
Yuan menyadari kebodohannya untuk yang kesekian kali meledak dalam amarah.
"Aaarrrgghhhhh......!!!!"desis yuan marah.
"Apa yang telah aku lakukan !!!!"desisnya frustasi.
Yuan memegangi bagian dadanya yang terasa nyeri hingga ia terbatuk-batuk kesakitan mengeluarkan darah hitam kental yang mengotori pakaiannya, ia sudah tak memperdulikan lagi rasa sakit ditubuhnya yang terus terasa menyiksa, aliran kekuatannya yang mulai tidak stabil membuat racun itu lebih cepat menggerogoti tubuhnya. ia menghancurkan segala sesuatu disekitarnya hingga rata menjadi tanah, walaupun segala hal di sekitarnya sudah hancur tetap tak cukup untuk memadamkan rasa bersalah didalam hatinya.
Kenapa ia bertindak implusif dengan memberikan so ah racun itu !!... so ah hanya seorang manusia biasa !!... ia akan senang jika janin itu mati tapi bagaimana dengan istrinya !!...
Takdirnya yang tak bisa ia terima membuat pikirannya kalut dan kacau, ia langsung pergi dari gunung.
Takdir yang membuatnya tau bahwa ia tak mempunyai hak untuk hidup karena ia hanyalah serpihan kekuatan yang sengaja dibuat.
Yuan yang menjadi pusat dari segala kekacuan yang ia perbuat di atas gunung ji hanya berdiri.
Hawa di sekitarnya berubah menjadi gelap pekat penuh dengan kebencian.
Jika kehidupan dan takdir itu tak berpihak padanya, maka ia sendiri yang akan membuat kehidupan dan takdirnya sendiri...
Tak ada yang bisa menghalanginya...
Siapapun itu yang menghalanginya harus mati !!...
Disisi lain, yi yang sedang melawan semua makhluk dunia bawah yang berada didunia manusia dan menggiring semua mahluk itu untuk kembali kedunia bawah.
"Serang semua makhluk dan jangan biarkan satupun dari mereka lolos"perintah yi pada pasukan yang ia pimpin.
Kekacauan yang nyata terjadi didunia manusia karena kehadiran makhluk-makhluk buas dari dunia bawah yang sengaja dilepaskan zheng bai. Yi dan pasukkannya terus bertarung membunuh semua mahluk buas dunia bawah yang sudah diluar kendali.
Langit gelap dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara srigala yang saling bersautan satu sama lain mengaggetkan so ah dari tidurnya.
"Akh"desis so ah kesakitan takkala merasa ngilu di bagian sisi perutnya. Ia dengan cepat memeriksa perutnya dan merasakan bahwa janinnya diam tak bergerak aktif seperti biasanya.
"Ttidakk !... aanakku, sayang apakah kau mendengarkan niang ??"tanya so ah lembut sembari mengelus perutnya penuh dengan kasih sayang. Tapi ia tak mendapatkan respon apapun dari dalam perutnya, hatinya mulai gelisah, ia mulai ketakutan. So ah yang menangis sedih berusaha untuk terus mencari cara agar janinnya memberi respon dan setelah sekian lama ia berusaha syukurnya masih ada reaksi lembut dari perutnya walau tidak seaktif biasanya.
"Maaf hiks... maaf... maafkan niang... karena niang dirimu harus terluka... maafkan niang... kumohon bertahanlah sedikit lagi"bisik so ah lembut dan berusaha memeluk perutnya agar janinnya hangat.
Ia tak bisa menahan rasa sedihnya yang teramat sangat, segala sesuatu yang terjadi sudah cukup membuatnya ingin menyerah dan jika bukan ada kehidupan lain yang ada didalam dirinya mungkin sudah lama ia pergi menghilang dari dunia ini.
Xuan.
Nama itu seakan terus berputar-putar didalam pikirannya. Apakah masih ada harapan jika ia mempertaruhkan harapannya pada lelaki yang mirip dengan suaminya itu ??..
Entahlah...
Biarlah takdir berjalan mengeluarkannya dari dalam labirin rumit ini...
Zheng bai yang bersama dengan keempat jenderal kepercayaannya, Chen Qi, Chen Qu, Cheng Ru, dan Wan Yao sudah kembali lagi kedunia bawah setelah mendapatkan sisa darah hitam milik sang naga pelindung dunia bawah.
Zheng bai yang kini duduk diatas singgasananya memperhatikan darah hitam yang ada didalam botol kristal kecil.
"Cheng Qu"ucap zheng bai.
"Ya, yang mulia"jawab cheng qu yang langsung berada tepat dibawah singgasana zheng bai.
"Bagaimana menurutmu ??"tanya zheng bai sembari memutar-mutar cairan hitam pekat darah itu.
"Hamba hanya akan mematuhi perintah yang mulia"jawab chen qu.
"Cari naga hitam itu"ucap zheng bai memberi perintah pada zhen qu.
"Baik yang mulia"jawab chen qu dan langsung menghilang dalam kegelapan.
Zheng bai yang ingat akan sesuatu langsung berjalan menuju kekediaman permaisurinya, Jing Mei.
Sampai di paviliun barat milik permaisuri dunia bawah, zheng bai hanya menatap datar semua bawahannya mengisyaratkan untuk tetap diam dan kemudian melanjutkan perjalanannya memasuki kediaman permaisuri.
Matanya hanya menatap datar sosok wanita yang membelakangi dirinya, sosok yang hanyut dalam keheningan itu tidak menyadari ada sosok lain dibelakangnya yang terus memperhatikan dirinya.
Jing Mei yang sedang menatap sepi hamparan pepohonan dari atas paviliunnya, sejauh matanya memandang tak ia temui satu saja warna lain selain warna suram itu dan memang sudah menjadi ciri khas dunia bawah yang terkenal suram mengerikan dengan hawa kematian serta ketakutan dimana-mana.
Jing Mei yang merasa sedikit dingin karena angin malam menerpa tubuhnya sedikit mengeratkan pakaiannya. Ia bisa merasakan rasa hangat sedikit memancar dari perutnya yang sedikit demi sedikit mulai membuncit, ia juga bingung apakah darah yang mengalir di tubuhnya ini yang menyebabkan kehamilannya terasa abnormal dan karena ia mempunyai tubuh yang spesial itulah zheng bai mau menikahinya.
Jing mei mengelus pelan perutnya, tangannya yang putih pucat hanya tetap terus mengelus perutnya dengan kasih sayang.
Ia tau, ia hanya dijadikan alat untuk melahirkan keturunan-keturunan zheng bai dan ia juga tau bahwa tidak ada harapan lain selain menurut pada perintah lelaki itu. Tapi ia juga takut jika suatu hari nanti anaknya hanya akan dijadikan alat pertempuran untuk memuaskan nafsu keserakahan akan kekuasaan lelaki itu.
Jing mei sedikit menghela nafas gusar tapi ketika ia membalikkan badannya, matanya langsung terbelalak kaget.
"Ah.. maafkan ha..hamba yang mulia"ucap jing mei gagap dengan suara sedikit bergemetar. Sejak kapan lelaki itu duduk disana !!.., batin jing mei kaget.
Zheng bai hanya menatap wanita didepannya dengan tatapan datar. Sedangkan jing mei yang ditatapan tanpa dijawab hanya diam kaku berdiri didepan zheng bai.
"Apa yang kau lakukan"ucap zheng bai datar.
"Aku hanya melihat pemandangan saja"jawab jing mei datar.
"Benarkah ?"tanya zheng bai tanpa memberi celah bagi jing mei untuk mengelak.
"Bbenar yang mulia..."jawab jing mei sedikit risih dengan pertanyaan zheng bai.
Jing mei dengan anggun menyeduhkan teh untuk zheng bai, ia perlahan memilihkan daun-daun teh yang akan ia seduh dengan anggun. Sembari menunggu seduhan tehnya, jing mei mulai menyiapkan kudapan-kudapan untuk zheng bai.
Mata zheng bai terus menatap perut jing mei yang terlihat sedikit lebih buncit dari balik pakaian itu. Dan ketika melihat wanita didepannya ini sibuk menyiapkan kudapan untuknya ada rasa sedikit terganggu didalam hatinya tapi ia abaikan rasa itu karena ia anggap hanya sampah dihatinya.
"Dimana pelayanmu !"tanya zheng bai dingin.
"Maafkan saya yang mulia jika anda terganggu, tetapi aku yang memerintahkan para pelayan itu untuk tidak berada didalam ruangan ini"kata jing mei sopan.
"Benarkah ?... atau mungkin kau menyimpan seorang selir kamar"desis zheng bai dingin.
"Kenapa anda berkata seperti itu ?"tanya jing mei sembari menuangkan teh dan menyuguhkannya kepada zheng bai.
"Kau menyembunyikan kehamilanmu..."balas zheng bai dingin.
"Hamba tidak menyembunyikan kehamilan hamba tetapi...."jawab jing mei.
"Hahaha tetapi apa ??"tanya zheng bai tertajam sinis.
Jing mei hanya menatap datar lelaki didepannya ini. Ia ingin tau apa yang di pikiran lelaki dengan berbagai macam rencana jahat didepannya ini. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa menyekik di selalu keluar dari mulut pahit lelaki itu, ia bahkan bingung harus berbuat apa.
Apakah benar dirinya masih seorang ratu dunia bawah atau mungkin hanya nama tanpa otoritas saja ?...
Selama ini ia harus menahan rasa terhinanya saat melihat zheng bai yang dengan brengseknya bermain-main dengan beberapa wanita dan kemudian membawa mereka sebagai selir kerajaan dunia bawah. Ada banyak ratusan selir yang ia bawa masuk kedalam istana ini, dan jing mei sudah sangat malas untuk memikirkannya karena hatinya memang sudah tidak menyukai lelaki didepannya ini.
Dan pertemuan mereka kembali menjadi hambar penuh dengan intrik kecurigaan.