
Laras kembali mengatakan hal tersebut sambil terus mencoba makanan tersebut beberapa kali sambil mencoba mengingat - ingat rasanya.
"Ibu dulu pernah mengatakan untuk menyenangkan laki - laki ada dua cara, cara pertama dengan perutnya, cara yang ke dua dengan kehidupan ranjang yang hangat untuknya."
"Jika saat ini aku belum bisa melayaninya di dalam hubungan suami istri, maka aku akan membuatnya bahagia lewat perutnya."
Larasati mengatakan semua hal tersebut dengan penuh percaya diri, saat ini Larasati akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Prince.
"Mas, aku hanya akan berusaha menjadi istri mu yang baik."
Dan setelah mengatakan semua hal tersebut Larasati mencoba untuk mengolah bahan - bahan yang telah disediakan di kulkas sesuai dengan rasa yang telah dia coba.
"Selesai, ternyata memasak steak itu tidak sesulit yang aku bayangkan, ya asalkan kita berusaha, pasti bisa."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menyeka keringatnya, dan di tepat di saat yang sama, Larasati melihat bi Ijah telah kembali ke dapur.
"Bi Ijah darimana saja?"
Larasati menanyakan hal tersebut kepada bi Ijah, karena setelah mengantarkan makana untuk Prince tidak kembali ke dapur di dalam waktu yang cukup lama.
"Ah bibi habis di minta mas Prince untuk membantunya membuatkan menu makanan selama satu Minggu."
"Menu makanan mas Prince selama satu Minggu?"
"Betul mbak, mas Prince adalah laki - laki dengan semua jadwal yang teratur."
"Termasuk kapan dia harus makan dan apa yang masuk ke dalam mulutnya itu maksud bibi?"
"Tepat sekali mbak Laras."
"Bi boleh Laras minta tolong kepada bibi?"
Entah mendapatkan kekuatan darimana tiba - tiba saja Laras mengatakan hal tersebut kepada bi Ijah.
"Boleh Laras melihat daftar makanan untuk mas Princes selama satu Minggu ke depan, daftar makanan yang telah bi Ijah susun bersama dengannya?"
Bi Ijah langsung terdiam dengan permintaan dari Larasati.
"Anu mbak, maafkan bibi, namun sepertinya di dalam hal ini bibi tidak bisa menolong mbak Laras."
Deg
Wajah Laras langsung berubah ketika bi Ijah mengatakan hal tersebut kepadanya.
"Kenapa bi? apakah mas Prince begitu eksklusif dengan makanan sendiri untuk di lihat oleh istrinya?"
"Mbak, maafkan bibi, sebenarnya bibi tidak sampai hati mengatakan hal ini kepada mbak Laras, namun mas Prince berpesan agar tidak memberitahukan apapun kepada mbak Laras tentang dirinya, sekali lagi bibi minta maaf ya mbak Laras."
Sungguh Larasati hanya terdiam ketika mendengarkan perkataan demi perkataan bi Ijah, seketika hatinya kembali menciut ketika mendengarkan perkataan yang kembali menusuk hatinya.
"Baiklah Laras mengerti bi, Laras tidak akan memaksa bi Ijah untuk memberitahukan hal ini, Laras akan mencoba mengerti posisi bi Ijah."
"Iya mbak, maafkan bi Ijah ya mbak Laras."
Dengan berat hati Laras pada akhirnya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kepada keputusan dari bi Ijah.
"Tenang Laras, masih banyak cara yang bisa engkau gunakan di dalam hal ini, jika pagi ini kau bisa memasak salah satu masakan kesukaan Prince, bukan tidak mungkin kau akan mengetahui satu per satu hal - hal yang di sukai oleh Prince."
"Ya perlu kau lakukan hanya bersabar Laras, ya bersabar."
Larasati mengatakan hal tersebut sambil menyantap steak ayam buatan sendiri.
Saat ini Larasati mencoba untuk menyimpan air matanya kuat - kuat.