
Seketika itu juga Prince langsung mengernyitkan dahi.
"Kamar tamu? kamar ku?"
Dengan cepat Laras langsung mengangguk kan kepalanya
"Iya mas di sana saja, mas jangan berpikir macam - macam ya, balkon di kamar tamu adalah balkon paling enak untuk kita bisa berbincang."
Prince yang mendengarkan perkataan Laras kini kembali tersenyum.
"Aku tidak munafik sayang, sejenak yang lalu pikiran ku begitu melayang - layang saat kau menginginkan untuk berbicara dengan baik di balkon kamar tamu."
Laras yang mendapatkan jawaban terbuka dari Prince memilih tidak memberikan reaksi apapun.
"Ya sudah ayo, kau tidak perlu khawatir meja ini akan dibereskan oleh para asisten rumah tangga di dalam rumah ini."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menunjukkan sisa makan malam mereka berdua.
"Ayo mas."
Laras dan Prince langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar tamu yang ada di lantai satu.
"Jadi apa yang ingin kau katakan sayang? saat ini kita sudah ada di balkon kamar."
Prince mengatakan hal tersebut sambil duduk di samping Laras.
"sebenarnya tidak ada yang ingin aku katakan mas, ya lebih tepatnya tidak terlalu serius"
Prince yang mendengarkan hal itu kini langsung mengernyitkan dahi.
"Sayang aku tau dengan sikap mu yang seperti ini semakin membuat ku penasaran."
"Pejamkan ke dua mata mu mas."
Laras meminta Prince melakukan hal itu dan apa yang di minta oleh Laras semakin membuat Prince bahagia.
"Baiklah sayang, malam hari ini suami akan patuh kepada semua perkataan isterinya."
Prince mengatakan hal tersebut sambil memejamkan ke dua mata.
"Mas sudah, mas bisa membuka mata."
"Sayang apa ini?"
"Buka saja mas."
Laras mengatakan hal tersebut sambil meminta Prince meminta membuka satu kotak hitam kecil.
"Baiklah aku buka ya."
Dengan cepat Prince membuka kotak hitam tersebut dan begitu Prince mengetahui isi yang saat ini ada di dalam kotak tersebut ke dua matanya langsung berbinar - binar.
"Jam tangan? sayang kau membeli kan aku jam tangan?"
Laras langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya mas, tadi aku melewati outlet jam tangan khusus pria, dan aku membelikan mas Prince satu jam tangan, tapi sayangnya aku tidak mengetahui apakah mas Prince suka atau tidak dengan pemberian ku ini."
"Sayang tentu saja aku sangat suka, ini adalah hadiah paling indah yang pernah aku terima, aku pakai ya sayang."
Laras langsung menganggukkan kepalanya, dan Prince langsung memakai jam tangan yang Laras sebenarnya tidak sengaja saat membelinya.
"Bagaimana, apakah aku terlihat semakin tampan dengan tangan tangan ini? pasti karena ini adalah pemberian dari istri ku yang paling cantik."
Detik itu juga Laras tertawa, baginya tingkah Prince malam hari ini sayang lucu.
"Laras sayang terima kasih, ya terima kasih malam ini adalah malam yang sangat berarti untuk ku, ya sayang sangat berarti, dan aku tidak akan pernah untuk melupakannya."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengenggam tangan Laras.
"Sayang boleh aku menanyakan sesuatu hal kepada mu?"
"Katakan saja mas."
"Aku tau apa yang akan aku bicarakan ini masih tidak pantas untuk mu, namun sungguh aku ingin melakukan karena aku sangat mencintaimu sayang."
Deg
Di saat itulah Laras mulai mengerti arti pembicaraan dari Prince.