
Laras menganggukkan kepalanya, saat ini Laras sangat merasakan di sayang oleh suaminya, saat ini Laras merasakan Prince begitu mencintainya.
Dan untuk kesekian kalinya tiba - tiba saja Laras lupa akan setiap rasa ketakutannya yang luar biasa tersebut.
"Laras ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepada mu pagi ini."
Prince kembali mengatakan hal itu ketika pagi ini melihat Laras sudah selesai dengan sarapan dan juga sedang menegak air minum.
"Hal apa mas?"
Seakan - akan sudah lupa akan kemarahannya Laras mengatakan hal tersebut dengan sangat lembut kepada Prince
"Ayo ikutlah aku ke ruang kerja."
Setelah mengatakan hal tersebut Prince segera bangkit dari ruang makan dan mengajak Laras untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Duduklah sayang."
Prince mengatakan hal tersebut sambil membuka kursi dan meminta Laras untuk duduk.
"Ada apa mas Prince?"
Laras yang sejak tadi penasaran akan apa yang akan dikatakan oleh Prince kembali menanyakan hal itu.
"Ini."
Prince yang saat ini sedang duduk di hadapannya memberikan satu kartu kredit dengan limit yang tinggi kepada Laras.
"Pakailah, dan ini."
Prince memberikan kartu debit di sebelah kartu kredit.
"Mas tidak perlu repot-repot, Laras masih punya tabungan dari hasil bekerja Laras di Jepang."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengembalikan semua kartu yang telah di berikan oleh Prince.
"Laras, aku tau kau punya tabungan, dan bahkan mungkin jika aku mau, aku bisa melihat jumlah tabungan mu, namun sudah menjadi tugas seorang suami untuk memberikan nafkahnya kepada sang istri sayang."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengembalikan kartu - kartu tersebut ke tangan Laras.
"Tapi mas, Laras tidak terbiasa menerima ini semuanya."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengembalikan kembali kartu tersebut ke tangan Prince.
"Laras maafkan aku."
"Maafkan? untuk apa mas meminta maaf kepada ku?"
"Maafkan karena aku membuat mu menjadi tidak terbiasa menerima pemberian dan nafkah dari ku."
"Ini semua terjadi karena di masa lalu, sebagai seorang suami aku tidak pernah rela memberikan nafkah berupa materi yang berlimpah kepada mu, semua hal yang aku keluarkan untuk mu sangat aku perhitungkan, dan itu lah yang membuat mu menjadi tidak terbiasa mendapatkan pemberian dari suami mu sendiri."
"Kau bekerja keras di Jepang untuk mencukupi diri mu sendiri, tanpa aku pernah peduli dengan semua hal ini."
"Hal itulah yang pada akhirnya membentuk pola pikir mu menjadi seperti ini, sekali lagi maafkan aku Laras, seharusnya aku bisa lebih bijak di dalam hal ini terhadap mu, seharusnya aku menjadi suami yang royal terhadap wanita yang aku cintai."
"Sayang, aku mohon percaya kepada ku sebagai pemimpin mu, gunakan semua fasilitas demi fasilitas yang seharusnya bisa kau gunakan juga sebagai istri seorang CEO ternama."
"Jangan bekerja keras lagi, jangan mengotori tangan mu ini lagi dengan perkejaan demi pekerjaan berat seperti apa yang pernah kau lakukan di Jepang."
"Sebagai seorang suami, aku akan semakin merasa gagal jika kau masih bekerja keras sedangkan aku hidup berkelimpahan."