
Kepala ku berputar - putar."
Kepala Laras berputar - putar saat dirinya mencoba untuk berdiri dan karena hal itu pada akhirnya Laras kembali duduk di tempat tidur..
"Lihat saja mas aku akan bertanya banyak hal kepada mu."
Laras mengatakan hal tersebut dengan memegang kepalanya dan dalam posisi duduk di tempat tidur.
"Selamat pagi mbak Laras "
Deg
Satu wanita paruh baya yang sudah sangat tidak asing lagi bagi Laras kini masuk ke dalam kamar membawa troli makanan.
"Bi Ijah, betul ini bi Ijah?"
"Iya mbak Laras ini bibi."
Bi Ijah mengatakan hal tersebut sambil mendekatkan diri ke arah Laras.
"Bi jadi aku betul - betul sedang tidak bermimpi?"
Bi Ijah langsung mengernyitkan dahi ketika Laras mengatakan hal itu.
"Apa maksud dari mbak Laras?"
"Kemarin aku betul - betul masing ingat jika aku masih berada di negara Jepang, namun saat aku bangun pagi ini, tiba - tiba saja aku sudah berada di Indonesia."
Seketika itu juga bi Ijah sadar akan apa yang telah terjadi dengan Laras, namun pada akhirnya bi Ijah memilih untuk tetap diam.
"Tidak ada yang tidak mungkin mbak, tidak ada yang tidak mungkin untuk mas Prince melakukan hal itu demi mbak Laras."
Dan Laras pun terdiam, satu sisi saat ini dia begitu marah atas apa yang telah dilakukan Prince kepadanya, namun di satu sisi yang lain Laras begitu senang bisa kembali pulang ke tanah air.
"Dimana mas Prince saat ini bi?"
Laras yang mendengarkan semua cerita dari bi Ijah kini hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Mbak tidak mau untuk memeluk bibi? sungguh mbak, bibi sangat rindu dengan mbak Laras, namun bibi tidak tau harus mencari mbak Laras kemana, jadi selama ini bibi hanya pendam rindu bibi seorang diri saja."
Kini Laras hanya bisa memandangi satu wanita paruh baya yang terlihat semakin tua tersebut, ada terbersit rasa haru akan setiap kata yang di ucapkan kepadanya.
"Tentu saja aku akan memeluk bibi, kemarilah."
Laras langsung merentangkan ke dua tangannya untuk menerima pelukan dari bi Ijah, dan bi Ijah menyambut pelukan tersebut dengan hati yang sangat bahagia.
"Terima kasih mbak Laras yang selalu baik kepada bibi, terima kasih karena tidak menaruh perbedaan di antara kita."
Tidak ada kata yang di ucapkan oleh Laras kecuali anggukan kepalanya saja.
Tak dapat di pungkiri bi Ijah sudah seperti pengganti ke dua orang tuanya yang telah tiada.
"Mbak Laras, jangan tinggalkan bibi lagi, jika mbak Laras pergi bibi akan ikut mbak Laras."
Deg
Kata - kata yang diucapkan oleh bi Ijah sangat menyentuh hati Laras.
Maafkan aku bi, namun aku tidak pernah bisa menjanjikan bahwa aku akan tetap berada di sini dalam waktu yang lama.
Laras pada akhirnya hanya bisa mengatakan hal tersebut sambil terus tenggelam di dalam pelukan dari bi Ijah.
"Bi, pagi ini bibi masak apa saja untuk ku?"
Laras yang sejak tadi mencium bau harus dari masakan yang ada di troli menanyakan hal itu kepada bi Ijah.
"Ah bibi masak nasi uduk ayam bakar kesukaan mbak Laras."