
Prince mengatakan hal tersebut dengan kesal karen sejak tadi Lidia seperti seakan - akan menunda - nunda hal yang ingin dia katakan.
"Baiklah aku tidak akan basa basi lagi, Prince aku mohon jangan kau tinggalkan Laras."
Melihat keadaan Prince, Lidia langsung mengatakan hal tersebut dan Prince langsung tertawa terbahak - bahak mendengarkan permintaan Lidia yang serius itu.
"Kenapa kau tertawa sampai seperti itu Prince?"
Lidia mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tertawa karena aku sudah sangat yakin bahwa kau akan mengatakan hal ini kepadaku bukan? sebenarnya hal ini sangat malas aku dengarkan, ya sangat malas aku dengarkan lebih lanjut lagi dan sangat muak aku dengarkan."
"Apa yang membuat mu sampai seperti itu Prince?
"
"Kau tanya apa yang membuat ku sampai seperti ini? sungguh lucu pertanyaan mu itu Lidia."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak lucu, karena sadar atau tidak saat kita mengatakan hal yang tidak - tidak terkadang kita harus bercermin dengan apa yang telah kita lakukan juga kepada orang tersebut."
Deg
Di saat itulah Prince langsung terdiam dengan semua hal yang telah di sampaikan oleh Lidia.
"Jadi kau ingin mengatakan jika aku harus melihat masa yang terdahulu, bahwa aku juga pernah memperlakukan Laras dengan buruk? asal kau tau saja Lidia, masa Itu telah lewat dan aku juga telah meminta maaf kepada Laras."
"Lagi pula secara materi aku tidak pernah merugikan Laras akan apa yang telah aku lakukan di kala itu."
Deg
Di saat Prince mengatakan hal tersebut, ke dua tangan Lidia saling menggenggam dengan erat, kedua matanya menatap tajam ke arah Prince, ya saat ini dirinya begitu emosi dengan setiap jawaban demi jawaban bodoh yang telah Prince berikan kepadanya.
Sungguh saat ini Prince langsung menatap tajam kearah Lidia atas apa yang telah dia katakan.
"Apa maksud mu Lidia?"
"Tau kah kau jika Laras telah membaca buku agenda mu di dalam laci meja di dalam kamar mu sendiri?"
Deg
Di saat itulah Prince mencoba dengan keras mengingat -ingat lagi tentang hal ini di masa lalu, ya di masa itu, masa yang sebenarnya tidak ingin dia ingat.
"Ya aku tau, aku pernah menulis beberapa hal di dalam buku itu dan..."
Tiba - tiba saja kata - kata Prince terhenti saat dirinya mengingat sesuatu.
"Tulisan itu, apakah Laras juga membacanya, arrrh tidak mungkin "
Seketika itu juga Prince langsung mengacak - acak lagi rambutnya.
"Tulisan apa Prince? tulisan yang menceritakan bahwa pembunuh ibu kandungnya adalah ibu Saraswati?"
Sungguh hati Prince tersentak ketika mendengarkan semua perkataan Lidia.
Kenapa kau heran kenapa aku mengetahui semuanya?"
Dengan lantang Lidia mengatakan hal itu.
"Aku mengetahui semua hal ini dari buku merah yang aku bawa, ini adalah buku harian Laras yang tertinggal di apartemen nya saat kau membawa paksa Laras dengan segala kecurangan yang kau miliki."
"Saat itu kau hanya tertuju kepada Laras, namun kau melupakan satu hal yang ada di dalam buku ini, aku menemukan buku berharga ini saat aku datang ke apartemennya dan mendapatkan Laras sudah tidak ada."