
Setiap hari so ah membantu nenek gu menjual bakpao, kasih sayang antara mereka pun semakin erat, so ah merasa nenek gu seperti mama wei yang sangat menyayanginya begitupun nenek gu yang menganggap so ah seperti anaknya sendiri.
Genap satu bulan dirinya tinggal bersama nenek gu dan luka yang dulu masih belum kering kini sudah tertutup sempurna karena so ah secara rutin memberikan ramuan obat pada luka itu, kadang-kadang juga dirinya merasakan rasa sakit yang sangat menyiksa dari bekas luka itu yang bahkan tabib pun tak bisa menyembuhkannya.
"Nenek, apakah daun teh ini dipesan rumah teh di kota ??"tanya so ah pada nenek gu.
"Ya, so ah bisakah kau membawakannya menuju rumah teh ??"tanya nenek gu dengan mata yang terlihat cemas terus mengawasi sekitar mereka, perasaannya sangat tidak enak sejak tadi pagi dan sekarang bertambah intensitasnya.
"Ada apa nenek ??"tanya so ah bingung, ikut melihat sekelilingnya.
"Tidak ada apa-apa... sekarang kau harus naik kereta kuda milik petani itu... cepat.. cepat lah jangan sampai ketinggalan"ucap nenek gu semakin cemas.
Saat ini mereka sedang berada di gerbang keluar desa, ada banyak para petani yang keluar masuk desa membawa barang-barang yang akan ditukar di pusat kota. Biasanya nenek gu yang mengantarkan sekeranjang daun teh ini ke pusat kota dan ditukar dengan beberapa karung tepung.
"Ada apa nenek ??"tanya so ah sekali lagi.
Ia bertambah bingung karena ketika dirinya didorong untuk naik keatas kereta kuda yang penuh dengan padi-padi yang akan dikirim keluar desa, nenek gu memberinya satu kantong yang berisi uang-uang koin tembaga.
"Nenek...."ucap so ah tercekat karena nenek gu dengan cepat membungkam mulutnya.
"Hati-hati... di pusat kota sangatlah ramai orang... jangan lupa rapatkan jubahmu agar cucu nenek tetap hangat... kau harus berhati-hati dan pulang dengan selamat... "ucap nenek gu sembari tersenyum lembut dan mengusap tangan so ah.
"Baiklah, nenek tenang saja, ketika pulang aku akan membawakan manisan lezat"ucap so ah tersenyum lembut dari balik cadarnya.
Kereta-kereta yang penuh dengan barang-barang itu keluar dari desa menuju ke kota pusat kerajaan timur. Mata so ah terus menatap wanita tua yang melambaikan tangannya dari kejauhan semakin kecil, kecil dan terus hilang. Ada perasaan aneh ketika ia akan pergi meninggalkan nenek gu sendiri didesa itu, rasanya ia ingin berlari kearah nenek tua itu dan membawanya ikut serta ke kota, pusat kerajaan timur. Ia melihat keranjang rajut kecil yang menjadi bekalnya selama perjalan itu dengan penuh kasih sayang karena bekal itu sudah disiapkan nenek gu.
Tanpa sadar so ah tertidur lelap dengan bersandar diantara potongan-potongan padi.
Malam gelap tanpa satupun bintang dan cahaya bulan itu terasa lebih mencengkam dari apapun.
Gonggongan-gonggan srigala liar bisa terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Lentera-lentera yang bercahaya redup mulai dinyalakan para petani untuk menerangi jalan mereka, dari mereka juga ada beberapa yang memakai obor untuk menambah cahaya disekitar mereka dengan begitu para binatang buas takkan berani mendekat.
Mereka yang sepanjang jalan selalu bernyanyi riang demi mengusir rasa dingin dan sepi tidak tau bahwa beberapa hari kedepan akan mendengar sebuah berita mengejutkan sekaligus menyayat hati mereka.
Perjalanan yang sangat jauh itu memakan waktu tiga hari untuk sampai ke pusat kerajaan.
Dari kejauhan so ah bisa melihat benteng besar yang terlihat sangat tinggi tapi tidak setinggi benteng kekaisaran Qi.
Rombongan mereka di berhentikan para pengawal yang menjaga gerbang masuk kedalam pusat kerajaan. Setelah semua barang di rasa aman, para petani yang membawa barang-barangnya langsung masuk kedalam.
"Hei, apakah kau tidak merasa aneh ??"tanya seorang petani kepada petani lainnya.
"Ya, apakah ada sesuatu yang sedang terjadi ??"tanyanya balik.
"Entahlah, ayo kita harus bergegas..."jawabnya yang langsung melajukan kereta kudanya.
So ah hanya mengernyit bingung mendengar bisik-bisik orang-orang disekitarnya.
"Nyonya apa yang terjadi ??"tanya so aj pada istri pemilik kereta yang ia tumpangi.
"Ya aku juga merasakan sesuatu yang salah"jawab so ah dan kemudian ia terdiam melihat situasi didepannya.
Hiruk pikuk keramaian memasuki indera pendengaran so ah, dirinya melihat banyak sekali kegiatan orang-orang disekitarnya. Pasar yang penuh dengan teriakan harga-harga barang yang mereka jual, banyak juga para pedagang yang sedang tawar-menawar dengan para pembelinya.
"Sangat hidup"pikir so ah dalam hatinya.
Ia bisa melihat anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari bersama teman-temannya dengan membawa kembang gula ditangan mereka.
Tanpa sadar dirinya tersenyum dan mengelus lembut perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh itu.
Ada banyak hal yang sudah ia lewati, sendirian ah tidak ia tidak sendiri tetapi ia punya harta berharga yang belum melihat dunia ini.
"Nyonya, aku berhenti disini"ucap so ah lembut.
"Baiklah, ketika matahari turun tunggu kami di dekat gerbang keluar kota"jawab istri petani itu.
"Terima kasih nyonya"jawab so ah sembari tersenyum dari balik cadarnya.
"Hahahaha... tak perlu sungkan... kita akan selalu saling membutuhkan dimasa depan"jawab jenaka wanita itu.
Wanita itu merasa sangat kesal melihat wanita sebaik so ah harus menderita karena kehamilannya, pernah sekali dirinya yang penasaran bertanya kemana suami wanita itu yang hanya dijawab kebisuan yang terasa mencekik hatinya, ia sebagai wanita ikut merasakan suasana hati so ah walaupun wanita yang selalu menutupi wajahnya itu selalu bungkam, dirinya tau wanita itu sedang berusaha tegar.
Andai saja, so ah bukan sepatu bekas mungkin dirinya akan senang hati menikahkan so ah dengan anak lelaki tertuanya.
Ah... sayangnya... batin bibi petani itu menghela nafas.
Setelah kepergian istri petani itu, so ah berjalan pelan menuju ke rumah teh langganan nenek gu menjual daun-daun tehnya. Setelah membayar beberapa koin tembaga untuk orang yang membawa keranjang besar daun teh itu, so ah memutuskan untuk duduk beristirahat sebentar didalam kedai kecil yang menjual berbagai macam makanan.
"Apakah kalian tau tentang desa yang berada di arah selatan kita ??"tanya seorang penggosip.
"Apa yang terjadi ??"tanya salah satu yang penasaran.
"Bodoh... kau tidak tau berita ini sudah panas semenjak dua hari yang lalu..."desisnya lagi bagai burung merak yang berkibar bangga.
"Dalam satu malam desa itu habis dibantai pasukan musuh yang sangat kuat... bahkan katanya tak ada satu orangpun yang selamat.."lanjutnya lagi sembari menggidik ngeri.
"Aku rasa itu bukanlah pasukan musuh kerajaan kita tetapi mahluk buas mengerikan..."jawabnya lagi beramsumsi.
"Kau bodoh sekali !!... kau percaya cerita untuk anak-anak itu hahahahaha"ucap kawannya itu yang disambut tawa membahana dari teman-temannya.
So ah yang akan memakan sup panasnya langsung tersentak kaget mendengar hal itu.
Desa yang ada di arah selatan hanyalah desa tempat nenek gu berada !!..
Tidak mungkin !..
Ini cuma berita bohong saja kan ??...