
Dan setelah mengatakan hal tersebut Laras tiba - tiba mengingat sesuatu.
"Tas ku, ya tas ku."
Seketika itu juga Laras langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mencari - cari tas yang terakhir dia gunakan di rumah sakit sebelum dia pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Ketemu, ya ini adalah tas yang terakhir aku pakai sebelum pada akhirnya aku tidak sadarkan diri."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengambil satu tas kecil yang rupanya tas kecil tersebut di simpan di lemari Prince.
"Ternyata mas Prince masih memberikan privasi untuk ku juga, dengan tidak membongkar isi tas ini, namun menyimpannya dengan baik."
Laras mengatakan hal tersebut sambil membuka tas kecil tersebut, Laras mencari dengan teliti apa yang ingin dia cari di dalam tas tersebut.
"Ponselku, ya ini ponsel ku, aku bisa menggunakan ponsel ini untuk melacak orang - orang yang menjual obat tersebut di negara ini!"
Dengan hati yang senang Laras mengatakan hal tersebut dan senyum merekah jelas - jelas terpancar atas apa yang dia peroleh saat ini.
Dengan gerakan cepat Laras segera mengisi baterai di dalam ponsel tersebut lalu menunggunya beberapa saat.
"Dan ini yang aku cari."
Tanpa butuh waktu lama pada akhirnya Laras menemukan sebuah situs yang digunakan untuk menjual obat - obat terlarang tersebut.
Dengan gerakan tangan yang lancar Laras pada akhirnya mencoba untuk menghubungi situs gelap tersebut.
"Selesai, aman."
Dan setelah selesai melakukan semuanya Laras kembali meletakkan ponselnya dan memandang dirinya di depan cermin meja riasnya.
Cukup lama Laras memandang cermin tersebut tanpa berkata apapun.
"Hai cermin, halo cermin, apakah kau tau saat ini wanita yang bernama Laras sedang mencoba untuk menipu banyak orang."
Laras tiba - tiba saja mengatakan hal tersebut sambil terus memandang cermin.
"Dan wanita itu bernama Laras, kau tau cermin Laras adalah seorang wanita yang sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, namun wanita ini tetap nekat mencari, dan membeli obat - obat terlarang yang seharusnya tidak dia konsumsi."
Laras mengatakan hal tersebut lalu tiba - tiba menitihkan air mata.
"Dan wanita yang bernama Laras saat ini sebenarnya sedang ketakutan, ya ketakutan jika apa yang telah dia lakukan terbongkar orang lain, termasuk suaminya sendiri."
"Wanita yang bernama Laras memang wanita yang tidak tau diri, jadi lebih baik kau tidak usah berteman dengan Laras."
Laras berbicara kepada dirinya sendiri melalui cermin, ya pengaruh dari obat - obatan yang saat ini sedang dikonsumsi membuatnya mengatakan hal tersebut.
"Lebih baik aku tidur dan tidak mencoba berbicara seperti ini lagi, ya aku tidak boleh menangis lagi, bukan saatnya untuk menangis Laras, namun saatnya untuk menghadapi semuanya, semuanya yang harus kau hadapi."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menghapus air matanya dan langsung beranjak untuk kembali ke tempat tidurnya.
"Selamat malam Laras, selamat malam Laras yang malang!"
Laras mengatakan hal tersebut sambil menarik selimut putihnya sampai ke atas kepala dan mencoba untuk memejamkan ke dua matanya yang saat ini sangat sulit untuk di pejamkan
Rasa ketakutan dan intimidasi terus hidup subur di dalam hati dan pikiran Laras, atas apa sudah dia lakukan saat ini dan tidak diketahui oleh orang lain.