The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 102



Xuan membaringkan tubuh so ah diatas ranjang penginapan, ia memakaikan so ah pakaian tengah berwarna putih dan kemudian membalut tubuh mungil itu dengan jubah hitamnya lagi.


Xuan duduk diam memperhatikan sosok yang sedang berbaring lemah diatas ranjang, terlihat tabir yang xuan buat berpendar hijau masih menyerap energi murni dari sekelilingnya.


Xuan memejamkan matanya, ia berusaha memanggil dai luan dengan perjanjian antara weida de tianghuang dan jenderal agung yang telah mereka buat.


Matanya terbuka kembali saat ia merasakan sebuah aura asing yang terasa sedikit mengusiknya.


Kenapa ada tikus dari dunia bawah !..


Cih..


Disisi lain huang de dan xi mei harus kembali lagi menuju kerajaan. Huang de yang mengetahui bahwa pasukan pribadinya habis tak tersisa dan mati dengan cara yang mengenaskan harus cepat-cepat pergi, ia hanya bisa menahan rasa kesalnya karena tak menemukan keberadaan wanita yang di tugaskan penatua suci untuk dibawa masuk kedalam kerajaan.


Xi mei melihat kekasihnya yang hanya diam saja dengan ekspresi kesal yang terpancar jelas diraut tampan kekasihnya itu.


"Yang mulia..."panggil xi mei pelan.


"Diam... turunlah dan jangan melakukan apapun sampai aku memberimu kabar"ucap huang de yang dengan kejam menurunkan xi mei didepan sebuah gang kumuh.


Xi mei hanya bisa menelan semua hina yang diberikan huang de, jika saja lelaki ini bukanlah seorang pangeran mungkin saja ia sudah lama membuang lelaki sampah itu.


Huang de melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh kebelakang lagi, ia dengan cepat memerintahkan agar kereta melaju lebih kencang menuju kediaman pangeran.


"Apa yang terjadi ??"tanya huang de pada prajurit penjaga ketika ia sudah sampai dikediamannya.


"Maafkan hamba yang mulia, tetapi penatua suci datang mengunjungi anda"ucap prajurit penjaga itu pada huang de.


"Dimana penatua suci ??"tanya huang de cepat.


"Penatua suci ada didalam ruang pertemuan yang mulia"jawab prajurit penjaga itu.


Huang de langsung bergegas pergi menuju aula pertemuan untuk para tamu kehormatan, disana ia bisa melihat sesosok berjubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan wajahnya pun ikut tersembunyi didalam tudung jubah.


"Salam pangeran ini kepada penatua suci"ucap huang de pada penatua suci.


"Bagaimana sesuatu yang kutugaskan itu ??"tanya penatua itu dengan suara rendah.


"Semalam terjadi sesuatu yang membuat para prajurit elitku harus mati dengan sia-sia... penatua kenapa harus wanita yang sudah hamil itu ?!! Kenapa tidak pada gadis yang belum menikah dan masih suci untuk menjadi persembahan ??"tanya huang de mulai geram, harga dirinya seakan diinjak karena tidak bisa menangkap wanita lemah.


"Hamil ?"tanya penatua suci pada huang de.


"Ya, wanita itu hamil dan kenapa aku mengetahuinya itu karena xi mei menolong wanita itu tuan..."jawab huang de.


Penatua suci itu terdiam begitu lama seolah memikirkan sesuatu hingga pada akhirnya penatua itu pergi dari kediaman huang de.


"Cari wanita itu diam-diam dikota ini, jangan lewatkan satu rumahpun... jika kau bisa menemukannya aku akan mengangkatmu sebagai raja dari kerajaan ini"ucap penatua suci itu sebelum pergi dari kediaman huang de.


Huang de masih mengingat dengan jelas janji dari penatua suci dan ia tanpa menaruh rasa curiga ataupun ragu langsung pada malam itu memerintahkan pasukannya untuk diam-diam mencari wanita itu berdasarkan ciri-ciri yang sudah dikatakan oleh xi mei.


"Ada apa ??"tanya xuan dingin, auranya yang berat membuat pemilik penginapan itu menjadi ketakutan.


"Ma..maafkan saya tuan, para prajurit kerajaan ingin mencari seseorang jadi mereka menggeledah setiap sudut tempat di wilayah kerajaan ini"ucap pemilik penginapan dengan suara gemetar ketakutan.


"...."xuan mengangkat alisnya tanpa ekspresi.


Ia kemudian menatap buntalan besar diatas ranjang penginapan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah ranjang itu.


"Periksalah"ucap xuan dingin.


Pemilik penginapan itu dengan tergesah-gesah langsung membuka lebar-lebar pintu masuk kedalam kamar penginapan yang ditempati xuan. Dari arah pintu para prajurit kerajaan yang diperintahkan oleh huang de langsung menyerbu masuk.


"Bagaimana ?"tanya salah seorang pemimpin prajurit itu.


"Tidak ada yang mencurigakan tetapi..."ucapan bawahannya terputus takkala ia melihat kearah ranjang yang di duduk xuan.


"..."xuan hanya diam mengawasi gerak-gerik para prajurit itu, ia bisa merasakan sedikit aura kegelapan dari dunia bawah.


Saat tatapan sekelompok prajurit itu melihat kearah belakang ranjang yang ia duduki ini ia hanya diam tanpa menunjukkan ekspresinya.


Tatapan mata merah yang berkilat ditengah kegelapan saat terkena sinar bulan dari luar jendela yang dibuka membuat situasi terasa sedikit mencekik penuh tekanan bagi para prajurit itu. Akhirnya pemimpin dari para prajurit itu sedikit memberanikan diri untuk bertanya pada xuan.


"Maafkan kami tuan telah menggangu istirahat malam anda... akan tetapi kami di perintahkan untuk mencari seseorang"ucap pemimpin prajurit itu pada xuan, matanya diam-diam menatap gundukkan selimut dibelakang xuan.


"Apakah kau mencurigaiku ??"tanya xuan dingin.


"Tidak tuan... kami tidak berani menyinggung anda akan tetapi kami mendapatkan perintah dari kerajaan"ucap pemimpin prajurit itu berhati-hati dengan ucapannya karena ia merasa bahwa sosok didepannya ini tidak harus ia singgung.


"Istriku sedang tidur nyenyak dan anak kami juga butuh waktu untuk beristirahat..."ucap xuan dengan suara dingin. Ia menatap mata pemimpin prajurit itu dan dengan diam-diam ia melihat ingatan dari pemimpin prajurit itu.


"Ahh... maafkan kami tuan telah mengganggu waktu anda"ucap pemimpin prajurit itu kemudian ia langsung pergi meninggalkan penginapan bersama dengan bawahannya.


"Dai luan"panggil xuan.


"Ya, yang mulia agung"jawan dai luan yang langsung memberikan penghormatan untuk xuan.


"Berdirilah..."ucap xuan.


Ia menatap tubuh dari naga hitam pelindung, pakaian yang sedikir robek dibeberapa bagian dan juga bekas darah masih belum dibersihkan menandakan kondisi naga pelindungnya sedikir kurang baik.


"Apa yang kau lihat ??"tanya xuan pada dai luan, ia tanpa malu mengangkat tubuh so ah dan memangkunya.


Kepala so ah yang terkulai di bahu xuan dengan mata tertutup rapat sedikit membuat dai luan kaget apalagi kukit pucar tanpa warna itu. Apakah karena hal ini ia juga ikut merasakan sesuatu yang membuat nya hampir menggila mencari keberadaan mei meinya ??... atau mungkin ia menggila karena ingin bertemu dengan sesuatu yang belum ia ketahui apa itu untuk jiwanya ini... jiwanya seakan digaruk dengan tajam dan dikeluarkan dengan keji takkala merasakan energi kehidupan yang terasa menipis ditubuh so ah apalagi salah satu dari ketiga energi kehidupan itu terasa lebih tipis. Jantungnya mulai berdetak kencang dengan rasa ngilu, hal yang baru ia rasakan itu terasa sangat ambigu.


"Sekarat... ketiganya sekarat"ucap dai luan dengan suara sedikit serak.