
Ya hasrat Prince malam hari ini naik dengan begitu cepat, setiap permasalahan yang dia alami dia bawa ke dalam hasrat yang pada akhirnya tersalurkan dengan baik.
Malam hangat yang terjadi kembali dengan penuh kebahagiaan dari sisi Prince atas setiap hal yang telah dilakukan oleh sang istri.
Permainan panas yang terjadi karena sebuah hal yang saat ini sedang terjadi di dalam diri Prince.
"Pagi mbak Laras, mbak buka pintu sebentar mbak."
Pagi ini Laras terbangun karena Mendengarkan ketukan dari bi Ijah.
"Mas Prince sudah tidak ada rupanya."
Saat Laras mulai tersadar dari tidur panjangnya, ternyata sebelahnya sudah kosong.
"Mbak Laras bisakah membuka pintunya sebentar?"
Laras yang kembali mendengarkan suara bi Ijah langsung kembali tersadar.
"Iya bi tunggu sebentar."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk mencari kembali baju demi baju yang saat ini berserakan di lantai.
"Ada apa bi Ijah pagi - pagi seperti ini sudah mengetuk - ngetuk pintu kamar."
Laras mengatakan hal tersebut sambil memakai satu per satu bajunya kembali, ya karena saat terbangun Laras masih tidak menggunakan sehelai baju pun.
"Ada apa bi Ijah?"
Setelah Laras menggunakan pakaian lengkap, Laras segera membuka pintu kamar dan mendapatkan bi Ijah dengan wajah pucatnya.
"Ada beberapa aparat kepolisian di ruang tamu mbak Laras "
Deg
Sekujur tubuh Laras langsung tidak bertenaga saat Laras mendapatkan kabar itu di pagi hari.
"Apara kepolisian? untuk apa mereka datang kemari bi?"
"Ada hal yang ingin dibicarakan dengan mbak Laras."
Deg
Sungguh saat ini keringat dingin mulai bermunculan dari tubuh Laras.
"Lalu bibi bilang aku ada di rumah?"
"Iya mbak Laras."
Seketika itu juga Laras terdiam, saat ini dia tidak dapat lagi untuk menghindar dari segala sesuatu hal yang sedang terjadi.
"Baiklah bi, aku akan menemui mereka sekarang, ayo bi."
Laras mengatakan hal tersebut dengan berjalan ke ruang tamu, saat ini dirinya masih menggunakan baju tidur dan langsung menuju ke ruang tamu untuk bertemu dengan para aparat.
"Apakah anda ibu Laras?"
"Betul pak, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Menurut laporan dari saksi mata, anda adalah pengguna obat - obat terlarang, untuk itu kami membawa surat perintah untuk mengeledah seluruh isi rumah ini."
Deg
Jantung Laras berdetak sangat kencang.
"Tapi pak ini rumah suami saya, dan suami saya sedang tidak ada di tempat."
Laras mengatakan hal tersebut agar mendapatkan alibi yang kuat agar rumah tersebut tidak di geledah.
"Kami tetap akan melakukan hal ini ibu Laras, kami minta untuk anda dapat bekerjasama dengan kami."
Dan tidak ada yang bisa Laras lakukan lagi kecuali mengizinkan para aparat kepolisian untuk mengeledah semua ruang Prince.
"Kunci kamar lantai dua Bu Laras."
Deg
Dan saat yang sangat menakutkan pun tiba, di saat salah satu aparat meminta kunci kamar Laras yang ada di lantai dua.
"Ini pak."
Laras menyerahkan kunci tersebut kepada salah satu aparat yang memintanya.
Sungguh saat ini tidak ada lagi yang bisa Laras lakukan kecuali pasrah.
Para aparat pada akhirnya masuk ke dalam kamar dan menggeledah isi kamar tersebut.
Satu per satu barang bukti mulai di temukan dan di kumpulkan oleh aparat dan Laras saat ini hanya bisa menatap nanar.