
So ah yang ada didalam salah satu bilik dilantai dua yang dipersiapkan khusus untuk para tamu terhormat itu duduk dalam diam memandang keluar jendela.
"Nyonya, apa yang anda butuhkan ??"tanya wanita yang ia ketahui namanya adalah Xi Mei.
"Apakah ada pakaian baru disini ?... aku ingin membersihkan diri"ucap so ah.
"Ahh... anda bisa langsung membersihkan diri anda nyonya"ucap Xi Mei yang membawa so ah menuju pemandian khusus.
Saat so ah mandi, xi mei memerintahkan semua pelayannya untuk menyajikan makanan hangat dan pakaian berkualitas standar, Ia kemudian berjalan masuk kedalam bilik lagi menunggu so ah.
So ah yang berada didalam sebuah kolam dengan mata air panas disana duduk diam dipinggir kolam.
Ia melihat air disekelilingnya yang berubah warna menjadi sedikit keruh takkala ia memasukkan kedua kakinya. Ketika ia membuka pakaiannya, Ia baru menyadari bahwa seluruh permukaan kulitnya berlapiskan debu dan tanah.
"Sangat kotor"pikir so ah.
"Tapi wajar, beberapa minggu terakhir ini aku mandi dengan tidak benar"batinnya lagi sedikit merasa risih.
So ah perlahan memasukkan seluruh tubuhnya kedalam air dan dengan lembut menggosok semua bagian ditubuhnya.
Aroma segar mewangian bunga memenuhi setiap sudut pemandian itu, rasa segar dan nyaman yang ia rasakan saat tubuhnya bersender dibebatuan sedikit merilekskan pikirannya.
"Akhh..."desis so ah takkala rasa sakit mulai menghantam perutnya lagi.
Ia menyenderkan tubuhnya didinding pinggir pemandian dan mengelus perutnya dengan lembut, luka yang ia dapatkan memang sudah mengering dan hanya meninggalkan bekas luka goresan dari perut hingga ke pinggang kanan so ah.
Ia mempercepat mandinya dan langsung memakai pakaian yang sudah dipersiapkan pelayan rumah penggadaian ini.
Pakaian berwarna hijau itu walaupun terlihat kebesaran membalut tubuhnya yang sudah berbadan dua hingga sedikit menyamarkan perutnya yang buncit itu, kemudian ia mengambil cadar hijau tipis yang sudah dipersiapkan langsung untuknya. Walau bahan pakaian ini masih kalah jauh dengan pakaiannya sehari-hari, dirinya tetap mensyukurinya setidaknya untuk saat ini nasib baik masih berpihak padanya.
Rambut panjang yang masih basah so ah keringkan perlahan dengan kain yang sudah di persiapkan para pelayan. Dengan rambut setengah basah dan cadar yang sudah ia pakai, so ah berjalan keluar menuju kebiliknya lagi.
Hanfu hijau yang menjuntai panjang terlihat bergerak dengan halus diiringi langkahnya yang lembut menuju kedalam bilik dimana xi mei berada.
Xi mei yang kaget melihat seorang wanita asing masuk kedalam bilik milik tuannya yang baru tersentak kaget dan jika bukan cadar serta pakaian yang ia pilihkan mungkin ia takkan bisa mengira bahwa wanita didepannya ini adalah wanita yang sama saat ia temui dibawah tadi.
Bagaimana tidak, kulit putih pucat yang terlihat selembut tahu dan berkilau dengan rambut panjang sehitam tinta yang hampir menyentuh lantai serta setengah wajah tertutupi cadar hijau membuat aura wanita didepannya ini terlihat misterius dan anggun secara bersamaan, mungkin jika dirinya laki-laki ia akan jatuh cinta pada wanita didepannya yang sudah menjadi tuannya itu.
"Xi Mei ?"panggil so ah lembut.
"Ah.. ap..apa ??"tanya xi mei kaget.
"Kau kenapa ??"tanya so ah setengah bercanda.
"Hahaha maafkan... maafkan aku nyonya... anda terlihat sangat anggun"ucap xi mei.
"Berapa umurmu ??"tanya so ah.
"Hahaha kenapa kau malu-malu mei er..."goda so ah, ia tertawa melihat ekspresi xi mei yang mukanya memerah malu. Ya itu wajar jika gadis muda didepannya ini malu-malu sebab di umurnya yang sudah siap untuk menikah sepertinya gadis muda itu belum mempunyai seorang pasangan.
"Mei er ?"tanya xi mei bingung.
"Ya... tidak apa-apa kan ??.. kau bisa memanggilku jiejie karena kau juga dermawanku"ucap so ah tersenyum lembut dari balik cadarnya, walaupun tak terlihat xi mei bisa melihat lengkungan mata yang terlihat anggun.
So ah yang melihat tingkah ekspresif yang tidak bisa ditebak dari wajah gadis muda didepannya ini merasa sedikit terhibur, ia tertawa dengan anggun disisi lain xi mei terpana mendengar tawa merdu yang tepat didengar telinganya lagi.
"Panggil saja, so ah jie atau jiejie saja tidak apa-apa"ucap so ah lembut.
Xi mei merasa terharu, walau mereka berdua baru beberapa jam kenal satu sama lain tetapi ia merasa sangat dihargai oleh wanita didepannya ini.
Xi mei menjelaskan kepada so ah bahwa dirinya adalah seorang pewaris rumah penggadaian dari keluarganya, ayahnya sebagai seorang pedagang yang terkenal diseluruh pelosok kerajaan dan karena kejujuran ayahnya dalam menjual dan memasok barang-barang makanan kepada para pelanggan mereka hingga terdengar oleh raja dan keluarga mereka menjadi pemasok utama barang-barang bagi kerajaan.
Setelah menghabiskan waktu dua batang dupa akhirnya so ah tau bahwa gadis muda didepannya ini yang menolongnya waktu itu, awalnya so ah sangat terkejut mendengarnya seakan seperti tidak nyata untuknya.
"Kenapa kau berlari tergesah-gesah waktu itu ??"tanya so ah lembut.
"Hahaha aku dikejar gerombolan anjing liar jiejie"jawab xi mei santai.
"Anjing liar ??.. para prajurit kerajaan ??"tanya so ah lagi.
"Ya..."jawab xi mei sembari menghindari tatapan dari so ah.
So ah yang merasa gadis muda didepannya ini enggan untuk bercerita lebih jauh mengenai masalah privasinya sendiri itu memilih untuk diam dan tak bertanya lagi, ia lebih memilih untuk menakan kudapan-kudapan yang sudah disiapkan xi mei untuknya.
"Mei er, apakah kau tau beberapa tabib yang terkenal di kerajaan ini ??"tanya so ah kemudian.
"Apakah jiejie sakit ?"tanya xi mei kepada so ah, ia melihat bahwa beberapa bagian kulit wanita didepannya ini yang terekspos terlihat sangat pucat.
"Apakah jiejie merasakan sakit ??"tanya xi mei sekali lagi.
"Hahaha aku... aku tidak apa-apa, hanya saja aku ingin memeriksakan keadaan kandunganku saja mei er"ucap so ah lembut sembari mengelus perutnya.
Setelah sedikit berbincang lebih lama akhirnya xi mei mengundurkan dirinya dan pergi mengantarkan so ah ke ruangan lainnya untuk beristirahat.
Ruangan yang terlihat tidak besar dan juga tidak sempit itu membuat so ah dengan cepat menyesuaikan kondisi disekitarnya.
Ia duduk pelan di kursi yang berada tepat di sebelah jendela besar yang sudah ia buka, angin malam dingin perlahan masuk kedalam ruangannya.
Ia menatap lama bulan sabit yang ada diatas langit dengan ribuan bintang cerah disana, ia memperhatikan cukup lama hingga akhirnya mengalihkan pandangannya kearah bawah dimana jalanan masih saja ramai dengan banyak para pejalan kaki dan kereta kuda yang berlalu lalang.
Para pedagang masih terus menjajakan dagangannya dengan semangat, meminta banyak pelanggan yang sedang berjalan kaki untuk membeli dagangan mereka.
"Apakah aku bisa hidup normal seperti mereka ??"tanya so ah dalam hatinya ketika ia melihat sepasang suami istri yang suaminya sedang menuntun sang istri yang tengah hamil besar itu membeli beberapa manisan dipinggir jalan, matanya berkilat sedih ketika kedua pasangan itu diliputi kasih sayang satu sama lain lalu kemudian ia hanya bisa tersenyum hambar dan berusaha menghibur dirinya sendiri dengan mengelus lembut perutnya.