
Laras yang pagi itu sudah rapi menyapa bi Ijah yang sejak tadi masih sibuk di dapur.
"Mas Prince sudah berangkat terlebih dahulu mbak."
"Ya bi aku tau, kirimkan saja sarapan dan makan siangnya, aku tidak ingin mas Prince sampai telat makan."
"Baik mbak Laras."
Dan setelah mengatakan hal tersebut bi Ijah segera menyiapkan bekal untuk dibawa supir ke kantor.
"Siapa yang menghubungi ku sepagi ini?"
Sarapan Laras pagi ini cukup terganggu dengan dering panggilan di dalam ponselnya yang sejak tadi tidak bisa diam.
"Nomor tak di kenal, lebih baik aku tidak mengangkatnya."
Mengetahui nomor tak di kenal, Laras pada akhirnya tetap tidak mau mengangkat panggilan di dalam ponselnya.
"Astaga siapa sebenarnya pemilik nomor ini."
Laras yang sudah sangat terganggu pada akhirnya mengangkat panggilan tersebut dan seketika itu raut wajahnya menjadi serius.
"Ya aku mengerti, aku akan segera kesana, katakan kepadanya aku tidak akan menggunakan supir, namun aku akan menggunakan transportasi umum saja."
Selesai mengatakan hal tersebut Laras langsung meletakkan sisa roti yang dia makan, dengan cepat Laras langsung berdiri dari kursinya dan mengambil tas di dalam kamar.
"Mbak Laras mau kemana?"
Deg
Begitu keluar kamar Laras sanga kaget karena tiba - tiba saja bi Ijah sudah berada di depan kamarnya.
"Bi ada urusan sebentar, katakan pada supir hari ini aku tidak akan memakainya, aku akan menggunakan transportasi umum."
"Tapi mbak Laras, pesan mas Prince.."
Laras mengatakan hal tersebut dengan nada cepat.
"Tapi mbak,."
"Sudah bi aku harus pergi "
Setelah mengatakan hal tersebut Laras lamb berlari ke arah pintu keluar dan pergi begitu saja dari rumah.
"Semoga keadaan mbak Laras baik - baik saja, karena sepertinya mbak Laras sedang tidak baik - baik saja."
Bi Ijah mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya.
Bi Ijah yang mengetahui semuanya kini hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa bisa membantu apapun.
Sementara itu di dalam kantor saat ini terjadi ketegangan demi ketegangan di dalam rapat direksi.
"Pak Prince kami selalu pemegang saham sangat kecewa dengan kepemimpinan bapak, kami tidak mengetahui seberapa besar standar keamanan yang yang bapak pakai di dalam setiap produksi yang ada, karena kami tidak menyangka tiba - tiba beberapa pabrik produksi pakaian yang ada di luar pulau bisa terbakar secara bersamaan."
"Sebenarnya kami tidak mau tau apakah ini sabotase atau bukan, karena yang ingin kami tau bahwa seharusnya hal - hal seperti ini bisa lebih di antisipasi lagi."
Salah satu pemegang saham mengatakan hal tersebut kepada Prince terhadap setiap hal yang saat ini tiba - tiba saja terjadi secara bersamaan.
"Untuk yang pertama maafkan kelalaian ku di dalam hal ini, namun saya berjanji akan segera menyelesaikan semuanya dengan cepat."
"Siapa yang dapat menjamin jika semuanya akan selesai dengan cepat pak Prince?"
"Ya betul apa yang dikatakan oleh rekan kami, saat ini kami berada di dalam krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan yang telah bapak pegang."
Deg
Sungguh saat ini runtuh sudah rasa kepercayaan diri Prince terhadap semua orang yang telah hadir di dalam rapat.