
Laras mengatakan hal tersebut dengan wajahnya yang sangat bahagia.
"Syukurlah jika seperti itu mbak, bibi ikut bahagia, apakah ada yang bisa bibi bantu?"
Dengan cepat Laras langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu bi, Laras akan menyiapkan semua dengan ke dua tangan Laras sendiri, semua Laras lakukan untuk mas Prince."
Dengan hati yang sangat senang sepanjang hari tersebut Laras menyiapkan makan malam untuk Prince.
Sementara itu Prince yang saat ini berada di dalam kamar.
"Kau gila Prince, kau gila, bagaimana kau akan mencium wanita gendut itu, astaga foto wanita cantik seperti apa lagi yang harus aku bayangkan untuk aku bisa melakukan hal ini terhadapnya."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencoba membuka foto - foto wanita cantik di dalam ponselnya.
Sungguh saat ini Prince sanga kacau, bagi Prince ini untuk pertama kalinya dirinya harus mencium dan menyentuh wanita yang sama sekali tidak dia suka.
"Arrrh mulutnya masih bau, badannya saja bau apalagi mulutnya."
Prince terus mengatakan hal tersebut sambil mengacak - acak rambutnya.
Berpuluh -puluh wanita cantik sudah dia bayangkan di dalam pikirannya, namun tidak ada satupun bayangan wanita cantik yang melekat lama di dalam pikirannya.
Malam yang dinantikan oleh Laras pada akhirnya terwujud.
malam ini sungguh Laras telah membuatkan makan malam yang sangat istimewa untuk Prince, keahliannya di dalam mengolah bahan makanan dia berikan dengan segenap hati untuk satu orang yang diam - diam mulai dia cintai.
"Semur daging sudah, nasi merah, omelet telur, dan salad buah, ah semuanya sudah lengkap, ini adalah menu malam ini yang diminta oleh mas Prince, semoga mas Prince suka."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menatap makanan demi makanan yang telah tersaji di meja makan.
"Mbak, kenapa masih di sini?"
Bi Ijah yang kebetulan lewat langsung menegur Larasati.
"Menunggu mas Prince makan bi."
"Mbak, mas Prince itu jarang makan di meja makan, biasanya mas Prince makan di dalam kamar, disana juga ada tempat makan dan peralatan lengkap."
Deg
Laras terdiam dengan pemberitahuan dari bi Ijah.
"Kamar bi? di dalam kamar mas Prince?"
"Iya mbak, kenapa mbak?"
Dengan cepat Larasati langsung menggelengkan kepalanya
"Tidak ada apa - apa bi, tapi sejak Laras menikah Laras sama sekian belum pernah masuk ke dalam kamar mas Prince."
Dengan kepolosan Laras mengatakan semua hal tersebut kepada bi Ijah.
Dan bi Ijah memandang dengan iba atas apa yang telah dikatakan oleh Laras.
"Mbak, tidak ada yang melarang mbak Laras untuk masuk ke dalam suami mbak Laras sendiri, jadi ayo mbak lebih mbak Laras segera antarkan makanan ini, mas Prince wajahnya suka cemberut jika makanannya telah datang."
"Ah baiklah bi."
"Iya mbak, lagipula jika sampai terjadi apa - apa di dalam kamar tersebut juga tidak ada masalah kan, karena kalian sudah suami istri."
Deg
Perkataan bi Ijah ini membuat rona merah di wajah Larasati, sungguh Larasati sama sekali tidak pernah memikirkan hal ini meskipun dirinya sudah satu rumah dengan Prince.
"Bibi tinggal dulu ya mbak, dan semoga sukses."
Bi Ijah mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dan meninggalkan Larasati.
"Arrrh Laras apa yang sebenarnya engkau sedang pikirkan saat ini, ayo Laras kau hanya akan mengantarkan makanan untuk nya tidak lebih, sadar Laras."