
Dikekaisaran dunia atas kini tengah menghadapi sebuah kejadian besar dimana kaisar agung mereka membantai seluruh penatua klan harimau putih, tak ada satupun penatua klan harimau putih yang ditinggalkan untuk bernafas, semuanya mati dengan keadaan berlumuran darah karena tempat dimana tubuh mereka menyimpan inti spiritual terdapat lubang besar yang menganga disana.
Yi terdiam melihat gelimpangan mayat-mayat kaku didepan matanya, ia menatap sosok lelaki yang tengah berdiri tegak ditengah-tengah penjara yang suram dengan aroma darah, sangat menyengat sekaligus menakutkan.
Rambut yuan yang tak ia ikat berhambur berantakkan dibelakang tubuhnya, pakaiannya yang biasa selalu berwibawa kini basah oleh bekas darah. Tatapan matanya yang biasanya lembut kini bersinar tajam dibalik kegelapan penjara, mata itu berkilat saat melihat yi yang berdiri diambang pintu masuk penjara.
Tubuh yi diam tak bisa bergerak.
"Apa yang ingin kau laporkan ?"tanya yuan , ia dengan santai mengelap sisa-sisa darah yang mengotori tangannya dengan sapu tangan putih yang kini sudah berubah warna, dan membuangnya dengan santai.
"Salam kepada yang mulia kaisar agung"ucap yi dengan cepat.
Sekarang ini ia merasa terancam dengan aura yuan.
"Kami sudah menemukan akar dari rumput itu, yang mulia"ucap yi.
Yuan mengangkat alisnya, dan ia langsung menyeringai dalam.
"Seberapa banyak yang terlibat ?"tanya yuan.
"Sekitar setengah dari penuh, yang mulia"sahut yi.
"Bagus... jangan bunuh mereka dengan sia-sia tapi, bawakan aku inti spiritual mereka"ucap yuan dingin.
Yi tersentak kaget mendengarnya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada tubuh kaisarnya hingga melakukan sesuatu yang sangat tabu, bukan menjadi hal yang bisa diketahui secara luas tapi akibatnya jika para rakyat serta pemimpin klan tahu apa yang diperbuat kaisar mereka sekarang ini mungkin akan terjadi perang lain didalam kekaisaran dunia atas.
Hal tabu itu sangat keji dan juga kejam. Yi hanya bisa menatap sedikit iba pada mayat-mayat yang bergelimpangan dibawah kaki kaisarnya. Seharusnya ia tak membawa para tetua klan harimau dan mengurung mereka dipenjara ini hingga kejadian seperti ini terjadi.
Mata yuan yang biru menggelap, disana ada sinar kegelapan yang kacau. Entah itu sadar atau hanya halusinasi belaka, hasrat yuan untuk membunuh xuan semakin terlihat jelas. Rasa sakit karena racun ular kuno bercampur dengan rasa sakit lain ditubuhnya membuat pikirannya semakin buram, tumpang tindih menjadi yang fragmen kacau.
Menggerogoti jiwa dan tubuhnya dalam dua arah.
Disisi lain, dikediaman klan duyung, nona muda utama dari klan itu kini tengah cemas. Nona muda itu tengah berjalan kesana kemari, tidak tenang.
"Nona muda"ucap suara lirih dari luar kamarnya.
"Cepat, masuk !"sahut nona muda itu cepat.
Seorang pelayan tua tergesah-gesah berjalan masuk kedalam bilik kamar utama milik nona muda kediaman klan duyung.
"Dimana orang itu !!"ucap Lin Qi, gadis itu menekan setiap nada bicara.
"Maaf... maafkan pelayan tuan ini nona muda... orang yang anda maksud sekarang ini tengah mengurus sesuatu disana"sahut pelayan tua itu, perawat basah yang merawat nona muda klan duyung.
"Ini yang tuan itu sampaikan kepada anda nona"ucap perawat basah itu lagi sembari memberikan segulung kecil bambu.
Lin Qi dengan cepat membuka gulungan bambu itu dan mengeluarkan isinya, disana terdapat surat dari sosok yang ia tunggu.
Hening.
"Ayo, cepat kemasi semua barangku, aku harus pergi"ucap Lin Qi.
"Ta..tapi nona, sekarang ini sudah sangat larut"sahut perawat basah itu cemas.
"Ck, cepat lakukan perintahku !!"bentak Lin Qi kasar.
Perawat basah itu dengan cepat melakukan perintah yang sudah diucapkan tuannya, ia dengan tergesah menata semua kebutuhan tuannya itu dan langsung menyerahkan bungkusan berisi barang-barang milik nona utama kediaman duyung.
Kecantikan utama dari dunia atas itu dengan kasar memasukkan barang-barangnya kedalam cincin ruang dimensi kecil miliknya.
Setelah merasa selesai bersiap, ia dengan santai menatap perawat basahnya uang masih berdiri gugup disudut ruang kamarnya.
Ia tersenyum kepada perawat basahnya hingga kedua matanya sedikit melengkung, sedangkan perawat basah tua itu langsung gemetaran hebat, ketakutan saat melihat senyuman milik tuannya.
"Nona, nona, ampuni pelayan tua iniii"ucap perawat basahnya yang memohon belas kasihan kepada tuannya.
"Apakah kau berbuat kesalahan ??"tanya Lin Qi santai, suaranya sedikit melembut dan penuh dengan candu gulali. Siapapun yang mendengar ucapannya akan terpesona, serta menikmati kecantikan yang penuh dengan wajah kelembutan itu.
"Maafkan akuuu... nonaa muda maafkan akuu"ucap pelayan tua itu ketakutan dengan wajah yang bergelimangan air mata, turun dengan deras berusaha memohon belas kasihan dan kesempatan untuk hidup dari tuannya.
"Kau membuat ku muak !!... cih bedebah menjijikan"bentak Lin Qi kesal bercampur jijik saat melihat pelayan tua yang merawatnya dari kecil sedang menarik ujung kain pakaiannya dengan tangan kotor itu.
Apa yang telah ia lakukan sangat berbeda jauh saat nona muda yang terkenal akan kecantikan utama dari dunia atas yang terkenal dengan kelembutan serta berbudi luhur itu saat ia memegang cambuk hitam miliknya, dan dengan cambuk itu ia menjerat leher perawat basahnya. Tanpa ampun mematahkan leher pelayan tua itu.
"Ck, bodoh"desisnya jijik.
"Terlalu bodoh, sekarang aku bukan nona muda kediaman klan ini !! Dasar dungu !!"desisnya lagi marah.
"Aku adalah pewaris sah kediaman klan duyung dan sekarang sudah menjadi pemimpin klan !!... seorang rendah seperti mu berani memanggil pemimpin klan ini dengan nada menjijikan !!.. hukuman mu terlalu ringan"desisnya lagi.
Gadis muda itu langsung pergi keluar dari dalam kediamannya, ia dengan cepat sampai diatas menara busur diujung barat kekaisaran. Lin Qi dengan tajam menatap istana kekaisaran, tatapan penuh kebencian dan dendam itu membara dengan kuat dari dalam dirinya.
"Lihat saja, kehancuran kekaisaran ini akan datang !!... dan sebentar lagi aku akan menjadi permaisuri agung kekaisaran dunia atas"ucap Lin Qi penuh dengan rasa akan keserakahan, begitu pekat.
"Ah, wanita itu juga harus melihat bagaimana permaisuri agung ini naik takhta !!"desisnya lagi penuh rasa benci pada sosok permaisuri agung dunia atas yang tak pernah ditemui oleh orang-orang di kekaisaran
Lin Qi merasa terhina dan juga sangat malu saat tahu bahwa petisi pernikahan yang dibawa oleh ayahnya ditolak mentah-mentah oleh sang kaisar. Lin Qi yang pada awalnya sudah percaya diri bahwa petisi pernikahan yang di bawa ayahnya akan diterima langsung oleh kaisar.
Pada waktu itu, Lin Qi percaya bahwa kecantikan yang ia miliki akan memikat sang kaisar agung hingga pada akhirnya ia ditolak dan banyak nona muda dari kediaman klan lain dengan berani melecehkan dan menghinanya, para nona muda dari kediaman-kediaman klan tinggi juga mengirimi petisi pernikahan untuk sang kaisar agung.
Kacau.
Lin Qi marah, malu dan cemburu.
Ia dengan sadis memerintahkan para pengawalnya untuk menculik para nona muda yang berani mengirim petisi pernikahan untuk kaisar.
Ia menyiksa para nona muda itu dan dengan sadis memerintahkan para pengawalnya untuk menodai para nona muda itu dan membingkai serta menggiring para nona muda pada kematian mereka sendiri.