The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 127



Wan yao yang mengendalikan mahluk-mahluk buas itu untuk menyerang wilayah yang dihuni manusia sebagai pemukiman tempat tinggal tersentak kaget saat merasakan semua benang yang ada ditangan kanannya terputus.


Matanya sedikit terbuka, ia menatap tangan kanannya yang sekarang kosong tanpa simpul benang hitam diantara jari jemarinya.


"Wan Yao !!.. bodoh kenapa kau memotong benangnya !!.. cih"ucap Cheng Qu kesal.


"Bukan terpotong... tapi ada mahluk lain disana"jawab wan yao dingin.


"Tapi siapa ?!"tanya cheng qu, lelaki yang beberapa waktu yang lalu bermata normal kini mempunyai warna mata hitam yang mengerikan di salah satu matanya. Hal itu terjadi karena dirinya menghisap habis kekuatan spiritual milik saudaranya sendiri.


"Tak mungkin sejak kau lepaskan ratusan mahluk itu habis dalam hitungan menit"ucap cheng qu lagi, matanya menatap waspada kearah dimana kekaisaran qi berada.


"Ya, tidak mungkin"jawab wan yao dingin.


"Kemungkinan mereka tidak ada satu.... apakah itu para bajingan dari dunia atas ?"tanya cheng qu dengan kurang ajarnya.


"Bukan, bukan mereka"jawab wan yao.


"jadi siapa ??!!"tanya cheng qu kesal. semenjak ia menghisap habis kekuatan spiritual milik saudara kembarnya, ia tidak bisa berfikir jernih dan kadang-kadang melakukan tindakan gila lainnya. Kemungkinan sifat-sifat dari pemilik kekuatan ini belum bisa beradaptasi dengan tuan yang baru.


"Entah, dia sudah pergi"ucap wan yao dingin.


"Dia ?"pikir cheng qu.


Jika wan yao hanya mengatakan itu berarti hanya ada satu orang disana, siapa yang dengan cepat menghabis para mahluk buas yang sudah diatur seperti tentara hidup, dirinya saja butuh waktu paling cepat setengah dupa dan itu hanya sebagian saja yang terbunuh. Semua mahluk yang berada dibawah kendali benang hitam milik wan yao takkan bisa mati dengan semudah itu dan juga ia tak meremehkan wan yao dalam hal memperhitungkan jumlah musuh yang berjarak puluhan kilometer jauhnya dari tempat mereka berada.


Wan yao dengan santai menuju ke arah kekaisaran yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer itu, diikuti dengan cheng qu yang masih berfikir keras.


Mereka berdua diberikan perintah oleh zheng bai untuk menghabisi sisa manusia yang berasal dari kerajaan timur, Sebenarnya hanya wan yao yang diperintahkan akan tetapi karena cheng qu bosan akhirnya ia meminta izin pada zheng bai untuk membantu wan yao.


Mereka berdua yang sudah berubah menjadi dua sosok manusia normal, harus berhenti ketika tidak jauh dari tempat mereka berada terdapat sebuah kubah penghalang tipis.


Wan yao melemparkan monster kecil dari kantong dimensinya dan hal yang tak terduga terjadi saat monster itu bersentuhan dengan tabir penghalang.


Hancur.


Tak tersisa.


Wan yao dan cheng qu berdiri diam melihat hal yang terjadi tepat didepan mata mereka.


Tabir penghalang yang tepat berada di wilayah utama kekaisaran bukan hanya tabir penghalang biasa yang bisa langsung dipecahkan hanya dengan sekali lempar seperti yang dilakukan wan yao dengan memberikan monster kecil itu sebuah inti spiritual milik monster dengan kekuatan besar dan beberapa kekuatan lainnya, kadang ia bisa dengan cepat dan tanpa diketahui oleh sang pembuat tabir penghalang bahwa tabir yang ia buat untuk melindungi manusia rusak.


Kenapa ini tidak ?!, pikir wan yao dingin.


Seberapa banyak ia mengeluarkan semua hal yang bisa ia lakukan tetap saja tak bisa meruntuhkan tabir yang terlihat tipis tapi sangat kuat itu.


Cheng qu diam memperhatikan gerakan wan yao yang ekspresi dinginya itu mulai sedikit goyah hanya karena dinding penghalang besar didepan mereka.


"Aku tau siapa yang membuat tabir pelindung ini"desis cheng qu.


"Siapa ?"tanya wan yao.


"Dia sosok yang membawa pergi orang-orang timur ke kekaisaran ini"jawab cheng qu.


"Siapapun itu, itu bukan hal yang baik... kita harus melaporkan hal ini kepada raja"ucap cheng qu.


Wan yao hanya diam tak menyahuti ucapan cheng qu tetapi ia memikirkan sosok kuat yang bisa membuat tabir raksasa seperti ini dan bahkan sosok itu dengan santainya bisa memotong benang hitamnya yang penuh akan kutukan disetiap benang yang terurai.


Keduanya langsung pergi menuju ke dunia bawah untuk menemui zheng bai.


Xuan yang sudah membuat tabir penghalang raksasa di setiap wilayah kerajaan diam disebuah dahan pohon besar. Tubuhnya ia sandarkan pada batang pohon yang sudah berusia ribuan tahun itu, ia memandang langit malam yang tengah bersinar lembut menerangi setiap sudut gelap yang bisa diterangi.


Disudut bibirnya mengalir darah merah pekat menuruni dagunya, ia mengusap pelan darah yang keluar itu dan menatap lama jari yang ia gunakan untuk mengelap darahnya sendiri.


"Hmm... diluar dugaanku ck"desisnya.


Mata merahnya menyala tajam ditengah kegelapan malam bagaikan hewan buas yang siap memangsa apapun didepannya, didalam hutan yang sekarang ini xuan kunjungi tak ada satupun suara hewan yang berani bersuara, hutan itu layaknya hutan mati tanpa penghuni semenjak kedatangan xuan.


Aura yang keluar dari jiwanya membuat semua mahluk takut padanya dan ia tak perduli akan hal itu.


Ia sedang mengembalikan kekuatannya lagi di sudut hutan terdalam ini karenanya ia sedikit merindukan istri kecilnya yang sekarang mungkin masih terlelap. Rasanya ia ingin memeluk tubuh mungil itu dan menenggelamkannya kedalam pelukannya, mungkin Ia sudah sangat terobsesi pada aroma dan tubuh wanitanya, jika bisa dirinya ingin membuat so ah terus berada disisinya dimanapun dan kapanpun itu tetapi itu hal yang berbahaya.


Xuan memejamkan matanya, ia memasuki dimensi dimana yuan berada.


Disana ia masih bisa melihat yuan yang ada diposisi yang sama dengan tubuh terikat rantai neraka. Api hitam mengelilingi lelaki itu dan memaksanya agar tetap menutup matanya tapi saat xuan datang, api itu langsung padam dengan cepat.


"Apakah kau sudah puas !!"desis yuan dingin.


"Tidak, aku belum puas"jawab xuan santai, lelaki itu duduk dibebatuan datar dan dengan santai memakan anggur yang sudah ia keluarkan dari sudut dimensi lainnya.


Xuan bisa melihat retakan-retakan terbentuk di rantai-rantai hitam kelam yang melilit jiwa yuan. Ia hanya diam tanpa ekspresi, seakan sedang memperhitungkan sesuatu dengan wajahnya yang acuh tak acuh itu.


"Dunia ini terlalu membosankan, aku ingin membantai semua mahluk akan tetapi wanita ku sangatlah pengasih"ucap xuan dingin, ia seakan menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan kedepannya.


Yuan yang tengah berusaha memperkuat energi spiritualnya yang sedikit lagi akan menghancurkan rantai pengekang tubuhnya langsung goyah karena mendengar ucapan xuan.


"Dimana so ah !!"desis yuan dingin.


"Bukankah keberadaannya bukan apa yang harus kau khawatirkan sekarang"jawab xuan dingin.


"Kauu !!!.."desis yuan kasar.


"Hoho... apakah yang mulia yang agung kini mengkhawatirkan permaisuri yang sudah ia tusuk dengan pedang agung ??"tanya xuan, ia tertawa mengejek dan menghina yuan.


Yuan yang tertohok dan tersulut emosi mendengar kata-kata xuan dengan gilanya langsung menghisap semua kekuatan spiritual disekelilingnya, tanpa membedakan mana energi spiritual yang kotor dan bersih ia hisap dengan membabi buta.


BUMMMM .....


BUMMMM...


KRAKK....


Ledakan keras beserta elemen-elemen yang ada disekitar tubuh yuan termasuk rantai-rantai itu berhamburan disekeliling tempatnya berada.