
Lida mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu konsepnya Lidia."
"Lalu konsep seperti apa yang sedang kau bawa Prince?"
Kali ini Lidia kembali bertanya dan berharap Prince bisa berkata dengan jujur atas apa yang menjadi alasan mengapa dia datang kepadanya sepagi ini.
"Sebenarnya apa yang Andre rasakan saat ini mungkin sama dengan apa yang sedang aku rasakan, ya pasti sama."
Dan seketika itu juga Lidia langsung mengernyitkan dahinya.
"Apa yang kau maksudkan kalian itu sama?*
Lidia yang masih belum begitu mengerti mencoba untuk Kemabli bertanya.
"Ya apa yang Andre rasakan kala itu mungkin sama dengan apa yang aku rasakan saat ini, yaitu kami ingin diberikan kesempatan ke dua untuk bisa mencintai satu orang dengan tulus, kami berharap mendapatkan kesempatan itu sekali saja dengan setiap kesalahan demi kesalahan bodoh yang pernah kami lakukan di masa lalu."
"Tunggu, katakan kepada ku jika hubungan mu dengan istri tidak baik dan pada akhirnya Andre yang mencoba untuk mengambilnya, begitu Prince?"
Lidia mengatakan hal tersebut dengan cara yang menebak - nebak apa yang ada di dalam Prince.
"Ya Lidia, apa yang kau katakan itu benar, dan aku itu yang saat ini aku rasakan."
"Lalu kau mencoba untuk berbicara dengan ku, dan kau sedang mencoba untuk mengorbankan aku, agar kau bisa mengambil kembali istri mu seperti itu?"
"Bukan memanfaatkan mu Lidia.
"
Prince mengatakan hal tersebut dengan menggelengkan kepalanya kuat - kuat.
Deg
Seketika itu juga Lidia terdiam.
"Darimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu Prince?"
"Saat aku membicarakan tentang Andre, kau begitu antusias menceritakan hal ini, ada kemarahan dan juga kerinduan di dalamnya."
"Dan itu sangat terlihat dengan jelas dari setiap gerak gerik mu, ayolah Lidia aku mengenal mu bukan hanya satu atau dua hari saja, aku mengenal mu sudah bertahun - tahun, aku tau wanita yang mandiri dan bisa mengurus semuamya sendiri, namun kau tidak boleh egois, menyembunyikan identitas sang ayah kepada anak mu itu adalah egois Lidia."
Deg
Lidia terdiam dengan semua perkataan dari Prince.
"Maafkan aku Prince aku belum bisa membantu permasalahan mu, rasanya sangat mustahil untuk kembali kepada Andre, ya sangat mustahil Prince!"
Lidia mengatakan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang pernah menjadi mustahil jika itu berhubungan dengan kata - kata maaf Lidia, karena yang perlu kita lakukan adalah mengambil tindakan akan hal itu."
Dan Lidia kembali memandang tajam Prince, saat mengatakan hal ini, bagi Lidia yang sudah mengenal Prince bertahun - tahun hal ini menjadi sangat aneh, ketika Prince yang sangat egois berubah menjadi Prince yang tiba - tiba sangat bijak.
"Pergilah Prince maafkan aku yang belum bisa membantu mu di dalam hal ini, alangkah baiknya kau berusaha sendiri, jika kau yakin selalu ada kesempatan untuk kata maaf, lakukan saja hal yang membuat mu merasa yakin, jangan pernah melibatkan aku."
Prince pada akhirnya hanya bisa terdiam menghadapi Lidia yang keras seperti batu, tidak ada kata - kata lagi yang ingin Prince katakan kepada Lidia.
"Baiklah Lidia jika memang itu menjadi keputusan mu, namun jangan pernah menyesal dengan apa yang telah kau katakan."