
Prince yang telah kembali menggunakan semua pakaiannya kini keluar dari dalam kamar dan sama sekali tidak mempedulikan Laras yang saat ini masih pingsan
Dengan langkah kaki yang cepat Prince menuju ke parkiran mobil dan masuk ke dalamnya.
"Jika sampai bulan depan tidak ada tanda - tanda kehamilan maka aku akan melakukan cara yang lebih kasar lagi kepada mu ya, aku benci dengan permainan ini, benci dengan semua hal yang telah memaksa ku untuk melakukan hal ini."
Setelah Prince mengatakan hal tersebut, Prince segera melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Malam hari ini, malam hari yang kembali terjadi ketika Prince kembali memanfaatkan semuanya.
Malam dengan ceritanya masing - masing telah membuat semuanya menjadi kurang baik.
"Pagi mbak Laras, hari bibi bawakan sarapan, dan jus, mbak Laras apakah sudah bangun?"
Pagi ini bi Ijah mengetuk pintu kamar Prince sambil membawakan sarapan dan juga jus kesukaan Laras.
Namun sudah hampir lebih dari sepuluh menit bi Ijah tidak di bukakan pintu.
"Mbak bibi masuk ke dalam yah."
Bi Ijah mengatakan hal tersebut sambil membuka pintu kamar dan begitu bi Ijah masuk betapa kagetnya bi Ijah ketika mendapatkan pakaian Laras yang berserakan di lantai dan Laras dalam keadaan telanjang yang terbalut selimut tebal.
"Astaga mbak Laras, mbak sadar, mbak sadar."
Bi Ijah yang melihat keadaan Laras ada yang aneh langsung menghampiri dan begitu kaget ketika melihat bibir Laras yang memutih dan badannya yang demam tinggi.
"Pak tolong, pak tolong."
Bi Ijah berteriak dengan sangat kencang agar semua penghuni rumah mendengarkannya, dan seketika itu juga para pengawal segera masuk ke dalam kamar.
"Ayo bawa mbak Laras ke rumah sakit!"
Bi Ijah mengatakan dengan lantang untuk mengangkat Laras yang saat ini hanya terbungkus oleh selimut tebal..
"Astaga mbak Laras, malang sekali nasib mu mbak."
Bi Ijah mengatakan hal tersebut dengan berderai air mata.
Mobil dengan cepat meninggalkan kediaman Prince untuk menuju ke ruang sakit agar Laras segera di tangani.
Sementara itu di rumah utama, saat ini tersirat raut wajah dengan penuh kemarahan dari satu nyonya besar.
"Baik bi, aku mengerti, sebentar lagi aku akan segera ke rumah sakit.*
Setelah mengatakan hal tersebut wanita paruh baya itu segera kembali masuk ke dalam kamar dan mempersiapkan segalanya.
"Mama akan sangat marah kepada mu Prince, jika sampai terjadi apa - apa dengan Laras, kenapa kau sama sekali tidak bisa bersabar, mama hanya meminta mu untuk bersama dengan Laras sampai dia bisa melahirkan anak untuk keluarga kita."
"Namun apa yang kau perbuat sekarang Prince kau malah hampir membunuhnya."
Ibu Saraswati mengatakan semua hal tersebut sambil duduk di depan kaca riasnya.
"Aku baru segera ke rumah sakit ya harus."
Setelah mengatakan hal tersebut ibu Saraswati segera keluar dari dalam rumah, masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan sedang hingga menuju ke rumah.
Sesampainya di sana ibu Saraswati langsung menuju ke ruang unit gawat darurat.
"Keluarga Ibu Laras."
Salah satu dokter memanggil perwakilan dari keluarga Laras.
"Ya dok saya ibu mertuanya."
"Keadaan ibu Laras sudah mulai membaik.