
Prince tidak peduli lagi dengan semua hal yang ada di sekitarnya saat ini, bagi Prince yang terpenting rasa haus dan laparnya bisa terpuaskan dengan sangat.
Waktu yang terus berlalu membuat matahari yang terik dengan perlahan berganti menjadi malam dan saat ini Prince masih asyik dengan Jesika dan enggan untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Tidak adanya cinta di rumahnya sendiri membuat Prince rasanya tidak ingin pulang lagi.
Malam yang semakin larut, namun saat ini Laras masih sendiri dan tertidur di depan makan menunggu kepulangan Prince.
"Mbak Laras, mbak bangun."
Bi Ijah yang kebetulan lewat di depan meja makan langsung membangunkan Laras ketika melihat Laras tidur dengan sangat nyenyak di meja makan.
"Ah bi, sekarang jam berapa?"
"Sudah jam dua belas malam mbak."
Deg
Seketika itu juga Laras langsung terbangun.
"Astaga Laras ketiduran bi, pasti mas Prince marah karena Laras tidak mempersiapkan makan malamnya."
Dengan tergesa - gesa Laras mengambil ikat rambut dan mencoba untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Mbak duduklah dengan tenang, karena mas Prince belum pulang."
Dan seketika itu juga Laras kembali tersadar.
"Mas Prince belum pulang bi?"
Dengan cepat bi Ijah langsung menggelengkan kepalanya.
"Sampai selarut ini mas Prince belum kembali mbak Laras, jadi tidurlah di kamar, biar bi Ijah yang membersihkan semuanya ini."
Laras terdiam dan memandang semua makanan yang saat ini masih terhidang di depan ke dua matanya.
Sungguh tidak ada satu kata pun yang Laras bisa katakan katakan lagi..
"Mbak Laras, apakah anda baik - baik saja?
"
"Bi, tidulah, Laras akan tetap berada di sini menunggu mas Prince untuk pulang."
Bi Ijah hanya bisa menatap iba Laras yang mengatakan hal itu didepan ke dua matanya.
Sebagai asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di tempat ibu Saraswati, bi Ijah sangat hafal dengan karakter Prince, menunggu sama saja dengan menuggu seseorang yang sedang tidak ingin kembali ke rumahnya sendiri.
"Tapi mbak, mungkin mas Prince sedang banyak kerjaan, jadi menginap di tempat temannya, jadi mbak Laras tidur saja."
Dengan cepat Laras langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak bi aku akan menunggu mas Prince sampai dia pulang."
Kegigihan Laras pada akhirnya membuat bi Ijah harus undur diri dari hadapannya.
"Baiklah mbak, jika itu menjadi keinginan mbak Laras."
Setelah mengatakan semua hal tersebut bi Ijah pergi meninggalkan Laras seorang diri.
"Mas, sebenarnya saat ini kau ada dimana? semua makanan yang aku masak ini akan basi, mas cepatlah pulang, aku akan menunggu mu disini mas."
Hal tersebut yang Laras terus perkatakan sambil memandang ke arah makanan yang sejak tadi tidak disentuh sama sekali oleh tangan manusia.
Kegigihan Laras untuk tetap menunggu kedatangan Prince rupanya tidak dengan sebanding dengan rasa kantuknya yang terus menyerang
Dan pada akhirnya Laras kembali terpejam di meja makan sampai pagi.
"Hei, hei bangun ini sudah pagi."
Laras merasakan ada yang menyentuh pundaknya, dengan perlahan dia membuka ke dua mata dan apa yang ingin dia lihat semalam pada akhirnya muncul juga.
"Mas, Prince, mas sudah pulang, mas mau makan apa? biar Laras hangatkan makanannya."
"Kau akan menghangatkan makanan basi ini untuk ku?"