
Laras merasakan ada yang menyentuh pundaknya, dengan perlahan dia membuka ke dua mata dan apa yang ingin dia lihat semalam pada akhirnya muncul juga.
"Mas, Prince, mas sudah pulang, mas mau makan apa? biar Laras hangatkan makanannya."
"Kau akan menghangatkan makanan basi ini untuk ku?"
Deg
seketika itu Laras sadar, jika dirinya masih tertidur di meja makan, dan menghirup aroma tidak sedap dari makanan yang ada di depan matanya
"Maafkan Laras mas, Semalam Laras tertidur dan lupa menghangatkan makanan ini, Laras masak yang baru untuk mas Prince yah."
"Ah sudahlah terserah kau saja, lebih baik kau serahkan masalah memasak kepada bi Ijah dan setelah itu ikut aku masuk ke dalam kamar."
"Iya mas."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menundukkan wajahnya, sedangkan Prince berjalan masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.
"Ayo Prince kau harus bisa, yang perlu engkau lakukan adalah membuat wanita gendut itu hamil, setelah dia melahirkan kau bisa langsung membuangnya."
Prince mengatakan hal tersebut sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sendiri.
"Wanita cantik siapa yang bisa aku bayangkan untuk aku bisa melakukan hal itu dengannya lagi, arrrrh sungguh ini sangat menyiksaku!"
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengacak - acak rambutnya.
"Mungkin itu bisa membantu ku!"
Setelah mengatakan hal tersebut Prince membuka laci dan mengambil satu obat lalu menelannya.
"Obat perangsang ini akan membantu ku, ya setidaknya aku tidak perlu susah - susah harus memikirkan siapa wanita yang bisa aku bayangkan."
Setelah mengatakan hal tersebut Prince duduk dan mengambil satu boto alkohol di dalam kulkas kamarnya.
Dengan kekuatan penuh Prince meneguk alkohol tersebut tanpa jeda.
"Permisi mas Prince, apa aku boleh masuk?"
Laras mengatakan hal tersebut sambil mengetuk pintu kamar.
"Masuklah!"
Prince memberikan perintah tersebut sambil terus meneguk minuman beralkohol tersebut.
"Duduklah di samping ku."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menepuk - nepuk sofa kosong disampingnya.
"Ya mas."
Dengan cepat Laras duduk di sampingnya.
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencium pipi Laras.
"Tidak ada mas."
Laras mengatakan hal tersebut sambil menepis ciuman Prince.
"Hei ada apa? kenapa seakan - akan kau menolak ketika aku cium?"
Deg
Seketika Laras terdiam ketika mengetahui jika ternyata Prince sadar akan penolakannya.
"Maafkan aku mas,bukan maksud ku untuk menolak, tapi.
"
Laras tiba - tiba terdiam karena dirinya takut untuk melanjutkan kata - katanya lagi.
"Tapi apa?"
Prince mengatakan hal tersebut sambil terus menuangkan alkohol ke dalam gelasnya.
"Alkohol mas, Laras tidak suka bau alkohol."
Dan seketika itu juga Prince langsung tertawa.
"Mulai sekarang kau harus belajar untuk menyukainya, karena aku sering meminumnya, ini cobalah."
Prince mengatakan hal tersebut sambil menuangkan minuman beralkohol tersebut ke gelas dan meminta Laras untuk meminumnya.
"Tapi mas?"
"Kenapa tidak suka? sudah aku katakan kau harus belajar, karena setiap hari kau akan berhadapan dengan laki - laki yang mencintai minuman ini, jadi sekarang ayo minum!
"
Prince pada akhirnya memaksa Laras untuk meneguk minuman tersebut.
"Bagaimana rasanya enak kan?
"
"Pahit mas."
Laras mengatakan hal tersebut sambil mencoba untuk memegang lehernya.
"Tenang saja kau akan makin terbiasa, ayo minum lagi.*
Prince mengatakan hal tersebut sambil terus menuangkan minuman beralkohol dan memaksa Laras untuk terus meminumnya.