
Tuhan akan melihat semuanya, seperti yang bibi katakan Tuhan akan memperhitungkan setiap air mata yang keluar."
"Aku akan terus berjuang untuk pernikahan ku, karena apa yang telah di persatukan oleh Tuhan tidak boleh di pisahkan oleh manusia."
"Cinta ku untuk mas Prince tulus, ya selamanya akan menjadi cinta yang tulus."
Laras mengatakan hal tersebut dengan penuh keyakinan.
Saat ini pada akhirnya Laras sadar bahwa meratapi di dalam tangisan saja tidak akan pernah cukup untuk dirinya bisa menjadi contoh istri yang baik.
Laras akan tetap memperjuangkan pernikahan yang diawali tanpa cinta ini dengan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Ayo Laras, sudah siap?"
Lamunan Laras seketika terhenti ketika Andre masuk kembali ke dalam ruang rawatnya.
"Dokter Andre, boleh aku mengetahui berapa biaya perawatan ku ini?"
"Haruskah kau tau?"
Dengan cepat Laras langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya dokter agar aku bisa mengetahui kapan aku mulai mencicilnya."
"Baiklah jika seperti itu, namun jangan kaget yah jika Laras melihat angkanya, ini lihatlah."
Andre mengatakan hal tersebut sambil memberikan satu kwitansi kepada Laras, dan sungguh kedua mata Laras terbelalak ketika melihat nominal angka yang tertera di dalam kwitansi tersebut.
"Dua puluh juta dokter?"
Dengan cepat Andre langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya Laras itulah biayanya."
"Mahal sekali dokter, padahal aku hanya dua hari satu malam di sini."
Andre yang mendengarkan perkataan dari Laras kini hanya bisa tertawa.
"Ya apa yang kau katakan itu benar, namun kau juga harus melihat kamar ini, obat - obatan, tindakan tim medis dan semuanya."
Laras yang kurang mengerti pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya saja
"Iya dokter, Laras mencoba untuk mengerti, namun maafkan Laras, karena mungkin tidak akan cepat menggantinya, karena uang bulanan dari mas Prince untuk Laras belum di transfer."
"Tidak masalah, sudah jangan dipikirkan, kau bisa menggantinya nanti saja, ayo Laras kita sudah bisa keluar."
"Iya dokter."
Setelah mengatakan hal tersebut Laras turun dari tempat tidurnya di bantu oleh bi Ijah.
"Sudah bi biarkan aku saja yang membawanya ke dalam mobil."
Andre mengatakan hal tersebut ketika bi Ijah akan mendorong kursi roda Laras.
"Terima kasih dokter Andre."
"Sama - sama, bibi hati - hati ya kembali ke rumah ."
Setelah mengatakan hal tersebut Andre mendorong kursi roda Laras hingga sampai ke parkiran mobil.
"Aku bisa turun sendiri dokter."
Laras mengatakan hal tersebut karena Andre akan mencoba membantunya turun dari kursi roda.
"Dokter katakan kepada ku yang sebenarnya, dokter ingin mengantarkan aku pulang karena ada yang ingin di bicarakan?"
Di dalam mobil, tiba - tiba saja Laras mengatakan hal tersebut kepada Andre.
"Kau cerdas Laras, ya benar ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepada mu."
"Kenapa tidak membicarakan hal tersebut di dalam ruang rawat saja dokter?"
"Karena ruang rawat bukan ruang privasi untuk sebuah rahasia."
Seketika itu Laras terdiam.
"Apakah ini sangat penting sehingga menjadi sangat privasi?"
Andre yang mendengarkan hal tersebut kembali tersenyum.
"Ternyata kau sangat pintar Laras, kau bisa dengan mudah menebaknya dan kau bisa dengan mudah mengatakan hal itu kepada ku."
"Katakan saja dokter."
"Ya ini sangat privasi, terutama oleh mu Laras."