
Terima kasih ma."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menerima roti selai yang telah dibuat kan oleh ibu Saraswati.
"Ayo Laras, kita berbicara di ruang kerja Prince saja.*
Ibu Saraswati mengatakan hal tersebut sambil berdiri dari tempat duduknya dan di ikuti oleh Laras.
"Jadi bagaimana sayang apa yang sebenarnya ingin kau katakan kepada mama dan juga Prince pada pagi ini? mama akan siap untuk mendengarkan hal itu dengan baik."
Ibu Sarawati mengatakan hal tersebut dengan tenang beda dengan Prince yang sejak tadi sudah memandang tajam ke arah Laras.
"Ma, Laras ingin mengalihkan ahli waris ini kepada mas Prince saja."
Deg
Saat ini Ke dua mata Prince langsung terbelalak ketika mendengarkan apa yang ada di dalam pemikiran Laras.
"Sayang kenapa terburu - buru sekali?"
Prince yang nampak kurang setuju mencoba untuk menanyakan kembali apa motifnya.
"Iya mas, maafkan Laras yang secepatnya ingin mengalihkan semuanya kepada mas Prince, saat ini Laras sedang hamil dan Laras ingin berkonsentrasi dengan kehamilan Laras saja, Laras tidak ingin di bebani dengan pikiran yang macam - macam, itu sebabnya Laras secepatnya ingin menyerahkan hak waris kepada mas Prince saja."
"Lagipula mas Prince adalah suami Laras, dan orang yang saat ini Laras percaya."
"Tidak ada salahnya bukan jika Laras menyerahkan semuanya kepada mas Prince?"
"Laras apa yang kau katakan itu benar, tidak ada salahnya kau menyerahkan semua hal itu kepada Prince, alangkah lebih baiknya kau berkonsentrasi dengan kehamilan mu sayang, jangan banyak pikiran."
Prince yang sudah mengetahui rencana demi rencana busuk sang ibunda kini hanya bisa terdiam dan tidak banyak berkata - kata lagi.
"Mas Prince apakah mas bersedia? karena jujur Laras sebenarnya juga kaget ketika mendapatkan kabar jika Laras adalah satu - satunya ahli waris di dalam keluarga mas Prince."
"Meskipun sampai saat ini Laras juga masih belum mengerti mengapa almarhum papa dari mas Prince lebih memilih memberikan hartanya untuk Laras di bandingkan dengan anak kandungnya sendiri, Laras hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya ada di tangan mas Prince."
Laras mengatakan hal tersebut dengan tenang kepada Prince yang sejak saat tadi masih memandang tajam ke arah Laras.
"Laras sebenarnya sama seperti mu, aku juga tidak pernah memperdulikan lagi tentang harta warisan itu, namun aku akan tetap menerimanya jika aku bisa menggunakan harta itu untuk kebutuhan kita berdua, anak kita, dan juga kebutuhan banyak orang."
Dan Laras tersenyum sambil mengangguk kepalanya.
"Nah Laras sayang hari ini mama sudah menyiapkan pengalihan harta warisan itu, Laras hanya cukup untuk tanda tangan saja di bawah materai ini sayang."
Deg
Prince sungguh terkejut ketika sang ibunda sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik
Prince tidak menyangka jika semua sudah di rencanakan dengan matang oleh sang ibunda.
"Iya ma Laras akan tanda tangan."
Tanpa menaruh curiga Laras langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai tersebut.
"Baiklah sayang dengan ini semua harta resmi ada di tangan suami mu tercinta, saat ini kau bisa fokus dengan kehamilan mu."
"Ya ma, terima kasih sudah bersedia untuk datang dan mengurus ini semuanya dengan baik ya ma, terima kasih untuk mas Prince juga."