MY PRINCE

MY PRINCE
JANJI LARASATI



Bi Ijah tetap terdiam dan menatap terus ke arah Larasati.


"Mbak Laras, wanita yang di bawa mas Prince masuk ke dalam rumah ini itu lebih dari satu, terkadang mas Prince membawa dua wanita sekaligus masuk ke dalam kamarnya."


Larasati yang mendapatkan pengakuan itu hanya bisa menutup mulut dengan ke dua tangannya.


"Jadi mas Prince adalah pendukung **** bebas bi?"


Bi Ijah hanya bisa menganggukkan kepalanya dan memilih untuk diam.


"Mbak, maafkan bibi harus mengatakan semua hal ini kepada mbak Laras, bibi yakin mbak Laras adalah wanita yang baik, bukan seperti wanita yang sering di bawa oleh mas Prince kemari."


"Mbak apakah mbak tidak berpikir untuk yang ke dua kali memutuskan akan hidup bersama dengan mas Prince?"


"Maafkan bibi mbak Laras, jika bibi lancang terhadap mbak Laras, namun mbak juga berhak bahagia dan mendapatkan kebahagiaan mbak sendiri."


"Mbak berhak untuk di cintai oleh satu laki - laki yang betul - betul bisa menerima mbak, maafkan bibi, namun beberapa kali bibi mendengar dengan ke dua telinga bibi sendiri jika mas Prince mengucapkan kata - kata yang tidak enak di dengarkan, dan semua kata - kata itu ditujukan kepada mbak Laras."


Laras yang mendengarkan semua nasehat bi Ijah kini hanya bisa terdiam, ke dua tangannya menggenggam erat ujung rok seakan - akan mencari kekuatan yang tersisa dari sana.


"Bi sebelumnya terima kasih untuk setiap hal yang telah bibi katakan, Laras mengerti bahwa apa yang bibi katakan adalah karena bibi sayang kepada Laras, namun apa yang telah menjadi keputusan akan Laras jalani sampai akhir."


"Laras hanya tidak ingin menodai pernikahan Laras sendiri, Laras sudah berjanji kepada diri sendiri apapun keadaannya Laras tidak akan pernah bercerai dari mas Prince."


"Meskipun mas Prince akan terus menyakiti hati mbak Laras?"


Larasati langsung menganggukkan kepalanya.


Laras mengatakan hal tersebut dengan mantap.


"Tapi mbak bagaimana jika akhir dari cerita itu bukanlah sesuatu hal yang baik? apakah mbak Laras juga akan bisa menerima semua hal ini.?"


Deg


Laras kembali terdiam dengan pertanyaan bi Ijah.


"Iya bi Laras akan menerima, yang terpenting Laras akan tetap memberikan pengabdian Laras sebagai seorang istri, bukan karena mas Prince, tapi bentuk rasa cinta, dan kepatuhan Laras terhadap Tuhan, Laras yakin semua hal yang Laras lakukan tidak akan pernah terbuang percuma."


"Mbak sungguh bibi kagum sekali dengan mbak Laras, boleh bibi peluk mbak Laras.


"


"Silahkan saja bi."


Setelah mengatakan hal tersebut Larasati merentangkan ke dua tangannya dan pelukan sayang pun terjadi antara Laras dengan bi Ijah.


"Bibi doakan agar mbak Larasati bahagia yah, Tuhan itu adil, setetes air mata yang mengalir akan di perhitungkan oleh Tuhan, setiap duka yang berani diceritakan akan berubah menjadi sukacita yang luar biasa."


"Doa bi Ijah yang bukan bukan siapa - siapa ini, doa bi Ijah yang hanya seorang asisten rumah tangga akan selalu berserta dengan mbak Laras."


"Terima kasih bi Ijah.