MY PRINCE

MY PRINCE
BOLEH PULANG



Tidak bisa mbak Laras, karena kondisi mbak belum sembuh total."


"Dokter aku mohon, aku sudah tidak betah lagi ada di dalam ruangan ini."


Laras kembali mengatakan hal tersebut dengan penuh harap kepada Andre.


Andre hanya bisa memandang Laras dengan tatapan yang tajam sebelum memutuskan.


"Baiklah mbak Laras jika memang mbak Laras memaksa untuk pulang, namun mbak Laras harus tanda tangan surat pernyataan, apakah mbak Laras bersedia?"


Andre pada akhirnya memberikan satu keputusan setelah menarik nafasnya dalam - dalam.


"Ya dokter, aku bersedia untuk tanda tangan surat itu."


"Bagus, satu syarat lagi yang akan saya ajukan kepada mbak Laras agar bisa pulang."


"Apa itu dokter?"


"Mbak Laras boleh meninggalkan rumah sakit dengan diantarkan pulang dengan ku."


Laras terdiam dengan persyaratan yang diberikan Andre kepadanya.


Bagi Laras ini adalah syarat yang aneh, namun sepertinya tidak ada pilihan lain lagi selain menyetujui saran yang di minta oleh Andre.


"Baiklah dokter aku bersedia."


"Bagus jika mbak Laras bersedia, nanti malam mbak Laras boleh keluar, tentunya dengan semua hasil pemeriksaan membaik."


"Baik dokter Andre, terima kasih."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Andre meninggalkan ruang rawat Laras.


"Mbak kenapa ingin segera pulang? mbak Laras kan masih butuh perawatan?"


Bi Ijah yang sangat kaget dengan keputusan Laras mencoba untuk kembali bertanya.


"Laras tau bi, namun Laras hanya ingin beristirahat di rumah saja, Laras tidak ingin berada lama - lama di rumah sakit ini, Laras mohon untuk bi Ijah menyetujui keputusan Laras juga, karena saat ini hanya bi Ijah yang Laras punya."


Bagi Laras bi Ijah sudah seperti orang tuanya sendiri.


"Bi Ijah akan selalu setuju apa yang dilakukan oleh mbak Laras selama itu tidak membahayakan mbak Laras, tapi mbak apakah mbak yakin ini akan baik - baik saja."


"Bibi tenang saja, semua akan tetap baik, karena Laras adalah wanita yang kuat."


Laras mengatakan hal tersebut agar bi Ijah yakin akan setiap keputusan yang telah dia buat.


"Baiklah mbak Laras, bi Ijah setuju, mbak Laras tidak perlu khawatir dengan semuanya, karena bi Ijah sendiri yang akan merawat mbak Laras."


Bi Ijah mengatakan hal tersebut dengan menggenggam tangan Laras.


"Terima kasih bi Ijah."


Laras tersenyum mendapatkan genggaman tangan dari salah satu asisten rumah tangga yang sudah seperti sosok ibu kandung bagi dirinya.


Siang hari ini pada akhirnya di gunakan Laras untuk beristirahat, sadar akan persyaratan yang telah Andre berikan jika dirinya bisa pulang jika hasil pemeriksaan bagus, dan hal itulah yang membuat Laras mengistirahatkan badan dan juga pikirannya.


Menjelang malam saat semua hasil dari laboratorium selesai, Andre langsung membawanya ke ruang rawat Laras.


"Dokter bagaimana? apakah kau bisa pulang hari ini?"


Andre yang malam ini sudah kembali ke ruang rawat kembali tersenyum melihat wajah Laras yang sejak tadi selalu ingin pulang.


"Semua hasil laboratorium bagus mbak Laras, jadi malam ini anda boleh pulang ke rumah."


"Tera kasih dokter Andre."


"Bi boleh aku meminta sesuatu hal?"


Andre tiba - tiba saja mengatakan hal tersebut kepada bi Ijah yang sejak tadi mendengarkan dan melihat percakapan keduanya.


"Ada apa dokter Andre, katakan saja."