MY PRINCE

MY PRINCE
TAKUT KEHILANGANMU



Prince yang sudah tidak sabar kembali mengguncang tubuh Laras..


"Mas sebenarnya, sebenarnya."


Laras terdiam karena tiba - tiba kini kepalanya berkunang -kunang.


"Hei Laras ada apa? katakan saja sayang."


"Sebenarnya Laras, sebenarnya.."


Dan belum selesai mengatakan hal apapun tiba - tiba saja Laras pingsan di dalam pelukan Prince.


"Astaga Laras ada apa dengan mu sayang."


Prince mengatakan hal tersebut sambil mencoba membangunkan Laras.


"Bibi, siapkan mobil!"


Dan setelah mengetahui Laras tidak juga bangun, Prince langsung berteriak kepada bi Ijah untuk menyiapkan mobil..


Bukan menjadi persoalan yang berat bagi Prince untuk mengangkat Laras yang cukup berisi, badan Prince yang seperti seorang atlet dengan mudah menggendongnya.


"Mas, mbak Laras kenapa mas?"


Bi Ijah yang mengetahui Laras pingsan dan di gendong oleh Prince langsung mengatakan hal tersebut.


"Entahlah bi, tiba - tiba saja Laras pingsan, ayo bi bantu aku untuk membukakan pintu mobil."


"Baik mas Prince."


Dengan cepat bi Ijah mengatakan hal tersebut kepada Prince.


"Bi jaga rumah, kabari mama jika Laras pingsan dan sedang aku bawa ke rumah sakit."


"Baik mas Prince."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Prince masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil dalam kecepatan tinggi untuk menuju ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama untuk Prince sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke unit ruang gawat darurat.


"Dokter tolong istri saya ."


"Baik pak, silahkan anda tunggu di luar saja."


Dam setelah mengatakan hal tersebut sang dokter menutup pintu unit ruang gawat darurat.


Di saat inilah Prince baru menyadari jika Laras begitu berarti baginya, di saat ini lah Prince baru menyadari betapa berartinya Laras di dalam kehidupan nya.


Prince yang tidak dapat duduk dengan tenang hanya berjalan mondar - mandir menuggu dokter membukakan pintu ruangan tersebut.


"Suami dari mbak Laras?"


Deg


"Ya saya dokter, saya suami dari Laras."


"Selamat pak sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah."


Deg


Seketika itu juga Prince terdiam.


"Maksud dokter Laras hamil?


"


Dengan cepat sang dokter langsung menganggukkan kepalanya..


"Bapak harus menjaga istri dan juga janin nya dengan baik."


"Baik dokter , terima kasih."


Prince mengatakan hal tersebut dengan wajahnya yang sangat gembira.


Langsung saja Prince masuk ke dalam ruang unit gawat darurat, dan melihat Laras terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya.


"Sayang, kenapa kau tidak memberitahukan kepada ku?"


Prince mengatakan hal tersebut dengan mencium kening istrinya berkali - kali.


"Mas, maafkan Laras, Laras belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini."


Laras mengatakan hal tersebut sambil memegang lengan Prince.


"Aku sangat khawatir terhadap mu, aku bisa gila jika kau pingsan seperti tadi lagi."


Laras yang mendengarkan hal tersebut hanya tersenyum dan terus tersenyum, perkataan Prince yang jujur membuat Laras saat ini yakin jika Prince betul - betul mencintainya.


"Sayang maafkan aku."


"Maaf? untuk apa mas minta maaf?


"


Laras mengatakan hal tersebut sambil mengernyitkan dahinya.


"Maaf jika semalam aku terlalu membuat mu lelah, aku tidak tau jika saat ini kau sedang hamil, aku berjanji tidak akan kembali menyentuh mu seperti semalam, maafkan aku ya sayang."


Prince mengatakan hal tersebut dengan penuh penyesalan, karena permainan yang dia lakukan terhadap Laras.