
Yuan yang kini tengah berada didalam istana kekaisaran menggeram penuh amarah, ia telah memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiap.
Kini, ia duduk diatas kursi takhta kekaisaran dunia atas.
"Long, cari keberadaan pemimpin klan rubah dan harimau, bawa mereka kehadapanku... jika mereka menolak bawa paksa mereka bagaimanapun caranya !!", desis yuan memberikan perintahnya.
Kini, ia telah kekurangan sayapnya.
Bagaimanapun caranya ia harus membuat ketiga mahluk dunia atas itu harus tunduk pada perintahnya....
"Dunia bawah bedebah !!", desis yuan murka.
Ia juga telah memerintahkan prajurit miliknya untuk melemparkan kepala wan yao didepan pintu gerbang kerajaan dunia bawah, peringatan untuk dunia bawah, walaupun mereka akan berperang tapi tetap saja ia sangat muak dengan tingkah licik raja dunia bawah yang berani-beraninya memerintahkan kaki tangannya untuk mengawasi wilayah kekaisaran miliknya.
Tapi sejak kapan ?!!... ia terlalu fokus mencari cara agar xuan dan racun kuno lenyap dari tubuhnya hingga kekacauan terjadi. Dan lagi, ia punya empat jenderal tertinggi, kenapa mereka begitu ceroboh !!!...
.
.
.
.
.
Lembah utara.
So ah terbangun dari tidurnya, ia memandang cahaya lilin yang berpendar redup. Ia tak bisa tidur, pikirannya terus berusaha mengambil keputusan. Ia menghela nafasnya, dan duduk. so ah terlihat frustasi. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari udara segar, so ah berjalan kearah jendela kamar miliknya.
Udara dingin lembah utara masuk kedalamĀ ruangannya, so ah memangku dagunya menatap langit malam.
Sepi.
Tenang.
Ia memejamkan matanya menikmati angin dingin, so ah membuka matanya menatap sembrutan merah, matahari fajar telah terlihat. Ternyata ia tertidur tanpa sadar dan mata malasnya tanpa sengaja melihat siluet zhe ze. Nona muda itu mengawasinya.
"Yang mulia.... apa yang anda lakukann ??!!"pekik rou shi panik saat ia melihat tuannya duduk dengan jendela kamar yang terbuka lebar dibelakangnya dan jangan lupakan hanfu tipis membalut tubuh seringan ranting itu.
Saat so ah menoleh menatap dayangnya dan ia menoleh lagi keberadaan zhe ze menghilang.
Apa yang diinginkan nona muda itu ?, Pikir so ah penasaran.
Apa mungkin karena pertanyaannya tentang gua kristal abadi itu ?, Ia sedikit lebih tidak percaya akan ucapan zhe ze yang mengetahui keberadaan gua kristal abadi. Tapi, ia juga tidak bisa mengabaikan ucapan zhe ze karena mungkin saja nona muda itu mengetahuinya karena zhe ze mahluk immortal dari dunia atas.
Kenapa begitu abu-abu ??, pikir so ah lagi.
"Yang mulia ??"
"Yang mu.....lia ???"
"Yanggg muliaaaa ????", panggil rou shi pada tuannya.
Ia melihat mata kosong so ah yang terlihat memikirkan sesuatu. Apakah mungkin tuannya ini percaya pada burung busuk itu ??, pikir rou shi panik.
Ia pernah mendengar tentang gua abadi itu, tapi ia tidak ingat lagi apa yang ia dengar waktu itu. Firasatnya mengatakan tidak akan ada hal baik jika mereka keluar dari lembah ini, karena ia tahu bahwa tempat yang paling aman setelah tempat suci kekaisaran dunia atas adalah lembah utara ini.
So ah terseret bangun dari lamunannya, ia seperti sedikit bingung.
"Ah.. maaf aku mengabaikan mu", ucap so ah lembut.
"Tidakk... tidak yang mulia... hamba bersalah... anda anda ah tidak yang mulia ukh maafkan dayang bodoh ini yang mulia karena mengganggu ketenangan yang mulia permasuri", ucap rou shi cepat.
So ah tersenyum lembut pada dayangnya ini yang kadang bersifat kekanakan dan kadang dewasa ini.
"Tidak apa-apa, apakah akan merepotkan jika aku memerintahkanmu untuk berkemas"ucap so ah.
Rou shi terdiam mendengar ucapan tuannya.
"Anda akan pergi kemana yang mulia ??", tanya rou shi hati-hati.
Rou shi terdiam lagi.
"Yang mulia permaisuri, anda tidak boleh pergi dari lembah ini... diluar sangat berbahaya", sahut rou shi mulao cemas.
"Kita harus menunggu weida de baohu long dai yang mungkin saja mengetahui tempat itu", ucap rou shi lagi.
"Tidak bisa, jika menunggu dai luan ge mungkin akan lama, aku tak bisa berdiam diri disini seakan tidak terjadi apa-apa diluar sana", ucap so ah pada rou shi.
"Dan lagi, jika dirimu memanggilku sebagai seorang permaisuri bukankah ada tanggung jawab besar dibahuku untuk melindungi rakyatku", ucap so ah lembut.
Rou shi tersentak kaget mendengar ucapan lembut dari tuannya yang terdengar sangat tegas ditelinganya, ia merasa kaisar agung telah memilih sosok permaisuri sebagai pendamping sempurna walaupun permaisuri adalah seorang manusia fana, ia tetap menghormati sosok dihadapannya kini. Kembali, ia bersumpah demi nyawanya untuk melindungi tuannya ini bagaimanapun caranya.
Akhirnya, rou shi memilih untuk patuh pada perintah so ah. Ia mengemas barang-barang yang akan mereka butuhkan nanti kedalam ruang dimensi kecil miliknya.
Zhe ze terlihat puas saat melihat dayang dari nyonya manusia fana mantan permaisuri dunia atas itu terlihat sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka.
Sedangkan itu, bingbing yang bangun pertama menatap penuh heran kearah pintu gua yang telah suaminya segel dengan kubah pelindung sekaligus pengecoh. Dari dalam kubah transparan ia melihat ribuan tidak mungkin jutaan serangga hitam telah menempel penuh di luar kubah.
Apa-apa ini ??!!!...., jantung bingbing mulai berdegub merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Hui dan yi yang bangun secara bersamaan melihat bingbing yang berdiri mematung didepan pintu keluar gua, langsung bergegas berjalan kesamping bingbing.
"Apa ini ??", ucap hui tak percaya.
".....", yi diam, jika apa yang ia pikirkan benar. Kini mereka dalam bahaya besar !!..
"Kita harus mencari jalan keluar lain dari gua ini", ucap yi.
"Apakah aku perlu mengebor hingga kedasar gua ??", tanya hui cepat.
"Tidak !!... kau gila !!", desis bingbing.
"Itu cara tercepat yang bisa kita lakukan", sahut hui.
"Itu memang cara paling cepat untuk kita bisa keluar dari situasi ini, tapi apakah kai berfikir sosok yang kini tengah bermain dengan kita tidak memikirkan hal itu juga ?", tanya yi pada hui.
"Dan jika kita menghabiskan energi spiritual bukankah akan lebih mengerikan lagi !", ucap yi.
Hui terdiam.
"Aku merasa, aku pernah merasakan hal semacam ini dimasa lalu", ucap bingbing tiba-tiba.
"Apa maksudmu ??", tanya hui.
"Suami, apakah kau ingat dulu ketika kita bermain... permainan apa yang sering kita lakukan untuk mengasah kemampuan kita ??", tanya bingbing.
"Jebakan serangga !!", desis yi.
"Aku tau siapa dalangnya", ucap yi lagi.
"Salah satu dari kita yang paling licin dalam permainan itu hanyalah cheng rou dan kau pikir cheng rou bergabung dengan dunia bawah ?!", ucap hui seakan tak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Apa yang kau katakan itu benar, mau tidak mau satu cara itu yang harus kita lakukan", desis yi.
"Hmmmm", cheng rou kini melihat serangga miliknya yang berada diujung jarinya dengan pandangan bosa.
"Kenapa ikan ku tidak keluar", desisnya bosan.
"kalian kelaparan bukan ?", tanya cheng rou lagi.
"Tidak... tidak", ucapnya.
"Tunggu sebentar lagi mungkin ikan besar akan masuk kedalam jaring kita", desisnya lagi sembari terkekeh, hingga ia melihat seekor burung hitam terbang kearahnya.
"Yang mulia ??", pikir cheng rou.
Ia langsung berlutut memberikan salamnya kepada burung itu dan kemudian ia mengangkat matanya menatap mata burung hitam dihadapannya yang di detik berikutnya matanya sedikit terbuka.