini !!.. karena tetua bedebah itu mengambil badan kayu suci untuk tubuh kaisar saat ini membuat aku harus mati !!!... tapi untungnya dewa kematian sangat menghormati kehidupan kaisar agung ini.. sekarang sebelum aku menduduki daratan dunia atas... bersimpuhlah di kaki kaisar ini, maka aku akan mengampuni nyawamu", desis wan yu dingin.


Tawa mengejek terdengar sangat menghinanya. Tapi, tak lama berselang. Ledakan besar terjadi.


Wan yu yang tak memikirkam serangan tiba-tiba dari sosok yang tak ia ketahui ini langsung pergi menghindar.


Mata tajam dai luan menatap dingin langit hitam bercampur merah gelap darah yang mulai membentuk badai besar. Kilatan-kilatan cabang petir mulai memenuhi langit.


Darah pengorbanan telah jatuh.


Kaisar agung akan menghukum mereka.


Tapi, mata dai luan terbelalak.


Dewi kehidupan murka.


Seluruh tubuhnya merinding.


Dewi kehidupan itu tidak pernah menunjukkan dirinya.


Dai luan terdiam, ia melihat pohon kuno dihadapannya ini dengan tatapan dingin.


Asap ledakan yang mulai menipis menampakkan sosok dai luan yang kini tengah berada di atas pohon kuno. Wan yu tak bisa berkata-kata saat melihat pohon yang ia miliki telah patah dan tumbang. Pohon yang penuh dengan esensi spiritual bisa dengan mudahnya di buat patah oleh sosok diatasnya itu membuat wan yu waspada.


Tekanan kuat mengintimidasinya. Wan yu tak ingin kalah. Ia melesat terbang menuju dai luan.


Tau dengan musuh yang datang mendekatinya. Dai luan menghempaskan tangannya.


BLAARRRRR...


Ledakan besar yang membuat tubuh wan yu terhempas sangat jauh hingga tubuh itu menabrak pilar perak. Dai luan dengan santai mendekati lelaki itu.


"Bukankah kau berkata padaku bahwa kau adalah keturunan dari kaisar terdahulu", desis dai luan dingin. Saat ia berbicara sedikit terlihat kedua gigi taring di sela-sela bibirnya. Dagunya yang terangkat tinggi begitu sombong, dan menekan lawannya.


Wan yu mundur. Ia merasa sosok dihadapannya ini begitu mengerikan, tapi kembali ia harus menelan ludahnya. Kenapa ia begitu bodoh harus mengakui bahwa ia keturunan langsung dari kaisar terdahulu !!.. tak ada jalan keluar lain.


Ia juga telah membuat kesepakatan sebelumnya dengan sosok cheng rou. Tanpa rasa takut, wan yu melepas segel yamg telah tertanam dilengan kirinya.


Gelombang besar energi spiritual mulai mengalir diseluruh tubuhnya. Wan yu tertawa terbahak-bahak, ia merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Tanpa rasa takut wan yu menendang dai luan.


Dai luan yang merasakan serangan lain akan datang padanya, ia dengan santai membalikkan serangan itu sendiri.


Bunyi retakan kuat karena kekuatan spiritual yang berbalik arah kembali ketubuh wan yu membuat lelaki itu kesakitan.


Kembali.


Wan yu terus menyerang dai luan dengan membabi buta, ia tak memberikan kesempatan untuk dai luan bernafas. Tapi, tetap saja dai luan hanya menanggapo santai serangannya dan kembali menghempaskan tubuhnya.


Tak ingin kalah, wan yu mengeluarkan sesuatu yang lain dari segel dilengannya.


Dai luan menyipitkan matanya.


Ia bisa merasakan dengan jelas apa yang kini berada dihadapannya.


Wan yu yang merasakan keanehan besar telah terjadi lagi pada tubuhnya. Jantung nya serasa diremat, inti spiritualnya terasa sedang di acak-acak oleh sesuatu.


Perlahan-lahan kulit tangannya mulai mengeras dan keras. Matanya mulai bergulir karena merasakan sakit kini telah kembali dengan inti mata kuning berbisa, lidahnya telah bertambah panjang dan panjang kini terpotong menjadi dua bagian. Kini bagian kakinya terasa begitu menyakitkan, dan lengkep satu sama lain hingga menyatu hingga memanjang membentuk sebuah ekor.


Hembusan aura spiritual besar mengalir ditubuhnya yang telah berubah bentuk menjadi setengah binatang buas. Wan yu tak pernah bermasalah dengan fisiknya, jika ia bisa bertambah kuat dan kuat. Apapun akan ia lakukan.


Dai luan melihat mahluk setengah manusia dan ular dihadapannya dengan pandangan datar.


Dai luan tersenyum dingin, saat wan yu dengan cepat mengubah bentuk dirinya dengan sempurna.


Ular raksasa kini berada tinggi didepannya, mendesis penuh ancaman.


Ular wan yu menghempaskan ekor besarnya kearah dai luan, ia menyerang dai luan dengan gila dan brutal. Karena pertarungan mereka, seluruh bangunan megah istana kekaisaran dunia atas telah rata.


Dai luan melirik sekeliling mereka, kini sangat rata dan hanya setengah batang pohon raksasa yang masih berdiri tegak dengan sisa akarnya.


Tapi, saat ia akan menyerang lagi. Tiba-tiba seluruh daratan dunia atas bergemuruh, ledakan energi spiritual besar melonjak naik melewati pilar daratan kekaisaran dunia atas.


Dia telah datang.


Tanpa menunggu lama, dai luan menghempaskan seluruh tubuh ular raksasa didepannya ini.


Ia memicing tajam, dan secara tiba-tiba rambatan tajam kristal menusuk seluruh tubuh ular itu.


Raungan dan desisan ular kesakitan terdengar memekakan telinga. Dai luan tak perdulu, dari ruang hampa ia membentuk ratusan kristal tajam yang terbang diatas tubuhnya.


JLEEBBB


JLLEBBB.


BLAAARRRR


Kristal-kristal tajam itu menancap tajam di tubuh ular wan yu. Wan yu menggeliat kesakitan, tak ingin kalah ia menghembuskan nafas berbisanya kearah dai luan.


Gas beracun tersebar di udara, dai luan tak bergeming. Ia hanya mendecih dingin dan mengeluarkan energi gelap miliknya. Tak menunggu serangan kedua, tubuh ular wan yu terjatuh dari dunia atas.


Dai luan tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya. Ia mengejar tubuh ular raksasa dihadapannya itu dan dengan perhitungannya. Ia menembak tubuh wan yu dengan kekuatan spiritual miliknya.


Yuan dan zheng bai sekali lagi bertarung. Pertarungan mereka kali ini begitu beringas dan brutal. Seluruh pasukan yang berada di sekitar mereka tak berani mendekat karena takut terimbas pada diri mereka sendiri. Dan para pasukan dunia atas kembali bersemangat saat melihat kaisar mereka yang bergerak menyerang musuh.


Keadaan semakin memanas, tebasan, teriakan dan geraman mengerikan bercampur menjadi satu.


"Hahahaha... serang... terus serang... anakku, zheng bai", ucap cheng rou tertawa iblis.


Ia melirik tubuh so ah yang kini tak sadarkan diri karena belitan ular kuno miliknya. Karena suara ledakan besar dari arah lain, cheng rou mengalihkan pandangannya.


Cheng rou tersentak kaget melihat ular raksasa lain dihadapannya.


Kenapa wan yu bisa menjadi bangkai yang tak berguna !!!...


Ia bisa tahu bahwa ular dihadapannya itu adalah wan yu. Beberapa pasukan yang tengah bertarung satu sama lain juga kaget dengan apa yang mereka lihat.


Sebelum sebuah serangan api ganas melesat menghantam ular kuno milik cheng rou.


Ledakan yang lebih besar hingga membuat cekungan yang begitu dalam. Kabut asap tebal menyelubungi hampir sebagian wilayah padang kematian. Kobaran api biru kehitaman memenuhi hampir sebagian wilayah padang kematian.


Cheng rou dengan ularnya keluar dari lubang itu. Ia dengan cepat bersiul dan binatang-binatang buas spiritual yang entah dari mana datangnya memasuki padang kematian. Kini ribuan binatang spiritual mengepung wilayah padang kematian dan juga oara pasukan dunia atas.


Binatang spiritual kuno.


Pasukan dunia atas kaget melihatnya. Kini jumlah mereka telah berkurang drastis. Dan ditambah lagi tak ada sosok yang bisa meredakan keadaan.


Cheng rou melirik cepat, ia mencari siapa yang berani menyerangnya. Selain dua sosok pemimpin itu, tak ada lagi seseorang dengan kekuatan besar. dan lagi api biru kehitaman yang berkobar ganas ini.


Cheng rou waspada, dan ia dengan bodohnya secara reflek memanggil binatang spiritual di bawahnya.


Lagi.


Ia tanpa bisa melihat siapa yang menyerangnya, dirinya terhempas bersama dengan ular kuno miliknya.


Ular kuno miliknya mengeluarkan suara mendesis kesakitan. Ia melihat dan benar saja.


Ekor ular miliknya telah terpotong !!!...


Bajingan busuk !!!...


Cheng rou murka.


Ia mencari kesegala arah, dan tak menemukan tubuh so ah. Tiba-tiba, tubuh cheng rou terpaku dan bergetar saat melihat sosok yang ia yakini bahwa itu sosok yang begitu ia cari selama ini.


Diatas sana.


Diatas seluruh pasukan yang tengah bertarung dalam genangan darah.


Di kehidupan ini tak ada lagi penghalangan baginya.


Ia tersenyum begitu bahagia, tapi senyum itu berubah menjadi senyum jelek saat melihat sosok itu membawa seseorang ditangannya.


Weida de tianghuang, dengan ekspresi datarnya memandang seluruh mahluk dibawahnya.