
Yi sekuat tenaga membawa tubuh so ah bersamanya menjauhi istana dunia bawah.
Ia dengan sisa kekuatan miliknya berusaha melarikan diri, saat dinding tinggi istana dunia bawah terlihat didepan matanya sedikit harapan memenuhi mata yi. Belum sampai tubuhnya meloncati dinding tinggi dihadapannya itu, sebuah kekuatan spiritual tebal hitam menghalangi pergerakannya.
"Hahaha... kau ingin mengelabuhi raja ini ?..", ucap dingin zheng bai.
Yi bergerak waspada melihat sosok zheng bai yang tiba-tiba saja ada dihadapannya.
"Chen qu", panggil zheng bai dingin.
"Ya, tuanku", jawab cepat cheng qu.
"Bunuh", perintah zheng bai yang kini tengah membawa tubuh tak sadarkan diri jing mei.
"Haaa... tidak.. tidak... jangan, itu terlalu cepat", desis zheng bai.
"Lumpuhkan, dan bawa tubuhnya ke medan perang... mungkin dua lainnya tengah menunggu temannya yang lain", lanjut zheng bai sembari tertawa dingin.
Chen qu dengan cepat menyerang yi, ia tanpa ampun membuat pemimpin dari klan rubah itu terpojok. Yi yang tengah membawa so sh harus menahan secepat mungkin serangan cheng qu yang terus mengarahkan serangannya kearah tubuh so ah.
Lelaki itu tahu bahwa ia tengah berusaha melindungi so ah !!...
Fokus yi secara otomatis terpecah menjadi dua, ia disisi lain berusaha melindungi dirinya sendiri dan tubuh so ah. Yi dengan gesit mencabut salah satu pedang dari prajurit dunia bawah yang tadinya telah ia bunhh dan balik menyerang chen qu.
Kilatan merah khas dari klan rubah, menyala di kegelapan pekat dunia bawah.
Yi tanpa ampun membalas serangan yang sebelumnya chen qu arahkan padanya. Dengan tangan lainnya yang memegang erat tubuh so ah.
"Cih", decih chen qu yang terlihat sedikit kewalahan.
Ia terpaksa mengambil cambuk yang sebelumnya ia pinjam dari wan yu untuk senjatanya. Kilatan hijau gelap dari cambuk yang berbenturan dengan kilatan merah pedang dari yi saling beradu satu sama lain.
Chen qu yang melihat lawannya lengah dengan kejam mencabuk salah satu tangan yi. Cipratan darah dan daging yang beradu dengan cambuk beracun terdengar renyah diudara.
"Ukh", desis yi.
Kini, ia mundur. Tetesan derah darah hitam ditangannya membuatnya sedikit mati rasa untuk merasakan sakit yang menembus kepalanya. Inti kekuatan spiritual miliknya terasa berdenyut nyeri.
Yi tahu, ia sudah pada batasnya. Dirinya telah berhutang nyawa padanya, ia bagaimanapun caranya harus menyelamatkan permaisuri walaupun itu harus mengorbankan nyawanya karna mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa !!!...
Yi memandang so ah dengan pandangan lembut, walau sekilas pada ekspresinya yang datar dan dingin itu.
Kobaran tekad untuk bertahan terlihat jelas dimata rubah milik yi, ia yang hampir sekarat untuk kedua kalinya berusaha bangkit kembali.
Jika ia mati disini, itu juga merupakan kematian yang membanggakan untuknya !!..
Chen qu yang melihat lawannya kembali berdiri, ia tertawa senang. Senyum kejam terus tersemat diantara sudut-sudut bibirnya, cambuk yang ia bawa terus berkilat hijau mengharapkan darah dan daging lawan untuk terus membasahi setiap jalur cambuknya.
"Apa yang kau tunggu, immortal", desis dingin chen qu. Dirinya merasakan rasa bahagia saat melihat lawannya yang sebagian tangan tubuhnya itu telah berlumur darah hitam.
Racun.
Racun.
Hahaha, sebentar lagi racun dari cambuknya akan meresap masuk kedalam daging dan tendon hingga menusuk kedalam setiap jalur aliran energi spiritual yang mengalir di tubuh immortal itu. Rasa menyiksa yang akan datang sebentar lagi membuat chen qu tertawa puas.
Disisi lain, zheng bai yang melihat perhatian yi telah sepenuhnya fokus kepada chen qu. Ia dengan licik menyebarkan energi spiritual miliknya dan mengambil alih tubuh manusia itu.
Seperti apa yang dipikirkan chen qu, seteguk darah keluar membasahi sebagian besar leher dan pakaian yi yang bercampur dengan darah dibeberapa luka baru miliknya. Tapi ia mengabaikannya, dan mata datar yi sedikit terbelalak panik saat tahu bahwa tubuh so ah telah jauh dari jangkauannya.
"Apa yang kalian inginkan dari manusia itu", tanya yi dingin.
"Lepaskan dia", desisnya lagi.
"Hahahaha... apakah kau telah kehilangan akal ? Atau jatuh cinta pada mahluk fana itu, hahahaha menjijikan", ucap chen qu mengejek pertanyaan yi.
Yi langsung terdiam, ia mengerti apa yang dimaksud chen qu.
Permaisuri memilik sesuatu yamg istimewa !.. dan hal itu juga yang membawa banyak hewan-hewan buas serta spiritual datang mengejar tubuh, darah dan daging wanita itu.
Perasaan dingin melintasi dirinya, yi mulai panik.
"Ugh", seteguk darah kembali keluar dari dalam tenggorokannya.
"MATI"
"MATI"
CTASSSS
BRAKK
Cambukan besar mengenai tepat didadanya, luka robekan mengerikan hingga memperlihatkan daging yang tersobek berantakkan hingga sedikit tulang putih timbul disana.
Yi terduduk tak bisa lagi menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
Chen qu perlahan berjalan mendekati yi, ia terkekeh saat menatap kebawah dimana mahluk immortal dunia atas yang selalu meninggikan dirj mereka kini tengah berada dibawah kakinya.
Ia sangat tak sabar untuk pergi ke medan perang.
Chen qu menendang kasar tubuh lemah yi hingga tubuh itu tersungkur ke tanah.
"Hahahaha menjijikan", ucap dingin chen qu.
"Matilah disini dan menjadi makanan anjing-anjing raja", desis chen qu sadis, ia menyimpan dendam besar karena dunia atas telah membunuh saudara kembarnya.
"Setelah dagingmu habis, tulangmu selamanya akan menjadi pupuk bagi tanah agung dunia bawah !!!... mendengarnya saja membuatku senang dan bahagiaa !!! Hahahahahaha.... hahahahaha", ucap chen wu yang berjalan meninggalkan tubuh yi.
.
.
.
.
.
"LEPASKAN AKU !!", bentak marah jing mei yang telah sadar.
"Diam !", desis dingin zheng bai.
"Berapa kali harus ku katakan, aku membenci pembangkang !", desis zheng bai lagi.
"Duduk dan lihat !", desis zheng bai.
Jing mei dengan paksa duduk diatas batu datar. Ia menatap nanar tangannya yang terikat benang spiritual milik zheng bai, karena benang ini adalah benang pembatas pergerakannya.
Disisi lain, tubuhbso ah dibawa ke altar batu dimana biasanya tubuhnya sendiri yang berada disana.
Perasaan apa ini ?!, pikir jing mei.
Ia merasakan perasaan panik menembus hatinya, ini bukanlah perasaan iba yang biasanya ia rasakan pada manusia lain.
Apakah ini perasaan kasih sayang antara keluarga seperti ini ??, pikir jing mei yang seketika pemikiran itu membawa air dingin kedalam hatinya.
"ZHENG BAI !!!", teriak marah jing mei.
Zheng bai tetap pada fokusnya, ia terlihat membawa belati tajam ditangan kanannya dan berjalan kealtar batu itu.
Tubuh so ah yang kini terbaring ditengah-tengah altar batu, tak bergerak. Hanya hembusan nafas pelan yang menandakan kehiduapannya.
Ia sangat tahu, bahaya besar yang terlihat datang mendekatinya bagaikan ular beracun yang siap memangsa seluruh tubuhnya. Ia masih diam. Dan tetap tak bisa membangunkan dirinya.
Disisi lain, jing mei mulai bergerak gelisah dan panik saat tangan kanan zheng bai yang membawa belati tajam itu melayang diudara menuju leher so ah.
"Ku mohon hiks... jangan bunuh dia... hiks..hiks... kumohon", ucap jing mei memohon pada zheng bai.
Setetes air terasa menuruni pipi jing mei.
Air matanya, untuk pertama kali dalam hidupnya menetes deras.
Bahu zheng bai bergerak tegang mendengar suara jing mei. Tapi, ia tak menghentikan laju tangannya.