MY PRINCE

MY PRINCE
MAAF



Laras mengatakan hal tersebut sambil berjalan di jalan raya, hari ini Laras memilih untuk menggunakan ojek online, siang hari ini cukup cerah dan sangat enak untuk di pakai berjalan - jalan.


"Sesampainya di rumah Prince Laras menatap pintu gerbang tersebut yang sampai saat ini masih berdiri dengan kokoh."


Terakhir kali dia meninggalkan rumah ini dala keadaan pingsan karena Prince yang memaksanya untuk terus melakukan hubungan badan, sampai alat kelaminnya bengkak dan hari ini Laras kembali lagi ke rumah ini.


"Tuhan hari ini aku kembali, Tuhan aku tidak tau apa yang akan menantikan aku di dalam sana, Tuhan aku takut, Tuhan tapi aku harus tetap masuk ke dalam, Tuhan pimpin aku. Amin."


Laras terus mengatakan hal tersebut di depan pintu gerbang, ada rasa takut yang teramat sangat ketika dirinya akan kembali masuk ke dalam rumah tersebut, ya satu ketakutan besar yang sebenarnya juga berbalut dengan kerinduan yang juga takut untuk di akui oleh Laras.


Dengan melangkahkan kaki pelan, Laras membuka pintu gerbang tersebut dan mulai masuk ke dalam halaman parkir nya.


Suasana rumah Prince hari ini sangat tenang,nampak tidak ada satu orang pun beraktivitas.


Dengan memberanikan diri Laras menekan bel yang saat ini berada di depan pintu rumah.


Dari dalam hatinya Laras berdoa agar bukan Prince yang membukakan pintu, namun apa yang menjadi dugaan Laras ternyata salah.


Saat pintu terbuka dengan jelas Laras dapat melihat satu laki - laki berdiri dan menatap tajam ke arahnya dari ujung kaki sampai atas.


"Mmmas Prince."


"Mas,maafkan Laras, maafkan Laras yang telah pergi dari rumah ini, maafkan Laras yang telah meninggalkan mas Prince begitu saja, maafkan Laras karena Laras belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas, maafkan Laras."


Belum sempat Laras mengucapkan kembali kata - kata, Prince sudah memeluk erat istrinya tersebut.


"Laras seharusnya aku yang meminta maaf kepada mu, aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu, aku yang selalu memberikan penghinaan untuk mu, sebagai suami harusnya aku bisa membahagiakan mu, bukan membuat mu terluka dan menangis."


Deg


Untuk pertama kalinya Laras mendengarkan dari mulut Prince langsung permintaan maaf, untuk pertama kalinya Laras mendapatkan satu pelukan yang tulus, ya pelukan tulus dari satu laki - laki yang seharusnya bisa melindungi dan menenangkan serta mengarahkan dirinya.


Saat ini tidak ada kata - kata lagi bisa Laras katakan kecuali tangisan, ya tangisan bahagia yang selama ini sangat amat Laras rindukan.


"Mas, mas tidak salah, seharusnya saya yang tau diri, seharusnya saya menyadari jika saat ini sudah menjadi istri seorang CEO, seharusnya aku bisa melihat merawat diri, karena istri adalah cerminan dari suaminya, maafkan Laras ya mas, maafkan, Laras akan lebih mengurus diri Laras."


Laras mengatakan hal tersebut dengan air mata yang terus mengalir di dalam pelukan dari Prince.


"Laras, merawat diri itu memang penting, namun lakukan itu tidak dengan memaksa kan diri mu, karena kini aku baru sadar jika fisik bukanlah sesuatu hal utama di dalam sebuah hubungan, aku begitu merasakan kehilangan mu, namun aku yang memiliki ego tinggi tidak berani untuk menjemput mu, maafkan aku sayang."