MY PRINCE

MY PRINCE
DENDAM



Salah satu dokter mengatakan jika alat kelamin Laras bengkak, dan untuk hal ini mama ingin menanyakan kepada mu."


"Karena wanita itu tidak menarik dan mama memaksa aku untuk menyentuhnya, maka aku gunakan cara ku sendiri agar aku bisa melakukan hal itu."


Ibu Saraswati kini hanya bisa menggelengkan melihat kelakuan anaknya sendiri.


"Prince apakah kau sadar jika apa yang kau lakukan bisa membunuhnya?"


"Kau harus ingat apa misi dan visi mu untuk menikah dengannya."


"Semua itu bukan visi dan misi ku ma, itu adalah visi dan misi mama yang melibatkan aku!"


Dengan tegas Prince mengatakan hal tersebut kepada ibu Sarawati.


"Iya kau benar, namun mengapa mama melakukan hal itu, karena semua untuk kita, semua untuk kita Prince!"


Ibu Sarawati mengatakan semua hal tersebut dengan berteriak - teriak.


"Prince akan tetap mengikuti rencana mama sampai akhir, namun cara yang Prince lakukan terserah dari Prince bukan dari mama!"


Setelah mengatakan hal tersebut Prince langsung keluar dari dalam kamar dengan keadaan emosi.


"Kau akan mendapatkan masalah besar Prince jika kau masih seperti ini."


Ibu Saraswati mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya.


Dan di suatu tempat di dalam ruangan yang berbeda.


"Selamat datang tuan Andre."


Satu orang pelayan menyapa satu orang laki - laki tampan yang saat ini membukakan pintu.


"Jadi bagaimana apakah kalian berhasil melakukan hal itu?"


Laki - laki tersebut mengatakan hal itu dengan duduk dan menghidupkan rokoknya.


"Semua yang tuan Andre minta ada disini."


Satu orang pelayan mengatakan hal tersebut dengan memberikan Andre alat pelacak yang berbentuk kotak hitam kecil di atas meja.


"Semuanya jelas tuan Andre."


Andre yang mendapatkan perkataan tersebut tersenyum puas dengan memegang alat pelacak yang berbentuk kotak tersebut.


"Bagus, aku senang berkerja sama dengan kalian, sisa uang akan segera aku transfer."


"Terima kasih tuan Andre, kami izin undur diri terlebih dahulu."


"Pergilah."


Setelah mengatakan hal tersebut beberapa orang dengan jas hitam meninggalkan ruangan itu.


"Prince aku memang sahabat mu, namun kau juga harus mengetahui bahwa seorang sahabat bisa menjadi musuh yang paling jahat di dalam sekitar mu."


Andre mengatakan hal tersebut sambil tersenyum dengan sinis.


"Dia wanita baik - baik Prince, dan dia tidak perlu ikut di dalam rencana jahat ku, aku tidak akan membiarkan wanita itu menderita di dalam tangan mu!"


Andre mengatakan hal tersebut dengan menggenggam tangannya erat - erat.


Ke dua matanya merah menyala menyimpan dendam terselubung terhadap Prince, ya satu dendam yang ternyata di sulut oleh sahabat dekatnya sendiri.


"Semua akan tetap berjalan sesuai dengan rencana, namun wanita itu tidak perlu untuk terlibat, karena dia sama sekali tidak bersalah, baiklah Andre waktunya untuk kembali beraksi."


Setelah mengatakan hal tersebut Andre bangkit dari tempat duduknya dan mengambil jas putih yang sudah lama menjadi indentitasnya saat ini.


Setelah menggunakan jas putih tersebut, Andre keluar dari dalam ruangan dan menuju tempat yang hari ini ingin dia tuju.


Sementara itu di rumah sakit pada siang ini.


"Aku dimana?"


Laras yang mulai membuka mata sangat heran melihat sekelilingnya yang berbeda dari biasa.


"Mbak Laras sudah sadar mbak?"


Satu orang wanita paruh baya yang sejak tadi dengan setia menunggu kesadaran Laras mengatakan hal tersebut.