
Zheng bai yang membawa tubuh jing mei dalam dekapannya, lelaki kejam itu dengan kuat menahan tubuh wanita yang terus memberontak kasar. Ia menekan kekuatan jing mei, dan membawa wanita itu menuju ke kamar utamanya.
"Apa yang akan kau lakukan !!!"bentak jing mei marah.
"Aku ??.."tanya zheng bai bermain-main.
Jing mei tersulut emosi saat menatap wajah dingin di atasnya ini, ia terus memberontak dengan kekuatan fisiknya tapi kalah jauh dibandingkan fisik lelaki yang tengah mengangkatnya ini.
Lemas karena kekuatannya ditekan secata drastis, gerakan memberontak jing mei mulai melemah.
"Kenapa ??"tanya zheng bai dingin.
Ia tidak suka saat wanita ini menjadi lemas tanpa tenaga.
"Cih, lemah"decih zheng bai kasar.
Jing mei menurunkan pandangannya, ia menatap kosong.
"Turunkan aku"ucap jing mei.
"Hahaha kenapa harus"balas zheng bai kasar.
"Kenapa mereka datang kemari"ucap jing mei mengalihkan pembicaraan mereka yang tak pernah ada habisnya.
"Mereka ??"tanya zheng bai pura-pura lupa.
"Klan jing"ucap jing mei jengah.
Lidahnya terasa kelu saat mengucapkan nama klannya sendiri. Setiap kedatangan mereka akan ada suatu hal yang mereka minta pada zheng bai. Entah itu sebuah kediaman penuh harta atau tanah lapang penuh kekuasaan, semua itu tak pernah memuaskan dahaga dari klannya yang serakah dan bodohnya mereka memohon hal itu dengan alasan dirinya.
Ia muak.
Sangat, sangat muak.
Kepalanya berdenyut sakit saat memikirkannya.
Jing mei tanpa sadar mendesis kesakitan, walaupun ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terdengar zheng bai akan tetapi tetap terdengar juga.
"Kau harus berperan sebagai istri yang baik"bisik zheng bai dingin dan meletakkan tubuh jing mei diatas ranjangnya.
"Hmm"ucap jing mei, ia kini mengerti kenapa dirinya dibawa ke kamar milik zheng bai.
Kenapa ia harus bersusah payah berperan sebagai istri yang baik didepan klannya ??..
Jing mei menghela nafasnya. Ia melirik sekilas zheng bai yang kini tengah duduk di ujung ruang yang di gunakan sebagai tempat bersantai.
Kringg...
Jing mei menarik tali yang berada disebelah ranjang, ia memanggil para pelayan. Ia merasa sedikit tidak enak pada tubuhnya, mungkin saja ia terlalu memaksakan dirinya untuk berhadapan kembali dengan para tetua klannya. Apalagi saat melihat permusuhan yang ditunjukkan chang xi padanya, kepalanya langsung terus berdenyut nyeri.
"Salam kepada yang mulia raja dan yang mulia ratu"ucap beberapa pelayan dengan hormat.
"Kalian, bantu aku membersihkan diri"ucap jing mei.
Jing mei dengan acuh berjalan menuju ke pemandian pribadi milik zheng bai, sudah lama sekali semenjak kedatangan para tetua busuk itu ia menggunakan pemandian ini.
Aroma maskulin menyeruak keluar memenuhi indera penciumannya. Ia yang sudah melepas seluruh pakaian yang ia kenakan dengan bantuan para pelayannya langsung memasukkan dirinya sendiri kedalam kolam pemandian.
Jing mei sedikit merilekskan bahunya saat para pelayan ini membersihkan tubuhnya, hingga tanpa sadar ia tertidur pulas.
Zheng bai yang jengah karena menunggu jing mei langsung masuk kedalam pemandiannya.
Ia melihat para pelayannya yang langsung menunduk hormat padanya.
"Ada apa ?"tanya zheng bai dingin.
Mata zheng bai berkilat saat menatap sosok wanita dengan kulit putih bersih yang setengah badannya terendam didalam air. Ia dengan dingin membuka pakaiannya sendiri dan hanya menyisakan celana hitamnya, ia dengan tenang berjalan masuk kedalam kolam pemandiannya.
Rambut hitam jing mei yang basah, bulu mata panjang yang tertutup lentik, wajahnya terlihat sedikit menirus.
Obsesi.
Ia sangat terobsesi dengan kekuatan wanita ini.
Tubuhnya.
Ia juga terobsesi.
Semua tentang jing mei membuat hasrat serakahnya terobsesi.
Zheng bai mengelus lembut pipi jing mei, di depan wanita ini ia merasa sebagai mahluk hina. Ia tak berani menyentuh sosok jing mei, tapi hasratnya terus membara karena wanita ini. Ia menjadi binatang liar yang menyiksa raga
"Kalian, tinggalkan kami..."ucap zheng bai dingin.
Posisi mereka berdua yang terlihat sangat intim membuat para pelayan yang ada dipemandian memerah padam, mereka langsung keluar dari pemandian itu.
Para pelayan-pelayan itu langsung saling berbisik satu sama lain tentang kebersamaan raja dan ratu.
Jing chang xi yang sedang menikmati hari sorenya tersentak karena pendengarannya yang tajam mendengar bisik-bisik penuh api dari mulut para pelayan kerajaan.
Piala ditangannya langsung ia hempaskan dengan kasar, ia yang saat ini sedang meminum anggurnya merasakan sebuah penghinaan besar.
Jalang !!!..
Jing chang xi mengepalkan tangannya, ia tidak perduli dengan kuku-kuku yang mengoyak dagingnya sendiri.
Disisi lain zheng bai melilitkan pakaian luarnya ketubuh jing mei, ia merasakan dari suhu tubuh wanita ini yang walaupun sudah berendam terlalu lama didalam air tapi tidak mendingin tetapi tubuhnya semakin menghangat.
"Cih, mahluk lemah"decih zheng bai sembari mengangkat tubuh jing mei.
"Apa yang kau lakukan !"desis jing mei, matanya setengah sadar tapi masih tetap menatap tajam zheng bai.
"Diam"ucap zheng bai.
Zheng bai yang hanya memakai celananya langsung dengan cepat mengeringkan dirinya sendiri dengan kekuatannya.
"Katakan"ucap zheng bai yang masih dengan membawa jing mei didekapannya.
Kaki putih jing mei tersikap hingga ke lututnya saat zheng bai mendudukan dirinya sendiri ke sebelah ranjang dengan jing mei yang masih ada didalam dekapannya. Ia langsung dengan cepat menarik selimut tebal yang ada dibelakangnya dan membalutnya ketubuh jing mei, hanya kepala wanita itu yang terlihat dari arah wan yao.
"Maafkan ketidaksopanan hamba, yang mulia"ucap wan yao merasa bersalah saat tanpa sengaja melihat wanita milik tuannya.
"Cepat katakan"sahut zheng bai.
"Dunia atas sudah mulai bergerak lagi... mereka dengan cepat memantau keempat arah mata angin"ucap wan yao.
"Dan juga hari ini aku merasakan hembusan kekuatan spiritual yang meledak dari arah hutan dalam kekaisaran Qi"ucapnya lagi.
"Ledakan kekuatan spiritual ??"sahut zheng bai.
"Ya, yang mulia... ledakan itu membuat rubah merah dari dunia atas panik"jawab wan yao.
"Hahaha kira-kira siapa yang sedang sekarat itu ?"tanya zheng bai dingin.
Jing mei yang diam-diam mendengarkan ucapan zheng bai langsung merinding, ia benci tawa lelaki ini. Tapi ia tak bisa terus memaksakan dirinya sendiri untuk terus terjaga, kepalanya seakan dihantam dengan menyakitkan. Menyerah karena tak bisa mendengar sampai akhir percakapan zheng bai dan bawahannya itu, jing mei memejamkan matanya.
Hal terakhir yang ia dengar adalah zheng bai memerintahkan lelaki itu untuk mempersiapkan pasukan dunia bawah dan sesuatu yang lain.