MY PRINCE

MY PRINCE
CERITA LARAS



Perkataan bi Ijah ini membuat rona merah di wajah Larasati, sungguh Larasati sama sekali tidak pernah memikirkan hal ini meskipun dirinya sudah satu rumah dengan Prince.


"Bibi tinggal dulu ya mbak, dan semoga sukses."


Bi Ijah mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan meninggalkan Larasati.


"Arrrh Laras apa yang sebenarnya engkau sedang pikirkan saat ini, ayo Laras kau hanya akan mengantarkan makanan untuk nya tidak lebih, sadar Laras."


Laras mencoba untuk terus mengatakan hal tersebut di dalam hati, sambil menaruh semua makanan ke dalam troli yang akan dibawanya masuk ke dalam kamar Prince.


Entah mengapa saat ini jantungnya berdegup sangat kencang ketika dirinya membayangkan tentang kamar Prince, ya kamar dari suami yang tidak pernah dia masuki setelah pernikahan tanpa cinta ini terjadi.


"Masuklah."


Prince mengatakan hal tersebut sambil membukakan pintu untuk Laras.


"Ya mas."


Dan ke dua mata Laras di buat takjub begitu dirinya masuk ke dalam kama Prince.


"Mas kamarnya indah sekali?"


Laras mengatakan hal tersebut sambil memandang ke sekeliling kamar.


"Kau suka?"


Deg


Untuk pertama kalinya Prince menanyakan apakah dirinya suka atau tidak, dan itu makin membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Iya mas Laras suka."


Dengan cepat Laras menganggukkan kepalanya.


"Ayo, hidangkan makanan mu malam ini."


Prince mengatakan hal tersebut sambil duduk di kursi makan menunggu makanan dihidangkan di atas meja.


"Kau memasak semua menu makanan yang aku minta dari bi Ijah?"


Dengan cepat Laras menganggukkan kepalanya.


"Iya mas, ini ada semur daging kesukaan mas Prince."


Laras mengatakan hal tersebut sambil melayani Prince dengan cara mengambilkan nasi dan semua makanan ke dalam satu piring.


"Ah baiklah, terima kasih."


Deg


"Semurnya enak sekali."


Prince mengatakan hal tersebut dengan mengunyah makanannya tanpa berhenti.


"Terima kasih mas."


"Apakah kau dulu pernah belajar memasak?"


"Tidak pernah mas, hanya Laras selalu memasak makanan sendiri dari usia dua belas tahun."


"Dua belas tahun?"


Prince mengatakan hal tersebut seakan - akan tidak percaya dengan perkataan Laras.


"Ya mas, sejak ibu meninggal aku mengurus semua kebutuhan ku sendiri."


"Lalu darimana kau bisa bertahan? yang aku maksudkan bagaimana kau bisa membeli bahan makanan dan juga yang lainnya?"


"Laras bekerja mas."


"Sebagai apa?"


"Sebagai pembantu rumah tangga."


Deg


Prince yang masih sibuk dengan makanannya kini hanya bisa terdiam.


"Di usai dua belas tahun kau sudah bekerja sebagai pembantu? lalu bagaimana dengan sekolah mu?"


Laras sejenak terdiam dengan pertanyaan dari Prince.


"Dengan uang tabungan, Laras mencoba untuk menyelesaikan sekolah Laras, namun rupanya Laras hanya mampu membiayai sampai paket B saja."


"Saat Laras ingin melanjutkan sekolah untuk ke paket C, ibu Sarawati meminta Laras untuk datang ke kota, dan mas tau hati Laras sangat bahagia karena ibu Saraswati masih mengingat Laras, meskipun Laras hanyalah anak seorang pembantu."


Prince saat ini hanya bisa menatap tajam ke arah Laras, sungguh baru kali ini Prince mendengarkan sendiri semua liku perjalanan seorang gadis yang sudah hidup tanpa orang tua.


"Mas, ayo lanjutkan makannya, nanti dingin."


"Ah ya kau benar."


Sadar akan Laras yang memperhatikan, Prince kembali melanjutkan menghabiskan makanannya.