
Bi Ijah kini hanya bisa menatap tajam ke arah Laras, saat ini bi Ijah sedang melihat apakah ada kebohongan dari setiap kata - kata yang telah disampaikan oleh Laras .
"Baiklah mbak Laras, bibi tidak akan mengatakan hal apapun kepada mas Prince."
"Terima kasih bi Ijah."
"Namun berjanjilah satu hal kepada bibi."
"Janji apa bi?"
Laras mengatakan hal tersebut dengan mengernyitkan dahinya.
"Berjanjilah ketika mbak Laras ada masalah, mbak Laras juga harus terbuka dengan bibi."
"Pasti bi, pasti."
"Baiklah mbak, sekarang bibi bisa tenang
"
"Iya bi, ya sudah Laras mandi dulu ya bi, karena nanti Laras akan membantu bi Ijah untuk menyiapkan makan malam untuk mas Prince."
Bi Ijah tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya mbak Laras."
Dengan cepat Laras naik ke lantai dua dan meletakan tas kecil lalu mencari barang yang selama ini membuatnya tergantung dan belum bisa terlepas dari tubuhnya.
"Aku harus secepatnya melakukan hal ini, agar mas Prince tidak mengetahui semua hal yang saat ini sedang aku lakukan."
Dengan tergesa - gesa Laras menyuntikkan obat tersebut ke dalam tubuhnya dan setelah semua proses seleksi, Laras menggunakan cairan yang dia dapatkan secara ilegal untuk menyamarkan bekas suntikan agar tidak terlihat dengan mata telanjang..
"Aku harus segera mandi dan merias diri untuk mas Prince."
Setelah mengatakan hal tersebut Laras segera beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Satu rutinitas baru yang saat ini Laras lakukan adalah merawat dirinya dengan mandi dan menggunakan aroma therapi.
Sejak Prince sering menyentuhnya, di saat itulah Laras mulai kembali merawat dirinya dengan baik.
Sementara itu kini terdengar mobil masuk ke dalam parkiran rumah dan Laras yang mendengarkan suara mobil langsung berlari ke arah balkon untuk melihatnya.
"Mas Prince sudah kembali, ya aku harus secepatnya turun kebawah untuk menyambutnya."
"Selamat datang mas Prince."
Tepat sampai di bawah, tepat pula Prince membuka pintu ruang tamu.
"Sayang harus sekali."
Prince yang melihat sang istri dandan dengan sangat cantik langsung memeluknya, seketika itu rasa lelah dan rasa tertekan hilang sudah ketika Prince memeluk Laras.
"Mandilah dulu mas, bi Ijah sedang mempersiapkan makan malam untuk kita."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menepuk - nepuk pundak Prince.
"Iya sayang sebentar aku ingi memeluk mu sebentar saja."
Prince terus mengatakan hal itu dan tidak mau melepaskan pelukannya dari Laras.
"Mas tangan ku kram."
Setelah kesekian menit pada akhirnya Laras mengatakan hal itu juga kepada Prince.
"Ah sayang maafkan aku, maafkan."
Dan dengan terpaksa pada akhirnya Prince melepaskan semua pelukannya tersebut.
"Iya mas, berat."
Laras mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.
"Mandilah, aku tunggu di meja makan, aku juga sudah menyiapkan baju mu di dalam kamar tamu."
"Ya aku akan mandi, nanti malam kita tidur bersama ya sayang."
Prince mengatakan hal tersebut seakan - akan sedang ingin merajuk kepada Laras.
"Mandilah dulu mas, nanti makanan itu dingin ."
"Katakan dulu kepada ku sayang."
"Ya mas, aku akan tidur di kamar tamu dengan mu nanti malam, ayo cepat mandi mas."
Laras yang sudah sangat gemas dengan suaminya terus mengatakan hal tersebut.