The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 248



Cheng rou tertawa senang, bibir merahnya terlihat tertarik didua sisi.


"Darah, aku butuh darah pengorbanan", desis cheng rou santai.


Zheng bai mendengarnya. Ia mendesis dingin, mencari keberadaan jing mei. Sesuai dengan kesepakatan antara ia dan cheng rou mereka hanya akan menggunakan sedikit darah milik jing mei untuk kebangkitan tubuh cheng rou. Tapi, zheng bai langsung murka saat melihat tubuh jing mei yang kini telah dikelilingi mahluk-mahluk menjijikan itu.


"MENJAUHH !!!", desis dingin zheng bai.


Ia melesat pergi untuk mengambil tubuh jing mei tapi tertahan oleh kekuatan cheng rou.


"Niang, apa yang kau lakukan", desis zheng bai.


"Aku ??.. aku tidak membutuhkan sedikit darah !!!... aku harus memulihkan kecantikan ku sekarang juga !!!... dan darah jing mei sangat mempunyai banyak khasiat untuk kecantikan abadi milikku !!!", ucap cheng rou dingin.


Zheng bai murka.


"Ini tidak sesuai perjanjian !!!..", desis marah zheng bai.


"Hahahahha... apa kau tidak lihat sekarang pasukan dunia atas telah menjadi pecundang lemah", desis cheng rou sombong.


"Darahnya harus mengalir ditanah ini bersama dengan darah lainnya !!!...  dan dengan begitu kau bisa dengan sempurna membangkitkan pohon keabadian dan aku mengembalikan kecantikan abadi milikku !!!", desis cheng rou lagi.


"Bukankah dengan begitu kau bisa menduduki ketiga dunia dan segala hal bisa berada dalam genggam tanganmu, ingat nanti akan banyak wanita yang lebih segar dan cantik akan bersimpuh memohon dibawah kakimu", desis cheng rou.


Zheng bai terdiam. Tatapan matanya terlihat datar tanpa ekspresi.


So ah yang melihat tubuh jing mei berada di altar yang sama persis seperti tempat itu. Hatinya serasa jatuh dari tempatnya. Ia bergerak gelisah, ia tahu bahwa altar itu kemungkinan besar akan merenggut nyawa jing mei dan sejak kapan mereka menyiapkan altar itu ?!!... tidak, itu bukan disiapkan. So ah dari atas bisa melihat bahwa seluruh padang kematian ini adalah  bagian dari altar itu sendiri. Dan darah yang mengalir dipadang ini termasuk darah pengorbanan yang zheng bai maksud.


So ah melihat bahwa darah-darah yang menggenang ini belum mencapai inti dari altar. Ia dengan cepat menyerang seluruh pasukan dunia atas dengan sulur-sulur miliknya.


Kekacauan besar terjadi karena so ah yang nekat menerobos masuk kedalam wilayah pasukan dunia bawah.


"TIDAKKK !!!... SO AH JANGAN PERGIII !!", teriak yuan.


So ah mengabaikan ucapan yuan. Ia dengan tegas menuju ketempat dimana jing mei berada.


Jing mei tau apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Ia telah mengetahuinya bahwa dirinya ini tak ubahnya seperti peliharaan yang kapan saja bisa di bunuh jika sudah tepat waktu untuk mengambil manfaatnya.


Tapi, ia begitu kaget saat mengetahui bahwa so ah menerobos masuk kedakam wilayah pasukan dunia bawah.


Jing mei meneteskan air matanya. Ia bisa merasakan tubuhnya yang di cengkeram oleh ikatan sulur.


Air matanya semakin deras menetes.


Sampai akhir, adik perempuannya ini selalu ingin melindunginya.


Cheng rou yang melihat bahwa mangsa berharganya akan diambil oleh mahluk lain. Ia dengan kejam melemparkan pedangnya kearah tubuh so ah.


JLEEBBB


TES


TES


setetes demi setetes darah mulai jatuh dengan deras.


Air mata jing mei semakin deras dan deras.


Tapi, ia sekali ini tak bisa melindungi mei meinya sampai akhir.


Jing mei memeluk tubuh so ah, ia mengelus lembut rambut so ah. Bayangan sosok wajah anak kecil cantik dan menggemaskan terbayang dipelupuk matanya.


Jing mei tersenyum lembut, kedua matanya melengkung cantik.


"Untuk sekali ini, dalam kehidupan ini, mei mei, panggil aku mei jie...  kau sudah tumbuh dewasa dan jie jie belum bisa melihat suami mu, maafkan aku tubuhku sudah pada batasnya dan lagi aku takkan hidup lebih lama dimasa depan, jadi tidak apa-apa bukan jika jie jie tak menemanimu, hanya ini yang bisa kuberikan padamu, yue er", ucap lembut jing mei pada so ah. Jauh sebelum ia bertemu zheng bai, ia telah diracuni secara ganas oleh saudara dan saudari angkatnya di kediaman klan jing, dan ia juga beruntung bahwa ia masih bisa hidup sampai saat ini.


So ah terpaku, ekspresinya begitu pias dan wajahnya memucat. Seakan seluruh tubuhnya dimasukan kedalam air dingin, setiap sudut sel di tubuhnya merasakan nyeri tanpa luka.


"Jie jie... mei jie... jie jie", panggil so ah terisak.


Ia menangis, tangisannya begitu pilu.


Dadanya begitu sesak.


Kenapa ia tak bisa mengenali saudarinya dengan begitu cepat !!..


Tubuh jing mei ambruk dalam pelukannya.


Wajah wanita itu tenang dengan bibir pucatnya tersenyum lembut seakan apa yang ia alami hanyalah mimpi dalam tidurnya. So ah memangku kepala jing mei.


"Jie jie, bangunn... hiks hiks... jie jie... aku... aku telah mempunyai suami huhuhu dia sangat luar biasa huhuhu bajingan itu sangat menyebalkan... jie jie... aku ah tidak... jie jie telah menjadi seorang bibi sekarang, mereka kedua anak yang manis dan penurut... huhuhuhu jie jiee", ucap so ah yang tak bisa menahan rasa sakit dihatinya.


Air matanya mengalir deras. Ia dengan lembut memerintahkan sulur-sulurnya untuk melindungi tubuh jing mei.


So ah yang murka menyerang cheng rou. Aura spiritual merah membara mulai melapisi tubuhnya.


Zheng bai terdiam kaku melihat tubuh jing mei. Ia berjalan mendekati jing mei, lelaki kejam itu terduduk dihadapan tubuh dingin jing mei. Ia memeluk erat tubuh jing mei.


Dingin.


Tubuh wanitanya begitu dingin.


Zheng kembali memeluk erat tubuh jing mei.


"Raja ini tak mengizinkan mu mati !!!... bangun !!!...", desis dingin zheng bai.


Hening.


Jing mei tak lagi menjawabnya.


Zheng bai murka.


Ia tertawa gila. Matanya begitu dingin. Ia dengan hati-hati meletakkan tubuh jing mei ditengah altar pengorbanan.


"Jika sampai akhir kau tak ingin berbicara pada raja ini, tunggulah di altar itu dan raja ini akan menjemputmu kembali", desis dingin zheng bai.


"Jika raja ini kembali dan kau belum bangun, aku akan membunuh seluruh manusia yang telah kau lindungi itu !!!", ancam zheng bai dingin.


Tatapan matanya kini telah bertambah gelap dan gelap. Tak ada lagi sisa-sisa kewarasannya. Cheng rou melihat sosok zheng bai yang kini tengah melesat gila menuju pasukan dunia atas dia tertawa senang.


"Hahahahaha... bagus... baguss... aku tau memancing mu lebih cepat adalah dengan cara seperti ini !!!... bunuh mereka... habisi dan jadilah raja agung !!!... hahahahaha", ucap cheng rou.


So ah marah. Ia begitu marah.


Gelombang kejut secara tiba-tiba keluar dari dalam tubuhnya. Beberapa mahluk dunia bawah yang awalnya akan menyerang dirinya kini terpental jauh. Ia melesat menyerang cheng rou. Air matanya terus mengalir deras melihat kekejian cheng rou.


Darah pengorbanan telah memenuhi seluruh jalur dengan tubuh jing mei sebagai pusatnya.


Gemuruh mengerikan terdengar ditelinga seluruh mahluk yang berada di padang kematian. Gelombang awan hitam besar, disertai petir yang menyambar-nyambar berkilat saling menyatu membentuk akar cahaya di langit hitam. Angin besar mulai datang disertai badai.


Ledakan besar yang mencuat tinggi hingga menembus wilayah dunia atas membuat seluruh mahluk dari dua dunia terdiam kaget dan penuh ketakutan.


Raungan ular spiritual hitam raksasa keluar dari dalam tanah. Ular kuno spiritual dengan racun mematikan telah pergi menuju tuannya.


Cheng rou tertawa bahagia saat melihat ular kesayangannya yang telah dai luan bunuh dipadang kematian hidup kembali.


Cheng rou duduk diatas kepala ular kuno spiritual miliknya. So ah yang tak bisa menyerang cheng rou, mundur karena keberadaan ular besar itu.


Desisan mengerikan keluar dari mulut ular cheng rou.


Seluruh pasukan dunia atas mulai ketakutan.


Siapa yang tidak tahu dengan kebengisan ular kuno spiritual yang dikatakan hanya sebuah legenda itu !!.. kini, ular itu benar-benar berdiri dihadapan mereka.


Pasukan dunia atas yang merasa bahwa nyawa mereka akan berakhir sia-sia jika melawan ular kuno spiritual itu. Mereka mundur dan terus mundur.


Yuan berdiri tegak.


Ia melirik tubuh long yang kini terluka parah karena tabir pelindung telah dirusak dari dalam.


Ia juga melirik yi yang tengah berlari munuju so ah.


"Bajingan itu, cih... disaat seperti ini ia masih ingin melangkahi kaisar ini", desis yuan dingin.


Ia dengan kejam menghempaskan seluruh pasukan dunia bawah dengan brutal dan tanpa ampun.