The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 160



Lin Qi yang kini tengah menunggu kehadiran sosok yang memberikannya surat rahasia tentang peringatan bahaya karena pasukan dari kekaisaran akan datang membasmi para anggota klannya termasuk dirinya sendiri.


Lin qi yang tersulut emosi juga dari surat itu mengetahui kebenaran bahwa inti spiritual ayahnya diambil oleh kaisar agung, merasa bahwa hal yang kaisar agung lakukan sudah di luar batas dan ia harus membalaskan dendam ayahnya.


"Akan aku buat kaisar itu memohon dibawah kaki ku !!!", pikir lin qi penuh dendam.


"Aku juga akan membuat seluruh mahluk yang menghinaku dihukum dan disiksa tanpa terkecuali !!... lihat saja nanti !!" desisnya lagi penuh dengan rencana berbisa.


Saat malam hari tiba, pelayan tua yang membawanya masuk kedalam ruangan ini datang mengetuk pintu.


"Katakan", ucap Lin Qi arogan.


"Tuan sudah menunggu anda nona", ucap pelayan tua itu sopan.


"Tunjukkan dimana tempatnya"sahut lin qi cepat.


Ia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan sosok yang sudah menjadi sekutu sekaligus sosok yang membantunya itu.


Lorong-lorong gelap dan kedipan samar lilin disisi kanan kiri dinding lorong hanya terlihat menjadi pemandangan samar sejauh matanya melihat. Mereka menuruni sebuah ruangan dan terlihat tangga melengkung yang jauh tertanam di bawah tanah, Ia hanya bisa melihat bayangannya saja yang tengah berjalan melewati satu demi satu lorong bawah tanah ini.


"Dimana tuanmu ?!"tanya lin qi kesal.


Sedari tadi mereka hanya terus berjalan, seakan tak akan berhenti, dan lagi jalan yang mereka lewati sungguh berliku melewati lorong-lorong gelap yang sama antara satu dengan yang lain.


"Sebentar lagi kita akan sampai nona"ucap pelayan tua itu, masih memimpin jalan.


Lin qi mendengus kesal.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di ujung lorong, yang tersisa hanya lorong bintu didepan mereka.


"Apa lagi ini"decak lin qi kesal melihat bahwa kemungkinan besar mereka tersesat.


Pelayan tua itu hanya diam dan tangan tuanya itu menekan titik tengah dinding didepan mereka. Terdengar gemuruh ringan saat dinding-dinding itu terpecah menjadi dua bagian, menunjukkan sisi lain tempat ini.


"Silahkan nona"ucap pelayan tua itu sopan.


Lin qi dengan angkuh langsung masuk kedalam ruang lain didepannya itu, ia berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang.


Lelaki tua yang menjadi seorang pelayan itu diam menatap punggung nona muda dari klan duyung dengan pandangan datar, perlahan kulit-kulit keriput tuanya mengelupas dan menampilkan sosok lain yang berwajah lebih muda.


Lelaki itu menatap datar tempat dimana lin qi menghilang kembali tertutup dinding dan kemudian berjalan kearah dimana mereka memasuki ruangan ini.


Lin qi terus berjalan lurus sesuai dengan petunjuk dari pelayan tua yang membawanya itu, hingga sampai di sebuah pintu besar dengan ukiran megah.


"Siapa orang ini"pikir lin qi.


Ia dengan santai membuka pintu besar didepannya ini, dan saat pintu terbuka matanya terbelalak.


Ia langsung waspada dan mengeluarkan cambuknya.


Didepannya atau lebih tepatnya ditengah ruangan yang serba gelap ini terdapat satu bilik dengan untai kain hitam. Sulur-sulur hitam tanaman merambat pun sangat berbeda jauh akan kesan pintu megah yang telah ia buka tadi, ia berfikir bahwa isi dari ruangan ini adalah kemewahan tapi sangat berbeda jauh dengan apa yang ia pikirkan.


Hening.


Lin qi merasakan tekanan dan ancaman yang sangat berbahaya didepannya, lebih tepatnya di bilik itu.


Perlahan lin qi mendekati bilik itu, dan saat ia mencabuk kain hitam itu, ia sedikit menurunkan kewaspadaannya.


kosong.


Tak ada apapun didalam bilik itu, tapi sebelum ia bisa mencerna segala sesuatu. Sebuah pedang tajam menembus perutnya.


"Kekekekeke", tawa mengerikan terdengar dari belakang kepalanya.


"Akh..."desis lin qi kesakitan.


"Sii..siapa.. ka..kkau", desis lin qi penuh ancaman.


Ia dengan cepat mencabut dirinya sendiri dari pedang yang menembusnya itu dan pergi mengambil jarak jauh dari sosok yang menyerangnya.


Saat ia mencabut paksa tubuhnya dari pedang yang menancap diperutnya, genang darahnya menetes dilantai.


"Hahahaha bagus, terus berlari"desis suara itu lagi.


Sosok berjubah hitam itu tertawa bahagia saat melihat darah lin qi yang menetes dengan deras karena luka yang telah ia buat di perut gadis itu.


Ia mengangkat pedangnya, dan menjilat darah milik lin qi.


"Hahaha benar benar klan duyung murni"desis sosok misterius itu bahagia.


Disisi lain, lin qi mendengar semua yang dikatakan sosok misterius didepannya itu. Ia menggenggam erat cambuknya, menatap waspada musuh didepannya.


"Apa yang kau inginkan !"desis lin qi tajam.


"Hmm... apa itu", tanya sosok itu yang balik mempertanyakan pertanyaannya.


Sosok itu menarik santai bekas genangan darah lin qi dengan menyeret pedangnya ia berjalan mengelilingi ruangan itu, lin qi sangat waspada memperhatikan sosok aneh itu. Saat merasa sosok aneh itu lengah karena menarik pedang dengan darahnya sendiri dilantai, lin qi dengan tajam mencambukkan cambuknya ke tubuh sosok misterius itu.


Crakk....


Crakkk...


Bummm...


Suara benturan keras terdengar, dan hentakan debu menyeruak keluar memenuhi tempat dimana lin qi mencambukkan cambuknya pada sosok didepannya itu.


"Ck, pakaian cantik ku", desis sosok itu kesal.


Sosok itu menatap tajam lin qi, dan dengan gesit sosok itu menarik pedangnya kearah lin qi.


Pedang yang menghunus tajam membuat cambuk milik lin qi kewalahan hingga gadis itu mengeluarkan tombaknya.


"Hooo.... senjata klan"desis sosok itu dari balik tudung jubaunya.


Lin qi menatap waspada sosok itu, ia berani bertaruh bahwa sosok didepannya ini takkan bisa menang melawan senjata klannya.


Pedang dan tombak saling berdenting, mengadu satu sama lain dengan kekuatan spiritual senjata tuan mereka.


"Couughhh..."


"Coughh... ukhh"


"Urggh", desis lin qi merasakan kesakitan pada bagian tubuh yang tertusuk pedang milik sosok misterius itu.


Panas, dan ia merasa perutnya seakan diobrak-abrik oleh sesuatu hingga ia memuntahkan banyak darah dari mulutnya.


"Aaghh"desis lin qi, jatuh terduduk.


"Apa yang kau lakukan ??"tanya sosok lain disudut tempat ini.


Lim qi menatap tajam sosok itu, ia tetap harus waspada.


"Ck, sangat tidak seru"desis sosok itu lagi dengan suara bosan.


Sosok itu menarik pedangnya dan memegang penuh senjata itu, ia dengan santai melawan tombak spiritual milk lin qi yang kondisinya juga sama seperti pemiliknya.


Sekarat.


Sosok itu tertawa senang saat lin qi memuntahkan lebih banyak darah.


"Ayoo... keluarkan semuanyaa hahahahahah"ucap sosok itu tertawa gila.


Lim qi sedikit mengernyit dalam kesakitannya saat ia mendengar ucapan mahluk didepannya ini. Tapi, terlambat untuk mengetahuinya saat ia menatap darahnya yang keluar sangat banyak hingga menetes dan membasahi beberapa sudut lantai.


Genangan darahnya mengalir perlahan dan membentuk sebuah lingkaran yang berpusat ditengah-tengah ruangan itu.


"Baguss... hahahaha lebih banyak lagiii"ucap sosok itu bahagia.


Ia dengan tajam memotong tombak lin qi.


"Ohokkk... coouughhh..."


"Aghh"


Lin qi mengeluarkan lebih banyak darah dari dalam perut dan mulutnya.


Apa yang tengah terjadi ?!!..


Apa yang akan dilakukan mahluk itu dengan darahnya...


Tidak, jangan bilang bahwa itu...


Mata lin qi spontan langsung terbelalak ngeri sekaligus putus asa saat melihat sosok asli dari balik jubah itu, terlihat sangat menjijikan hingga ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.


"weida de tianghuang, aku merindukanmu"desis sosok misterius itu, suaranya yang tertawa gila memenuhi seluruh isi ruangan itu.