
Siapa yang sedih ??
Air mata panas dipipiku terasa begitu panas hangat dan nyata, ini sangat menyakitkan.
So ah terpaku, terdiam melihat sosok lain dihadapannya itu.
Wanita dengan kecantikan bulan keindahan surgawi memancar agung dengan pahatan sempurna, anggun dan berharga diseluruh sudut tubuhnya yang ramping mungil semampai itu. wanita itu menitikkan air matanya yang kemudian ia hapus sendiri dengan jemari lentiknya.
"Fuqin, kenapa ??"tanya sosok itu pada jenderal yang telah membawa tubuh xuan.
"fuqin, ada apa dengan huan di ??"tanya sosok itu yang mulai cemas dan khawatir.
*Huan di \= kaisar
*Fuqin \= ayah
*Muqin \= ibu
"Tenangkan dirimu, yue'er"ucap sosok lain dibelakang wanita yang mirip dengan so ah itu.
"Muqin, huan di"isak sosok itu dengan mimik yang wajah yang menahan air matanya, hingga terlihat matanya yang basah dan juga hidung serta pipinya yang memerah menyedihkan.
"Cepat atau lambat hal ini akan terjadi"ucap jenderal itu.
"Fuqin, sebagai seorang jenderal jiang agung, mengapa fuqin tidak menyelamatkan huang di terlebih dahulu"ucap wanita yang serupa dengan so ah pada lelaki yang ia panggil sebagai ayahnya itu.
"Jiang zhi yue !!"ucap tegas sosok wanita dibelakangnya mulai menyadarkan wanita itu.
"Muqin"ucap sesak zhi yue menahan air matanya, hidungnya telah memerah dan matanya terasa panas begitupun dengan kondisi so ah kini yang masih terpaku diam ditempatnya.
Apa maksudnya ini ??...
Memori apa ini ??, pikir so ah mulai terisak merasakan kesedihan menekan hatinya, ia ikut merasakan emosi yang sama dari wanita itu.
Zhi yue, kenapa nama itu begitu familiar terdengar ditelingaku ??... so ah berusaha mengingat memori masa kecilnya yang secara otomasi ia kembali mengingat masa lalunya yang harus tersiksa disudut lain kediaman lu.
Mata so ah terbelalak tak percaya saat satu kalimat mama wei terlintas dimemorinya karena dulu Yu xe pernah marah besar kepada ayah mereka saat mengetahui nama lahir so ah terdengar sangat indah.
Zhi Yue, nama yang artinya sebagai kecantikan dari bulan surgawi harus dibawa oleh seorang wanita buruk rupa dengan nasib pembawa sial yang sama saja menghina seluruh kediaman Lu.
So ah ingat semenjak itu kehebohan besar terjadi didalam kediaman Lu dan pada akhirnya, namanya diganti tapi tidak dengan nama yang telah tertulis di batu silsilah keluarga yang tak bisa lagi dihancurkan melainkan atas perintah selir An nama asli so ah ditempel dengan kertas kuning agar seluruh kediaman tidak terkena sial.
Kertas kuning, bukankah itu untuk mendoakan kematiannya ?
Hening.
Hanya tersisa mereka bertiga.
So ah berjalan mendekati peti dimana tubuh xuan berada, disisi lain peti itu terlihat zhi yue yang menyandarkan kepalanya menatap wajah xuan.
"Apakah huan di lelah ??"tanya zhi yue secara tiba-tiba dengan suara seraknya menahan air mata.
So ah tersentak kaget, disuara itu terdengar kesedihan yang dalam.
"Aku juga lelah huan di"ucap zhi yue lagi.
Xuan masih diam tak menjawab ucapan zhi yue.
"Apakah huan di ingin mendengarkan puisi ku ??"tanya zhi yue lagi.
Hening, tak ada sahutan dari xuan.
"Satu pohon bunga persik menyimpan cermin sungai bayangan keabadian, jatuh ke dunia fana dalam kerinduan, bulan datang"ucap zhi yue lembut.
Tapi, masih tetap hening.
"bahkan jika roda waktu pergi dan berjalan, aku akan menunggumu dalam tiga kehidupan"bisik zhi yue lagi.
Hari-hari terus berlalu, dan so ah masih berdiri terdiam karena waktu di tempat ini berjalan sangat cepat hingga ia berada di satu ruangan asing. ia bisa merasakan tubuh zhi yue semakin melemah, tapi wanita itu tetap menemani xuan.
"Suami, apakah kita harus membiarkan hal ini terjadi ??"tanya wanita dengan fitur wajah yang hampir mirip dengan zhi yue.
"Apa yang harus kita lakukan, istriku ??"tanya jenderal jiang yang terlihat frustasi.
"Haruskah kita selamanya bersembunyi seperti serangga ditempat ini ?!"ucap istri jenderal jiang.
Ia perlahan menenangkan dirinya sendiri, dan menatap lembut kearah istrinya itu.
"Aku tak ingin mengorbankan dirimu dan putri kecil kita, tolong dengarkan aku"ucap jenderal jiang.
"Lantas, apakah dengan seperti ini kita bisa melihat yue'er bahagia ??!"tanya istri jenderal jiang, Lin Fu Yue.
"Kau tidak melihat bagaimana semakin hari, yue'er semakin tersiksa !! huandi semakin melemah begitu juga dengan harta berharga kita"ucap Fu Yue yang sebagai seorang ibu tergores hatinya saat melihat kondisi harta berberharganya harus mengalami bencana benang merah kehidupannya. Setiap hari, ia selalu melihat bagaimana putri kecilnya, zhi yue datang kesamping peti yang berisi tubuh weida de tianghuang.
Tidak mati, tidak juga hidup. Itu juga yang dirasakan zhi yue.
"Suami, kau ingin pergi kemana ??"tanya fu yue pada suaminya yang kini tengah berjalan pergi.
"Jiang zhi xiaoye, kemana kau ingin pergi !!!"ucap fu yue mulai panik.
"Aku akan berkorban demi kalian"ucap jenderal zhi sembari tersenyum lembut.
"Bodoh, hiks... apakah kau ingin melepaskan belahan jiwamu ini ??"tanya fu yue pada jenderal jiang, suaminya.
"Tidak, jangan putuskan ikatan kita, aku akan mati mengikutimu setelahnya"ucap fu yue tegas.
"Gunakan darahku"ucap fu yue lagi pada jiang zhi. wanita yang masih menunjukkan kecantikan keabadian itu menggenggam tangan suaminya.
"Kau tak bercanda kan !!"ucap jenderal jiang kaget.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan ?.. jiwa weida de tianghuang telah ia pisahkan sendiri, bukankah ia terlalu kejam pada dirinya sendiri dan putri kecil kita, belahan jiwanya sendiri... dia terlalu dingin"ucap fu yue yang didalam nada suaranya terdengar kesal.
"Bagaimanapun takdir mereka terlalu jelas dan kejam, jika bukan karena keserakahan para mahluk bajingan itu hal seperti ini takkan terjadi"lanjut fu yue lagi menghela nafas berat.
"Dimana naga pelindung itu ??"tanya fu yue.
"Dia ??.. bocah itu mungkin sekarang tengah tertidur panjang, sangat jarang melihatnya begitu tenang"ucap jenderal jiang tertawa.
Hening.
So ah merasakan ada firasat aneh didalam sudut hatinya, ia merasakan hatinya dipenuhi kerinduan dan secara bersamaan hancur berkeping saat melihat wajah kedua sosok dihadapannya ini.
Ada rasa bahagia, sedih dan banyak emosi lainnya yang terasa aneh baginya.
"Kita akan menyegel tempat ini"ucap fu yue pada suaminya.
"Benar"sahut jenderal jiang tersenyum lembut pada istrinya.
Gelap.
Segala sesuatu menjadi gelap.
Apa yang terjadi ??!!...
So ah gelisah dalam tidurnya, ia sangat gelisah dan berkeringat dingin.
Rou shi yang tengah dalam pelarian mereka melihat kondisi tuannya tak stabil berusaha sekuat tenaga membuat tempat yang nyaman bagi tuannya.
"Aku harus kemana ?!"pikir rou shi yang tak terbiasa dengan dunia manusia.
"Ahh... iya benar"ucapnya kemudian.
Ia langsung melesat pergi kearah utara, hingga ia sampai di sebuah gunung penuh dengan butiran-butiran kecil dingin salju.
Gunung yang sebagian besar diselimuti salju putih dingin tak membuat roh tumbuhan seperti rou shi tersiksa tapi sebaliknya ia langsung segar kembali karena udara sejuk yang menerpa tubuhnya.
Ia kembali mengeratkan dan menambah banyak sulur tanaman disekitar tubuh so ah, ia membuatnya agar tubuh tuannya tetap hangat dan tidak kotor terkena salju.
Rou shi dengan cepat naik keatas puncak gunung salju dihadapannya ini, dan matanya langsung bersinar gembira saat melihat tempat yang ia tuju belum tersentuh tangan asing.
Weida de tianghuang memang yang terbaik, pikir rou shi bangga pada kaisar agungnya itu saat ia melihat tempat yang ia tuju masih sama seperti ribuan tahun yang lalu.
Atau mungkin gunung ini tak terlihat oleh luar karena kekuatan weida de tianghuang ??..., pikir rou shi merinding.
Tapi, itu mungkin saja benar dan dengan begitu takkan ada yang bisa menemukan kami untuk beberapa waktu kedepan, pikir rou shi lagi.
Ia dengan cepat masuk kedalam gua tersembunyi yang berada di puncak gunung salju itu dan menghilang diantara tumpukan lebat salju.