
Tubuh so ah yang tenggelam terbawa derasnya arus sungai tertahan di sebuah batang pohon besar tumbang yang melintang di tengah-tengah aliran sungai besar itu.
"Uhuk... uhuk"so ah terbatuk-batuk mengeluarkan beberapa teguk air yang tak sengaja masuk kedalam mulutnya.
"Akh..."desis so ah tertahan, ia melihat sekelilingnya yang masih dipenuhi dengan pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan liar.
Ia sembari memegang erat perut buncitnya berusaha membawa dirinya sendiri ke tepi sungai dengan berpegangan pada batang pohon yang menyelamatkan nyawanya.
"Dimana ini ??"tanya so ah pada dirinya sendiri.
"Akhh..."desis so ah kesakitan karena luka diperutnya berdenyut ngilu. Ia mengistirahatkan tubuhnya dan mengambil nafas dalam-dalam, merasa bahwa sudah tidak terlalu sakit lagi dirinya berdiri melihat sekelilingnya.
Ia berjalan tanpa alas kaki menyusuri aliran sungai, ia berharap jika di ujung aliran ini ada sebuah pemukiman.
Setelah seharian penuh tanpa istirahat so ah berjalan menelusuri aliran sungai, ia melihat sebuah asap yang membumbung tinggi.
"Apakah itu sebuah pemukiman ?"batinnya penuh harap dengan mempercepat langkah kakinya. Ia sudah tak perduli dengan luka-luka gores menyakitkan yang ada dikakinya, sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari seorang tabib.
So ah yang berjarak beberapa ratus meter dari desa didepannya itu berhenti sebenter, ia menyobek kain pakaian tengahnya dan membuatnya menjadi sebuah tabir penutup untuk setengah wajahnya.
Hiruk pikuk keramaian dengan banyaknya orang yang berlalu lalang kesana kemari sedikit membuat so ah kikuk karena ia yang jarang membaur dengan banyak orang.
Kiri kanan jalanan yang penuh dengan pedagang-pedagang kecil dan aroma makanan yang menyenangkan terhidup dihidungnya membuat ia yang sudah beberapa hari didalam hutan merasakan rasa lapar.
So ah tak menghiraukan pandangan-pandangan jijik dan menghina yang dilontarkan orang-orang di sekelilingnya karena melihat tampilannya yang sangat menyedihkan itu walau ada dari beberapa mereka yang juga sedikit iba melihat penampilannya.
Pakaian yang sudah kumuh dengan sobek kecil disana-sini dan dirinya yang berjalan tanpa alas kaki serta rambutnya yang panjang itu berantakan hanya ia ikat seadanya ditambah lagi kain penutup yang lusuh menutupi setengah wajahnya membuat orang percaya bahwa wanita yang tengah hamil itu seorang buruk rupa bernasib buruk.
Ketika ia berhenti si sebuah kedai makanan pinggir jalan yang menjual banyak makanan bagi kalangan menengah dan akan masuk kedalam kedai.
"Apa yang kau lakukan pengemiss !!!"bentak seorang pria tua dengan berut tambun.
"Pergi... pergi jangan membawa nasib burukmu di tempatku"bentaknya lagi dengan kasar.
So ah hanya melihat lelaki tua didepannya ini dengan pandangan kosong, ia kemudian berbalik arah dan berjalan menjauhi kedai makanan itu.
Sepanjang jalan so ah hanya diam dan berjalan lurus tanpa tujuan sampai tanpa sengaja dirinya melihat seorang wanita tua penjual bakpao di pinggir jalan ini sedang kesusahan melayani banyaknya pembeli. Setelah menimbang-nimbang apakah ia akan bertanya atau tidak akhirnya Ia memberanikan dirinya untuk mendekat kearah wanita tua yang sedang akan mencampur adonan bakpaonya.
"Nyonya, apakah saya bisa membantu anda ??"tanya so ah dengan suara lembut.
Wanita itu memandang so ah dengan tatapan tak terbaca.
"Maafkan aku nona, tetapi jika kau ingin mendapat bayaran dariku aku takkan sanggup apalagi lihat kondisimu"jawabnya sembari mengaduk adonan bakpao.
"Aku.. aku tidak meminta bayaran... cukup beri saja aku beberapa bakpao kecil"ucap so ah lagi.
"Ah.. baiklah... baiklah.. tidak apa-apa"jawab wanita tua itu akhirnya.
"Kemarilah"ucap wanita tua itu kepada so ah.
So ah hanya menurut dan mendekati wanita tua itu, dan ketika wanita tua itu memberikannya sebuah gulungan pakaian so ah hanya menatapnya bingung.
"Pakailah pakaian ini... sangat tak nyaman melihat kondisimu sekarang"ucap wanita tua itu lembut.
"Ah.. ya maafkan aku"jawab so ah sedikit kaget karena baru sadar bahwa kondisi pakaiannya yang tak terlihat seperti pakaian pada umumnya ini apalagi pakaiannya sangat kotor dan kumuh. Dirinya langsung bergegas pergi kebelakang tempat yang ditunjukkan wanita tua itu untuk berganti pakaian.
Bahan pakaian yang kasar yang so ah pakai tak membuat dirinya merasa tak nyaman, ia merasa bersyukur setidaknya masih ada manusia baik hati yang ingin menolongnya. Pakaian berwarna merah jambu dengan lengan lebar dan roknya yang berwarna hijau dengan bordiran sederhana diujung-ujung roknya terasa sangat nyaman ketika ia pakai, dirinya juga langsung membasahi wajahnya dan membersihkan dirinya sebersih mungkin dengan kain yang sudah ia basahi dengan air kemudian langsung memakai cadarnya kembali dengan kain tengah pakaiannya yang lama.
Tangan so ah melepaskan anting-anting emas serta gelang yang ia pakai karena mungkin saja suatu hari barang ini akan berharga dan lagi sangat tidak mungkin dirinya memakai perhiasan, ia hanya menyisakan kalungnya saja yang ia tutupi pakaian.
"Nyonya, apakah yang harus saya lakukan ??"tanya so ah sopan.
"Cukup dirimu perhatikan kukusan bakpao disana dan jaga apinya agar tetap stabil..."ucap wanita tua itu memberi perintah kepada so ah.
So ah mematuhi perintah wanita itu dan langsung melaksanakan apa yang diintruksikan olehnya. Wanita tua itu sedikit kewalahan ketika mengisi isian bakpao-bakpaonya, so ah dengan cekatan ikut membantunya mengisi bakpao, tangan so ah yang bergerak luwes tapi cekatan membuat wanita tua itu sedikit tercenga dan berfikir bahwa wanita yang ia tolong ini sepertinya sangat membantunya.
"Makanlah dulu"ucap wanita tua itu kepada so ah sembari menyodorkan sepiring penuh bakpao.
Saat ini mereka berdua sedang beristirahat , so ah yang trngah duduk kaget mendengar ucapan wanita tua disebelahnya.
"Ah.. terima kasih"jawab so ah sopan.
"Darimana asalmu ??"tanya wanita tua itu sembari memakan bakpaonya.
"Dari desa yang jauh"jawab so ah sopan, matanya menatap orang-orang yang lewat dengan pandangan kosong.
"Apakah kau kabur dari rumah nona ??"tanya wanita tua itu setengah bercanda.
"Hahaha... tidak tidak"jawab so ah sedikit meringis tertawa hambar.
"Siapa namamu ??"tanya wanita tua itu kemudian.
"So ah, nyonya"jawab so ah sopan.
"Hahaha... kau wanita kecil jangan terlalu kaku.."jawab wanita tua itu sembari tertawa, ia tertawa karena so ah terlihat menjaga etiket sopan santun khas kalangan bangsawan kelas atas.
So ah tersipu malu ketika wanita tua yang baru ia ketahui bernama Gu Ning itu sangat ramah padanya, dan ia juga baru tahu bahwa wanita tua ini tinggal sebatang kara tanpa anak ataupun suami yang menemani tubuh tua wanita itu, nenek Gu juga dengan senang hati meminta dirinya untuk tinggal sementara di rumahnya.
Ketika so ah berjalan pulang bersama dengan nenek gu, ia bisa melihat rumah sederhana dengan halaman yang bisa dibilang kecil itu. Ada rasa tidak nyaman menjalari hatinya karena melihat nenek tua yang seharusnya menikmati masa tuanya harus berjuang keras sendiri tanpa ada yang menemani.
Akhirnya so ah langsung meminta izin nenek gu untuk menggunakan dapur wanita tua itu.
Malam itu, rumah sederhana yang biasanya dingin dan sepi terasa hangat karena kehadiran so ah.