
So ah melihat sosok yang berada jauh didepannya itu, semakin ia mendengar ucapan rou chi, wanita yang membantunya melahirkan. Semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal akan ucapan rou chi.
"Yang mulia, lari"bisik rou shi.
So ah hanya diam mendengar ucapan dayangnya itu, entah apa yang harus ia lakukan tapi tubuhnya langsung kaku saat mendengar ucapan rou chi.
"Yang mulia kaisar agung keh takkan mungkin mau mencintai seorang manusia rendahan"ucap rou chi yang mengejek so ah.
"Kauu !!!.. lancang !!"bentak rou shi geram.
"Jika apa yang kau katakan itu benar adanya, bukankah seharusnya kau yang malu pada dirimu sendiri karena tidak berhasil mendapatkan hati yang mulia kaisar agung"ucap so ah lembut.
Suaranya yang lembut dan indah keluar bergemerincing merdu bagaikan lonceng surgawi yang terbang di bawa angin.
Rou chi kesal karena ucapan so ah, ia dengan cepat menyerang so ah dengan pedangnya tapi langsung ditangkis rou shi.
"Minggir kau !!"desis rou chi saat kedua senjata mereka saling beradu tajam.
"Tidak akan !!"desis rou shi yang tidak mau kalah.
Rou shi masih harap-harap cemas dan berusaha dengan keras disela-sela pertarungannya dengan rou chi untuk memberikan sinyal bahaya kepada rou shu dan weida da de baohu long dai. Jika bukan karena tabir besar yang dipasang rou chi ini untuk mengurung mereka kemungkinan besar rou shu akan tahu bahwa ia dan yang mulia permaisuri kini sedang terdesak.
"Cih"decih rou chi yang kesal karena kekukuhan rou shi yang tetap melindungi manusia rendahan itu dan pertarungan mereka berlangsung dengan alot karena rou shi selalu saja bisa mengelak dan balik menyerangnya walaupun tidak berefek besar pada dirinya tapi jika hal ini terus berlangsung energi spiritualnya bisa terbuang dengan percuma dan rencana yang akan ia lakukan takkan bisa berjalan lancar.
Crangg...
Cranggg....
Rou chi melemparkan segerombolan anak panah tajam kearah rou shi dan so ah secara bersamaan, ia berusaha memecah konsentrasi roh teratai dungu penjilat itu.
Jlebb...
Jlebb..
"Mati kau !!"desis rou chi dingin.
Hujaman anak panah yang datang secara tiba-tiba kearahnya dan tuannya membuat rou shi langsung panik.
"Yang muliaaa... awasss"teriak rou shi.
Rou shi dengan cepat pergi kearah so ah dan membuat tabir air pelindung yang mengahalu hujaman anak panah itu dari tubuh mereka.
"Yang mulia permaisuri, bertahan sebentar saja"ucap rou shi yang berusaha agar so ah tidak panik.
"Tidak, dirimu yang harus bertahan"ucap so ah.
"Ter...terima kasih yang mulia"sahut rou shi.
Hujaman anak panah yang tak henti-hentinya menghantam tabir air pelindung milik rou shi terus berlanjut sangat lama.
"Tidak, jangan !!!"pikir rou shi yang mula8 panik karena energi spiritualnya yang hampir habis.
Ia menatap so ah sebentar dan memfokuskan dirinya kembali ketabir pelindung yang ia buat untuk melindungi tubuh mereka dari hujaman anak panah itu.
"Cih, menyebalkan !!!"desis rou chi dari atas sana yang telah bosan menunggu.
Rou chi dengan cepat menghilang dan ia dengan kejam menebas tabir air milik rou shi dan ia kembali menusuk rou shi dengan pedangnya.
Crangg...
Terdengar suara pecahan tabir air yang dibuat rou shi hancur dan hanya menyisakan sisa-sisa uap tipis air.
So ah yang berada dibelakang rou chi kaget akan kejadian yang terjadi begitu cepat dihadapannya.
Kenapa ia begitu lemah hingga harus melihat orang yang melindunginya harus terluka ??
So ah menatap rou shi dengan mata berkaca-kaca, ia dengan nekat mengambil pedang rou shi yang tergeletak disamping tubuh dayangnya itu.
"Cukup !!!... apa yang kau inginkan"ucap so ah dingin.
Ia memegang pedang rou shi sengan erat dan dengan cepat menahan tubuh dayangnya itu yang akan menghantam tanah saat rou chi dengan kejam kembali menarik pedang yang tertancap dalam di tubuh rou shi.
"Aku ??... ingin kau mati !!"desis rou chi tertawa.
So ah menatap wanita gila didepannya itu dengan pandangan tegas.
"Bukankah seharusnya yang harus mati adalah dirimu"sahut so ah.
"Kau mengacaukan segala sesuatu yang berada ditempat ini... dan kau tak mematuhi perintah tuanmu"ucap so ah lagi.
"Kau !!!... siapa kau hingga berani memerintah pemimpin roh suci teratai ini !!!"bentak rou chi marah.
"Benar, kau hanyalah seorang pemimpin rou dan aku adalah permaisuri agung ditempat ini"ucap so ah lagi.
Rou chi terdiam mendengar ucapan so ah dan beberapa menit kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahaha...."tawanya yang gila menjijikan terdengar serakah dan memuakkan.
"Kau, manusia rendahan berani memerintah mahluk imortal sepertiku ??!!"desis rou chi marah.
Ia melihat so ah yang dengan lembut membaringkan tubuh rou shi diatas rerumputan yang kini penuh dengan bekas bercak darah merah yang mulai berubah menjadi kehijauan menyatu dengan sekitarnya.
Rou chi melihat luka parah yang berhasil ia buat ditubuh rou shi sedikit menenangkan hatinya yang sempat panas dan marah akan ucapan manusia rendahan itu.
Tapi, bagaimana ia akan menyiksa tubuh manusia lemah dihadapannya ini ??, pikir rou chi jahat.
"Surat yang kau berikan padaku... apakah itu hanya untuk memikatku kemari"ucap so ah yang kini berdiri menghadap kearah rou chi.
Surat yang mengatakan tentang keberadaan xuan membuat so ah gelisah dan panik serta ingin segera menemukan lelaki itu hingga pada akhirnya ia implusif dan baru menyadarinya sekarang. Berfikir bahwa tidak mungkin ada mahluk jahat ditempat suci ini tapi ternyata pikirannya salah. Tapi, nasi sudah menjadi bubur dan ia takkan bisa memundurkan waktu kembali. So ah yang melihat rou shi terluka sudah cukup merasa sangat bersalah sama seperti halnya yang telah terjadi pada orang-orang kerajaan timur yang tak bersalah itu karenanya mereka harus memilik takdir menyedihkan.
"Hahaha dasar manusia bodoh"ejek rou chi saat melihat wajah sedih milik so ah.
Ia sudah sangat ingin mencabik-cabik wajah itu dan membuatnya menjadi buruk rupa hingga weida de tianghuang yakkan lagi terpesona dengan kecantikan manusia rendahan itu.
"Kau harus mati disini agar kedua bayi itu dan weida de tianghuang menjadi milik ku"ucap rou chi penuh percaya diri dan tanpa tahi malunya ia mengatakan bahwa weida de tianghuang adalah miliknya.
Gila.
Wanita didepannya itu tidak waras.
Rou chi dengan cepat langsung menyerang so ah dengan pedangnya tapi secara tiba-tuba rou shi kembali menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
Cratt...
Darah milik rou shi terciprat diwajah dan tubuh so ah mengotorinya dengan warna merah segar mengerikan.
Mata so ah terbelalak kaget dengan apa yang telah rou shi lakukan untuknya.
"Yang mulia, anda harus tetap hidup dan menemukan weida de tianghuang"ucap rou shi tersenyum tulus yang didetik itu pula ia dengan akar kekuatan spiritual terakhir miliknya mengeluarkan so ah dari tabir besar yang dibuat rou chi sekaligus membawa tuannya itu keluar dari tempat suci ini.
Ia melakukan hal yang beresiko sangat besar itu karena ia yakin bahwa tuannya ini kemungkinan besar akan bertemu weida de tianghuang diluar sana walaupun tidak ada jaminan akan hal itu terjadi setidaknya tuannya ini terbebas dari kekejaman rou chi.