
"Semua hasil laboratorium bagus mbak Laras, jadi malam ini anda boleh pulang ke rumah."
"Tera kasih dokter Andre."
"Bi boleh aku meminta sesuatu hal?"
Andre tiba - tiba saja mengatakan hal tersebut kepada bi Ijah yang sejak tadi mendengarkan dan melihat percakapan keduanya.
"Ada apa dokter Andre, katakan saja."
"Nanti biar aku saja yang mengantarkan Laras pulang, apakah bibi keberatan jika aku melakukan hal itu untuk Laras?"
Bi Ijah terdiam dan melihat keseriusan Andre, seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkannya keadaan anaknya hal itulah yang saat ini dialami oleh bi Ijah.
"Baiklah dokter, jika mbak Larasnya mau, saya juga akan bersedia."
"Bagaimana Laras, bi Ijah sudah mengizinkan mu untuk diantar pulang oleh ku."
Laras terdiam, Laras memandang wajah Ande dan bi Ijah secara bergantian.
"Iya dokter, Laras bersedia, selama itu tidak merepotkan dokter Andre."
"Laras pada akhirnya menyetujui apa diantar oleh Andre pulang, entah apa yang membuat Laras pada menyetujui hal ini."
"Baiklah Laras, setengah jam lagi bersiaplah, karena suster akan membawakan mu surat pernyataan yang harus kau tanda tangani."
"Ya dokter."
"Aku akan mengurus administrasinya."
"Administrasi? tunggu dokter apa maksud dokter pembayaran untuk sakit ku ini?"
Dengan segera Laras menghentikan langkah Andre ketika akan keluar dari dalam kamar Laras.
"Apakah kau belum mengetahui jika Prince sama sekali tidak mengeluarkan biaya untuk semua hal telah terjadi dengan mu saat ini?x
Dengan cepat Laras hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak Laras, Prince tidak menanggung sedikit pun biaya yang saat ini sedang kau keluarkan dari rumah sakit."
"Dokter jika dokter yang akan membayarkan, lalu bagaimana cara Laras untuk menggantikannya?"
"Tidak perlu Laras, atau jika kau ingin tetap Menganti, kau bisa cicil yang ini sampai kau ada yang untuk mengembalikannya."
Andre mengatakan hal tersebut dengan tersenyum.
"Terimakasih dokter Andre, terima kasih karena telah membantu Laras."
"Sama - Sama."
Setelah mengatakan hal tersebut Andre meninggalkan ruang rawat Laras untuk mengurus biayanya.
"Mbak, maafkan mas Prince yah, sebagai suami mas Prince."
Ucapan bi Ijah berhenti ketika Laras memintanya berhenti dengan isyarat.
"Sudahlah bi, aku tidak mau lagi membicarakan Prince, mungkin aku tidak tau apa motifnya kenapa dia seperti ini, namun satu yang pasti aku percaya bahwa apa yang dilakukan mas Prince kepada ku akan mendapatkan balasan yang setimpal."
Laras pada akhirnya berani mengatakan hal tersebut, Laras pada akhirnya berani untuk menerima keadaan bahwa sebenarnya memang Prince tidak pernah mencintainya.
"Aku ingin mental ku juga sehat, itu sebabnya aku tidak akan lagi menangisi sesuatu hal yang memang sudah sepantasnya untuk tidak aku tangisi lagi."
Laras mengatakan hal tersebut dengan suara beratnya.
"Jika pada nantinya aku harus kembali ke rumah mas Prince, hal ini bentuk pengabdian ku sebagai seorang istri, dan aku yakin apa yang telah aku lakukan tidak akan pernah terbuang percuma."
"Tuhan akan melihat semuanya, seperti yang bibi katakan Tuhan akan memperhitungkan setiap air mata yang keluar."
"Aku akan terus berjuang untuk pernikahan ku, karena apa yang telah di persatukan oleh Tuhan tidak boleh di pisahkan oleh manusia."
"Cinta ku untuk mas Prince tulus, ya selamanya akan menjadi cinta yang tulus."