
Andre memberikan satu amplop kecil kepada ibu Sarawati.
"Jika anda tidak mau di sebut kaum ningrat yang bodoh, tentunya anda akan memikirkan apa yang menjadi pemikiran ku yang sama juga dan anda akan bersedia mengikuti rencana di dalam amplop ini."
"Aku sarankan anda kembali ke tujuan awal yaitu menjodohkan Laras dengan Prince hanya sebuah keuntungan, karena jika tidak anda akan kehilangan nama baik anda sendiri."
Setelah mengatakan hal tersebut Andre pergi meninggalkan ibu Saraswati yang saat ini hanya bisa terdiam menerima amplop kecil tersebut.
"Apa benar yang Andre katakan?X
Ini Sarawati mengatakan hal tersebut dengan pelan sambil terus memandang punggung Andre yang semakin berlalu dari hadapannya.
Kini ibu Sarawati melangkahkan kaki dengan sangat gontai, ya karena saat ini ibu Saraswati kembali berpikir untuk semua hal yang telah dikatakan oleh Andre.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Prince menikah dengan wanita yang pernah tidur dengan laki - laki lain, meskipun Prince juga sering melakukan hal yang sama, namun kehormatan wanita atau kehormatan seorang istri di tentukan di dalam hal ini."
Di dalam mobil Ibu Saraswati mengatakan hal tersebut dengan perlahan, saat dirinya membuka dan membaca semua pesan yang dituliskan oleh Andre untuk satu rencana.
"Jalan pak!"
Ibu Sarawati mengatakan hal tersebut kepada supir nya dan sang supir pun mengikuti apa yang ibu Saraswati perintah kan.
Menjelang malam Laras sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
"Ayo sayang."
Prince membukakan pintu untuk Laras.
"Terima kasih mas."
"Sayang apakah ada yang kau inginkan? aku pernah mendengar jika ibu hamil itu banyak mau nya."
"Aku sedang tidak menginginkan apa -apa mas, namun aku hanya menginginkan mas Prince untuk tidak meninggalkan aku, entah mengapa aku selalu ingin mas untuk dekat dengan ku terus."
Laras mengatakan hal tersebut dengan berterus terang kepada Prince.
"Sayang aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu, ya aku berjanji apapun yang terjadi dengan kita aku tidak akan pernah meninggalkan mu."
"Terima kasih mas Prince."
"Lalu apakah ada hal yang lainnya lagi? jika memang iya katakan saja, aku akan mencoba menurutinya sayang, aku tau menjadi ibu yang sedang hamil itu pasti sangat berat, aku tidak akan pernah mengalaminya, oleh karena itu aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu."
Laras yang saat ini duduk di samping Prince sangat terharu dengan apa yang telah di ucapkan oleh Prince.
"Aku sedang tidak menginginkan apa - apa mas, namun aku juga tidak tau jika beberapa jam lagi menginginkan sesuatu hal secara tiba - tiba."
Laras mengatakan hal tersebut dengan menyandarkan kepalanya ke pundak Prince.
"Ya sayang katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu."
"Mas, aku ingin makan bakso yang ada di ujung gang depan, apakah boleh?"
Laras tiba - tiba mengatakan hal tersebut kepada Prince.
"Sayang apakah tidak bisa bi Ijah saja yang membuatkan bakso untuk mu?kita tidak pernah tau se bersih apa bakso di ujung gang itu bukan?"
Prince mengatakan hal tersebut karena sebenarnya Prince sangat khawatir akan keadaan Laras jika dirinya mengetahui Laras sembarangan makan.
"Bakso buatan bi Ijah memang enak masa, namun saat ini aku ingin sekali memakan bakso disana."