
Ya sama pernah ada di dalam masa - masa kehilangan orang - orang yang kita cintai."
"Mungkin perjalanan ku dengan perjalanan mas Prince berbeda, namun apa yang kita rasakan itu sama mas, itu sebabnya Laras betul - betul bisa mengerti apa yang mas Prince rasakan saat ini."
"Mas setiap orang pasti pernah mengalami rasa kehilangan, namun menjadi keputusan kita apakah memilih untuk larut atau bangkit."
"Dan sepertinya aku masih berada di dalam fase ini."
Seketika itu juga Prince mengatakan hal tersebut di hadapan Laras, entah mendapatkan kekuatan darimana karena tiba - tiba saja Prince bisa menjadi dirinya sendiri dan jujur di hadapan Laras.
"Sabar mas, semua itu memang tidak instan, mas tidak harus memaksa diri mas untuk pulih saat ini juga, karena nanti mas sendiri yang akan menderita."
"Ya kau benar, terima kasih karena malam ini kau kau mendengarkan aku."
Deg
Jantung Laras kembali berdegup dengan kencang saat Prince kembali mengucapkan kata terima kasih.
"Ada apa Laras?"
Prince mengatakan hal tersebut sambil memperhatikan kedua tangan Laras yang memegang badannya.
"Anu mas, ini dingin."
Dan pada akhirnya Laras memberanikan diri untuk mengatakan hal tersebut kepada Prince, karena sudah sejak tadi Laras tidak kuat lagi untuk menahannya.
"Ah ya, kau benar sudah larut malam, ayo kita masuk ke dalam."
Setelah mengatakan hal tersebut Prince masuk ke dalam kamarnya, dan tak lupa mengandeng tangan Laras, untuk kesekian kalinya Laras hanya bisa menatap suami tampannya tersebut tanpa kata.
"Kemarilah."
Deg
Tiba - tiba saja Prince menarik Laras dan memeluknya dari belakang.
"Mas, mas Prince ada apa?"
Sungguh saat ini ke dua tangan Laras berkeringat dingin ketika merasakan sentuhan dari Prince.
Dengan jelas Laras bisa merasakan hembusan nafas berat dari suaminya tersebut dan dengan cepat Prince terus memeluk Laras dengan erat.
"Izinkan aku melakukan hal ini sebentar saja."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam tengkuk Laras.
"Ya mas, Laras izinkan."
Laras yang pada akhirnya tidak bisa berkata - kata apapun lagi membiarkan Prince malam ini memeluknya dari belakang.
Kesunyian sungguh dengan cepat sangat terasa, saat ini Prince terus memejamkan ke dua matanya sambil memeluk Laras.
"Mas apakah kau baik - baik saja."
Dan dengan cepat Prince langsung membalikan badan Laras, kini kedua mata Laras bertemu dengan Prince.
"Kau begitu hangat, ya hati mu begitu hangat."
Hal tersebut yang Prince katakan kepada Laras sambil memegang dagunya.
"Mmmas, apa yang mas akan lakukan?"
"Aku adalah suami mu, tak bisakah aku mendapatkan hak ku pada malam hari ini?"
Prince mengatakan hal tersebut dengan cara membisikkan ke telinga Laras.
Dan seketika itu juga ke dua tangan Laras semakin berkeringat dingin.
"Mas, aku, aku."
Tidak ada yang bisa Laras katakan lagi kecuali terdiam dan Prince langsung membawa tubuh Laras ke dalam pelukannya.
"Jika memang kau belum siap aku tidak akan pernah memaksa mu untuk melakukan hal itu."
Prince mengatakan hal tersebut sambil terus membawa Laras kedalam pelukannya.
"Aku malu mas, sungguh aku malu."
"Malu? untuk apa kau harus malu dengan suami mu sendiri?"
"Malu karena tubuh ku bukanlah tubuh yang ideal untuk mas lihat."
Laras mengatakan hal tersebut dengan suara yang sangat kecil, dan tetap tenang berada di dalam pelukan Prince.
Aku malu mas, sungguh aku malu."
"Malu? untuk apa kau harus malu dengan suami mu sendiri?"
"Malu karena tubuh ku bukanlah tubuh yang ideal untuk mas lihat."
Laras mengatakan hal tersebut dengan suara yang sangat kecil, dan tetap tenang berada di dalam pelukan Prince.
Dengan cepat Laras langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu mas yang Laras maksudkan."
"Lalu apa lagi jika bukan itu?"
Prince mengatakan hal tersebut sambil mulai menciumi leher Laras.
"Mas, mas, tunggu dulu!"
Laras mengatakan hal tersebut sambil mencengkram lengan Prince kuat - kuat.
"Mas, aku, aku..."
Dan pada akhirnya suara Laras hilang, karena Prince berhasil untuk mendaratkan ciuman di bibirnya.
Permainan yang sangat pelan pada akhirnya semakin lama berubah menjadi cepat.
"Kau belum pernah berciuman?"
Prince mengatakan hal tersebut setelah melepaskan ciuman membaranya kepada Laras.
"Belum mas, ini adalah ciuman Laras yang pertama."
Sungguh saat itu juga Prince sangat tercengang dengan pengakuan Laras, karena bagi Prince yang sudah banyak menjelajahi wanita, baru kali ini Prince menemukan wanita yang betul - betul masih tersegel.
"Maafkan Laras ya mas, jika Laras tidak pintar untuk membalas ciuman mas Prince."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menundukkan wajahnya, sungguh saat ini dirinya begitu malu mengangkat wajahnya sendiri di hadapan Prince.
"Ya sudah, jika memang ini hal yang pertama buat mu, aku akan memakluminya, namun lambat laun kau harus terus belajar, apakah kau mengerti?"
"Ya mas, Laras mengerti."
"Sekarang pejamkan ke dua mata mu."
Deg
Seketika itu juga Laras langsung menatap tajam ke arah Prince ketika mendengarkan perkataan Prince.
"Memejamkan mata untuk apa mas?"
"Astaga Laras, kau itu polos atau bodoh sih?
"
Prince yang sudah tidak mengerti lagi harus mengatakan apa, hanya bisa mengatakan hal tersebut kepada Laras.
"Mas, maafkan Laras."
Laras yang sadar jika Prince sudah mulai tersulut emosi segera meminta maaf.
"Sekarang begini kau pilih memejamkan mata, atau aku matikan lampunya?"
Deg
Ketika Prince mengatakan hal tersebut baru Laras mengerti apa yang akan Prince lakukan terhadapnya.
"Semuanya sama saja mas."
Dan pada akhirnya Laras mengatakan hal tersebut dengan suara kecil sambil menundukkan wajahnya.
"Baiklah, anggap saja malam ini aku yang akan ambil kendali, aku akan mematikan lampu."
Laras yang sudah sangat malu hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan seketika itu juga gelap gulita terjadi di sekitar Laras.
"Mas, kau dimana? "
Laras yang sudah tidak bisa melihat apa - apa langsung memanggil - manggil nama Prince
"Aku disini Laras."
Prince mengatakan hal tersebut sambil memegang tangan Laras.
"Sekarang tenanglah, percayakan tubuh mu kepada ku, aku akan bermain dengan sangat pelan."
"Iya mas."
Laras yang nampak tidak mengerti apa yang akan dilakukan Prince selanjutnya, hanya bisa mengatakan hal ini.
Dan Prince yang sudah sangat ahli dengan tubuh wanita langsung mengangkat dagu Laras dan mulai mendaratkan ciuman mautnya lagi.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Laras terbang ke langit yang paling tinggi, dengan sentuhan demi sentuhan Prince yang dahsyat ke seluruh tubuh Laras, membuat Laras seketika menepis semua rasanya malunya.
"Mas, Laras malu."
Hal tersebut yang Laras katakan ketika Prince pada akhirnya berhasil membuka sebagian pakaian yang Laras gunakan.