
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengambil vas bunga yang ada di meja dan bersiap untuk melemparkan ke wajah Prince.
"Laras sayang aku mohon jangan kau lempar itu kepada ku, wajah ku yang tampan akan terluka dengan vas bunga itu."
Prince mengatakan hal tersebut dengan lembut agar Laras segera menghentikan keinginannya untuk melemparkan vas bunga ke wajah Prince.
"Mas, kau jahat!
"
Laras mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Prince, namun pada akhirnya meletakkan kembali vas bunga tersebut di atas meja.
Dengan cepat lalu Laras berjalan ke arah balkon kamar dan duduk di sana.
Prince yang mengetahui istrinya masih sangat marah kini hanya bisa tersenyum.
Dengan melepaskan dari dan juga membuka sedikit kemejanya Prince juga berjalan ke arah balkon dan langsung duduk di samping Laras.
"Laras hei, maafkan aku."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk menyentuh punggung Laras yang saat ini duduk membelakanginya.
"Sayang aku tau aku salah, namun aku terpaksa melakukan hal itu."
Seketika itu juga Laras langsung membalikan badan dan menatap tajam kembali ke arah Prince
"Terpaksa mas katakan? mas apakah mas pernah berpikir jika tindakan yang mas lakukan ini penuh resiko? bagaimana jika pada akhirnya aku tidak bisa bangun kembali karena dosis obat penenang yang mas masukkan ke dalam tubuh ku terlalu banyak?"
"Bagaimana jika pada akhirnya aku mati karena hal ini, bagaimana akhirnya jika aku..."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menempelkan jari telunjuknya kepada bibir Laras.
"Aku melakukan hal ini dengan penuh resiko, karena aku betul - betul tidak bisa hidup tanpa mu sayang, dan ini bukan rayuan, namun ini adalah kenyataan."
Prince mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke dua mata Laras, ya ke dua mata yang membuat Prince bisa nekat untuk melakukan hal apapun.
"Mas kau tidak pernah mengerti!
"
Laras yang masih marah namun tidak bisa mengatakan banyak lagi langsung kembali membelakangi Prince.
"Ya aku memang tidak pernah mengerti dan tidak akan mengerti dengan semua hal gila yang aku lakukan untuk mu Laras."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menyandarkan diri di kursi dan ke dua matanya menatap ke arah langit.
"Namun satu hal yang pasti, aku tidak menginginkan perceraian, aku sudah kehilangan calon anak kita, dan itu rasanya sakit sekali."
"Yang lebih sakit lagi saat aku berada di rumah sakit aku mengetahui kabar itu bukan dari mu, namun dari pihak rumah sakit, saat aku berlari ke arah ruang rawat mencoba untuk menguatkan mu, namun saat aku tidak di sana, kau sudah tidak ada."
"Di hari yang sama aku kehilangan istri dan juga calon anak, hari itu adalah hari yang paling. berat untuk ku."
"Namun saat itu aku masih saja kalah dengan ego ku yang tidak segera untuk menjemput mu, aku malah mencoba memposisikan diri sebagai korban dan mengasihi diri sendiri."
"Ya mengasihi diri sendiri yang pada akhirnya berakibat fatal, dengan lama tidak di pertemukan dengan mu."
Prince mengatakan hal tersebut sambil kembali mengenang masa yang paling buruk terjadi di dalam kehidupannya.