
Aku tau kau tidak akan mau bersaing dengan wanita bertubuh gendut dan hitam seperti itu, aku tau semuanya Jes."
"Lalu kenapa kau masih memaksa ku untuk satu atap dengannya Prince? sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran mu."
"Karena aku jijik dengan wanita itu, ya aku jijik ketika harus berdekatan dengannya.
"Lalu jika kau jijik kenapa kau menyetujui pernikahan ini Prince? kau berhak untuk menolaknya."
"Sayang, ceritanya sangat panjang aku tidak akan bisa menceritakan semua hal ini dengan baik kalau kau mau mendengarkannya, kau tau aku sangat merindukanmu Jesika."
Prince kembali mendekat ke arah Jesika dan kembali memeluk pinggangnya.
"Prince sudah hampir empat tahun kita bersama, sebagai wanita aku butuh kejelasan dari mu, banyak sahabat - sahabat ku yang sudah menikah, membawa suaminya, namun aku masih juga kau jadikan kekasih."
"Dan saat ini tiba - tiba saja kau sudah menikah dengan wanita jelek yang tidak jelas itu."
"Sayang maafkan aku yang sampai saat ini belum bisa memberikan mu status resmi sebagai istri sah, namun secepatnya aku akan melamar mu, setelah urusan ku dengan wanita gendut itu selesai."
"Kapan itu Prince?"
"Secepatnya sayang.*
Dan setelah mengatakan hal tersebut Prince memberikan ciuman brutal kepada bibir Jesika, Jesika menerima semua itu dengan baik.
Prince yang memang sudah sangat lapar akan gairah langsung membuka semua baju Jesika, memberikan sentuhan demi sentuhan maut di area - area sensitif Jesika.
"Prince, kau sudah berjanji kepada dan aku akan memegang janji mu itu."
Jesika mengatakan hal tersebut di sela - sela kenikmatan yang diberikan oleh Prince kepadanya.
Prince yang sudah di kuasai oleh nafsu seakan - akan sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Jesika, karena saat ini Prince sangat sibuk dengan tubuh Jesika yang sangat menggoda.
Rasa lapar yang begitu kuat Prince lampiaskan dengan beberapa kali penyatuannya terhadap Jesika, hentakan demi hentakan serta suara ******* yang panjang dari mulut Jesika menjadi warna di dalam kamar tidur tersebut.
"Mbak, ini minumlah, daritadi aku melihat mbak Laras hanya diam dan terus menangis, ini mbak minumlah."
Bi Ijah memberikan Larasati segelas air mineral, karena sejak tadi bi Ijah hanya melihat Larasati terdiam sambil menangis.
"Terimakasih bi Ijah."
Larasati menerima minuman tersebut dan meneguknya sampai habis.
"Bagaimana mbak Laras apakah sudah lebih tenang?"
Larasati menganggukkan kepalanya kepada bi Ijah.
"Sudah bi, terima kasih."
"Sama - sama mbak Laras."
"Bi boleh Laras menanyakan sesuatu kepada bi Ijah? "
"Katakan saja mbak Laras, ada apa?"
"Bi apakah wanita yang saat ini berada bersama dengan mas Prince sudah sering masih ke dalam rumah seperti ini?"
Bi Ijah yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya bisa terdiam tanpa kata.
"Bi, bisakah bibi cerita kepada Laras? Laras tau posisi bi Ijah di rumah ini, namun bi kita sama - sama wanita yang pastinya akan tetap merasakan sesak hati jika orang yang kita cintai memperlakukan kita seperti ini."
Bi Ijah tetap terdiam dan menatap terus ke arah Larasati.
"Mbak Laras, wanita yang di bawa mas Prince masuk ke dalam rumah ini itu lebih dari satu, terkadang mas Prince membawa dua wanita sekaligus masuk ke dalam kamarnya."
Larasati yang mendapatkan pengakuan itu hanya bisa menutup mulut dengan ke dua tangannya.