The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 117



Xuan merengkuh tubuh so ah, ia dengan cepat menggunakan qinggongnya beserta so ah yang ada di gendongannya.


"Apa yang terjadi ??"bisik so ah pada xuan. Saat ini mereka berada di atap rumah dan saat ia melihat kebawah matanya langsung terbelalak karena semua pintu untuk keluar dari dalam penginapan itu dikunci rapat oleh para prajurit.


"Berpeganglah erat... kita akan melarikan diri"ucap xuan cepat.


Ia bisa mendengar semua percakapan pangeran huang dengan sosok yang dipanggil penatua suci. Percakapan mereka yang penuh makna itu sudah lebih dari cukup membuat xuan yakin bahwa penatua suci itu berasal dari dunia bawah. Jika mahluk itu sampai tahu bahwa ada orang lain disini yang mengetahui keberadaan bawahan raja dunia bawah, mungkin mahluk itu akan memusnahkan dirinya dan so ah tapi bukan hal itu yang ia takutkan, ia tak ingin membuat kondisi so ah yang tadinya mulai membaik menjadi teringat kembali dengan kejadian buruk. Dan lagi ada monster kecil yang mengikuti mereka.


"Pangeran itu yang membunuh orang-orang desa dan para pedagang"ucap so ah lirih.


Xuan langsung menghentikan pelariannya saat mendengar suara so ah yang begitu lirih dan tercekat menahan air matanya.


"Menangislah, tidak apa-apa"jawab xuan lembut.


"Jika bukan karena aku mungkin nenek dan orang-orang desa dari wilayah kerajaan dibagian selatan takkan mati terbunuh dan mereka juga takkan dikorban... aku aku juga yang menyebabkan para pedagang itu mati terutama seorang gadis kecil yang menolongku... gadis itu mati dengan mengenaskan demi menyelamatkan diriku dari kejaran orang-orang itu... gadis itu hiks aku hiks aku ketakutan... mereka yang melindungiku semuanya pergi hiks xuan xuan apakah kau akan meninggalkanku dan anak-anak ini ??... "ucap so ah yang air matanya tak bisa lagi ia tahan, bahu wanita itu gemetaran hebat.


Perlahan xuan menurunkan so ah, ia memeluk lembut tubuh istrinya itu dan mengelus bahu so ah, ia berusaha menenangkan so ah.


"Lihat aku... lihat mataku !!... apakah kau pikir aku akan meninggalkanmu ?"ucap xuan pada so ah, ia memegang kedua sisi kepala so ah dan mendongakkannya.


Mata so ah yang berair penuh dengan lelehan air mata bisa melihat samar-samar bahwa lelaki didepannya ini menatap serius tepat mengujam sampai kehatinya.


Xuan yang kesal melihat so ah menangis sembari menggigit bibirnya sendiri yang mungkin saja akan terluka dan berdarah, ia langsung mencium lembut bibir so ah dan benar saja ia bisa merasakan rasa besi yang sedikit mulai mengalir. Rasa manis dari darah so ah yang sedikit ia rasakan membawa sesuatu yang istimewa, mungkin saja ada hal lain yang belum ia ketahui dari istrinya ini.


"Sekarang, pikirkan anak-anak kita dan jangan pikirkan yang lain... pegang erat-erat bahuku"ucap xuan pada so ah.


Xuan yang memang menguasai seni bela diri manusia bisa dengan mudah menggunakan qinggong yang bisa meringankan tubuhnya dan mempermudah dirinya untuk melompat dari satu rumah kerumah yang lainnya. Setidaknya dengan begini, tak akan ada yang curiga dengan keberadaan mereka berdua, ia juga bisa dengan mudah menghindari mahluk menjijikan dari dunia bawah, apalagi monster menjijikan yang mulai merayap dengan cepat hampir mendekati mereka ini. Ia bisa saja menebas mahluk itu tapi hal itu lebih beresiko daripada yang lainnya.


Ia masih harus bersembunyi didalam bayang-bayang gelap.


Xuan tau dari kekuatan spiritual yang sedikit merembes keluar dari dalam ruangan yang mereka masuki itu bahwa mungkin saja kekuatan penatua suci itu berada diposisi yang hampir sama dengan para pemimpin klan di dunia atas tapi ia tak bisa mengukur sejauh mana kekuatan mahluk itu untuk bisa menyamai kekuatan keempat pemimpin klan besar tertinggi dunia atas tapi berbeda lain jika yang mahluk itu hadapi dibawah keempat pemimpin klan, ada kemungkinan pemimpin klan itu mati ditangan mahluk dunia bawah ini. Aura sulur hitam yang keluar dari dalam tanah juga bisa xuan rasakan dan itu terasa sangat familiar baginya. Ia hanya tertawa sinis ketika sebuah ingatan melintas dengan cepat didalam pikirannya.


"Sungguh picik"puji xuan, ia diam-diam tertawa gila didalam pikirannya saat tau kekuatan apa yang digunakan para mahluk dunia bawah.


Xuan yang melihat ada sebuah celah kecil kosong langsung turun kebawah.


"Pakailah tudung jubah ini"ucap xuan sembari memakaikan tudung jubahnya dikepala so ah.


"Aku tak ingin istri kecilku ini terluka jadi bisakah dirimu menuruti semua perkataanku ?? Tak akan lama hanya beberapa saat saja"ucap xuan lembut.


So ah hanya mengangguk menuruti perkataan xuan, tangannya yang digenggam erat oleh tangan besar yang melingkupi seluruh tangannya itu terasa hangat dan ia juga bisa merasakan tangannya yang mulai berkeringat dingin.


Saat mereka berdua sudah berbaur dengan banyaknya orang-orang dijalanan pusat kerajaan timur, so ah bisa merasakan banyak para pedagang dan orang-orang mulai berkumpul menjadi satu kelompok dan mereka mulai mendiskusikan sesuatu dengan panasnya, so ah mendengarkan perkataan orang-orang itu dan ia langsung tersentak kaget mendengarnya.


"Jangan dengarkan lagi"bisik xuan, lelaki itu merapatkan tubuh so ah kearahnya dan berusaha melindungi tubuh mungil istrinya dari sentuhan manusia-manusia lain yang juga berjalan dijalanan pusat kerajaan.


Semakin so ah menulikan pendengarannya semakin banyak pula ucapan-ucapan yang terdengar oleh telinganya hingga ia bisa merasakan bahwa kedua telinganya ditutup oleh kedua telapak tangan xuan.


Berita dengan cepat menyeruak keluar, para pejalan kaki dan setiap orang yang ada di pusat kerajaan timur saling bergosip dari telinga menuju telinga lainnya. Rumah penginapan yang ditempati pangeran huang de untuk mencari keberadaan nyonya muda yang kecantikannya bagai dewi surgawi sudah ditutup tanpa ada akses untuk keluar dari tempat itu dan banyak pula dari gosip itu yang mengatakan bahwa pangeran huang de kesal karena wanita yang ia cari tidak ada disana atau mungkin sudah pergi dari sana hingga dengan gila menutup dan mengunci setiap orang yang ada didalam penginapan itu.


"Anaaakkkuuuu....."jerit seorang paruh baya yang terlihat meratap-ratap terdengar dari ujung hingga ujung.


"Apa yang terjadi ???..."tanya orang-orang yang langsung bergegas pergi menuju pusat keributan.


"Xuan"lirih so ah, tangannya gemetaran hebat, ia merasakan firasat buruk dengan apa yang akan terjadi didepan mereka.


"Ayo kita harus pergi"jawab xuan, ia dengan cepat menggendong so ah dan berjalan dengan arah berlawanan yang diambil orang-orang.


Xuan yang selama perjalanan mereka diam-diam sudah membisikkan sebuah kalimat kepada wanita paruh baya yang ua temui diujung jalan yang telah mereka lalui. Ia mengatakan sebuah hal yang pasti akan terjadi pada kondisi orang-orang yang dikurung didalam penginapan, kematian.


"Bukankah penatua suci ikut terlihat memasuki penginapan itu ?!!"tanya seseorang lain pada wanita paruh baya yang menangis histeris.


"Tiidakk... Ibuuu "teriak seorang gadis muda, terlihat sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bekas cairan merah pekat dan berbau amis.


"Ada apa dengan bau busuk ini ??!!"tanya ibunya sembari mengusap air matanya, ia langsung memeluk tubuh muda anaknya itu.


"Ahh tidak kau... kau selamat anakku"ucap ibu gadis pelayan itu sembari terus menangis.


"Apa yang sedang terjadi ??"tanya orang-orang yang berkumpul ditempat itu, banyak pandangan penuh tanda tanya dariĀ  mereka.


"Kita... kita harus mencari nyonya muda itu"jawab gadis muda itu ketakutan.


"Apa ???... siapa ??"tanya seseorang kebingungan.


"Nyonya muda yang ingin di miliki yang mulia pangeran... jika tidak kita kita semua yang akan dijadikan pengorbanan..."jawab gadis muda itu ketakutan.


"Ada apa dengan kondisi mu ?? Kenapa kau bisa penuh dengan darah ??"tanya ibu gadis pelayan itu menyela ucapan anaknya.


"Aku... aku hampir di bunuh... semua orang di penginapan itu dibunuh... ku mohon tolong temukan nyonya muda ituu.... kumoohonn... nyawa kalian nyawa kalian terancam !!! kita.... kita takkan bisa hidupp... kumohonnn....!!!... monsterr... ada mosnterr...."jawab gadis pelayan yang suara mulai gemetaran ketakutan.