
Seketika itu juga Prince langsung terduduk di pinggir tempat tidur.
"Satu malam berlalu, ya satu malam yang begitu cepat berlalu, Laras apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan ketika kau mencoba obat terlarang itu? apakah kau sadar itu akan merusak segalanya, ya segalanya."
Prince mengatakan hal tersebut dengan membelai tempat tidurnya sendiri, ingatan demi ingatan pergulatan panas begitu teringat dengan jelas dan tiba - tiba saja Prince merindukan kehadiran Laras.
"Laras, saat ini aku tidak tau apa yang aku rasakan kepada mu, rasa marah yang sangat luar biasa, rasa kesal yang sangat luar biasa ada dari ku untuk mu."
"Namun rasa rindu ya rasa rindu tetap terselip dengan sempurna, Laras coba katakan kepada ku apa yang harus aku lakukan saat ini?"
"Apakah kau tau posisi ku saat ini begitu sulit? ya sangat sulit."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menyandarkan kepalanya di sisi tempat tidur.
Di saat yang bersamaan Prince mengambil baju tidur Laras yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
Dengan kekuatan yang tersisa Prince menciumi baju tidur istrinya tersebut.
"Bau tubuh mu masih sangat terasa di sini sayang.*
Prince mengatakan hal itu sambil terus mencoba menghirup baju tidur Laras.
"Apakah kau bisa mengatakan apa yang harus aku lakukan saat ini?"
"Seandainya aku bisa berpikir dengan baik, seandainya ada jalan keluar yang tidak merugikan satu pihak, mungkin aku tidak akan semarah ini terhadap mu sayang.
Prince mengatakan hal tersebut sambil memijit - mijit pelipisnya.
Saat ini rasa sesak kembali masuk ke dalam relung hati Prince yang paling dalam.
Di satu sisi dirinya sangat mencintai istri, namun di sisi yang lain saat ini Prince begitu benci terhadap istrinya.
Benci karena Laras tidak percaya kepada dirinya, sehingga Laras tetap diam dan tidak berani berterus terang dengan semua hal yang saat ini dia hadapi.
"Aku lelah, ya sangat lelah, saat ini aku sedang tidak bisa berpikir lagi, keputusan demi keputusan apa yang akan aku ambil."
Prince terus mengatakan hal itu dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Ya merebahkan dirinya begitu saja tanpa peduli lagi tentang sepatu atau baju kerjanya yang sejak tadi belum dia lepaskan dan masih melekat erat di tubuhnya.
"lebih baik aku tidur, ya tidur agar setiap hal yang aku pikirkan berharap semua hanya mimpi, ya mimpi, namun aku yakin saat ini aku sedang tidak bermimpi dan harus tetap menghadapi dengan baik."
Prince terus bergumam sampai pada akhirnya ke dua mata tersebut terpejam dengan sempurna.
Hari ini Prince yang sangat lelah dengan semua hal yang sudah terjadi memilih untuk tidur dan tidur.
Hati Prince yang saat ini belum stabil tidak ingin dia pakai untuk mengambil keputusan.
Sementara itu di bandara.
"Apakah tidak lebih baik kita memberitahukan kedatangan kita kepada Prince?
"
Satu orang wanita mengatakan hal tersebut sambil menggendong sang putri kecilnya.
"Tidak perlu aku yakin saat kondisi psikis dari Prince sedang tidak baik, jadi untuk apa kita memberitahukan kedatangan kita."
"Ya kau benar, lebih baik esok hari baru kita datang ke kantornya dan bertemu."