MY PRINCE

MY PRINCE
KITA SAMA



Prince saat ini hanya bisa menatap tajam ke arah Laras, sungguh baru kali ini Prince mendengarkan sendiri semua liku perjalanan seorang gadis yang sudah hidup tanpa orang tua.


"Mas, ayo lanjutkan makannya, nanti dingin."


"Ah ya kau benar."


Sadar akan Laras yang memperhatikan, Prince kembali melanjutkan menghabiskan makanannya.


Makanan yang di hidangkan oleh Larasati memang memanjakan lidah Prince malam hari ini makan dengan sangat lahap.


"Permisi mas, Lara keluar dulu yah."


Setelah selesai membersihkan piring kotor di atas meja, Laras berpamitan untuk keluar dari dalam kamar.


"Tunggu mau pergi kemana kau?"


Prince yang mengetahui Laras hendak pergi langsung menghalaunya.


"Laras mau keluar mas, Laras mau cuci piring - piring ini."


"Siapa yang meminta mu untuk mencuci piring - piring itu?"


"Tidak ada mas, namun Laras ingin memberikan pelayanan yang terbaik sampai selesai."


Deg


Kata - kata sederhana Laras mampu membuat hati Prince tersentak.


"Sudah, nanti aku minta pelayan untuk mengambilnya, sekarang ayo ikutlah aku."


Prince mengatakan hal tersebut sambil mengandeng tangan Laras.


Deg


Sungguh jantung Laras rasanya mau Copot ketika. Prince menyentuh tangannya.


"Duduklah."


Rupanya Prince mengajak Laras untuk duduk di kursi yang saat ini ada di balkon kamar mereka.


"Ini adalah balkon kamar ku, ya balkon ini memberikan banyak cerita di dalam kehidupan ku."


"Di dalam rumah ini aku sering menghabiskan kecilku dengan papa."


Prince mengatakan hal tersebut sambil mengalihkan pandangannya ke arah Laras.


"Namun rupanya papa pergi begitu cepat, aku belum sempat membalas semua kebaikan papa, aku juga belum sempat membahagiakan papa, dan aku sudah harus kehilangan dia."


Prince mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


"Papa meninggal dengan sesuatu hal yang tidak diharapkan, sesuatu hal yang aku tidak pernah menyangka, namun harus tetap mencintai akan hal itu."


Laras mengernyitkan dahi ketika mendengarkan semua perkataan Prince.


"Kau pasti bingung dengan apa yang aku maksudkan bukan?"


Dengan cepat Laras langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya mas."


"Kau benar, terkadang dunia orang dewasa itu membingungkan, jika waktu terulang lagi, mungkin aku hanya ingin menjadi anak kecil saja, yang hanya tau tentang dunia bermain itu seperti apa, tanpa harus mengalami dunia orang dewasa yang menyesakkan dan kehilangan banyak orang yang kita cintai."


Dan untuk pertama kalinya Laras dapat melihat kejujuran dari wajah Prince, ya kejujuran dari seorang Prince yang terkenal akan arogansi dan perkataannya yang tajam.


Namun di satu sisi, laki - laki itu saat ini duduk di hadapan Laras dengan keadaan yang luar biasa berbeda.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu? kau pasti tidak menyangka bukan jika laki - laki seperti ku juga menyimpan luka hati?"


"Ah bukan seperti itu mas."


Dengan cepat Laras langsung menggelengkan kepalanya.


"Kita sama mas."


"Sama? apa yang kau maksudkan dengan kata sama?"


"Ya sama pernah ada di dalam masa - masa kehilangan orang - orang yang kita cintai."


"Mungkin perjalanan ku dengan perjalanan mas Prince berbeda, namun apa yang kita rasakan itu sama mas, itu sebabnya Laras betul - betul bisa mengerti apa yang mas Prince rasakan saat ini."


"Mas setiap orang pasti pernah mengalami rasa kehilangan, namun menjadi keputusan kita apakah memilih untuk larut atau bangkit."