
Bi Ijah mengatakan hal tersebut dengan air matanya yang terus berlinang, ya air mata yang saat ini sedang melihat kebenaran yang tidak dapat di katakan oleh apapun juga.
Kebenaran yang seakan - akan di bungkus dan di bungkam oleh banyak hal, sesuatu hal yang tidak pernah memungkinkan untuk melakukan hal itu.
"Mbak Laras, mas Prince mungkin bi Ijah tidak berani mengatakan semuanya, namun mbak Percaya Tuhan melihat semuanya, bi Ijah akan berdoa untuk hal ini."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Bi Ijah memilih untuk meninggalkan apa yang telah dia lihat dan kembali ke dapur seperti sedang tidak melihat apapun .
Malam dengan cerita nya masing -masing hari begitu banyak yang terjadi, ya terjadi diantara banyak insan yang secara tidak sadar sebenarnya saling berkaitan.
Sementara itu di lain tempat saat ini sedang ada satu wanita duduk di depan cermin dengan tatapan kosong.
"Entah siapa yang haru aku bela dan entah saat ini aku berada di pihak siapa."
Wanita tersebut mengatakan hal itu dengan memandang ke arah cermin dan terus melakukan aktivitas nya.
Malam yang pada akhirnya berganti dengan pagi.
"Laras hari ini kau sudah diizinkan untuk pulang."
"Iya Dre,"
Laras mengatakan hal tersebut dengan wajah sendu.
"Ada apa Laras apakah kau sudah bisa membagikan cerita itu kepada ku?"
Andre yang melihat wajah sendu Laras mencoba untuk mengkoreksi nya lebih dalam.
"Aku belum bisa mengatakan sekarang Dre."
"Baiklah jika memang itu yang saat ini kau inginkan, jadi sebenarnya aku akan pergi ke Jepang untuk beberapa waktu apakah kau mau ikut?"
Deg
Laras kini langsung menatap tajam ke arah Andre.
Jepang?"
"Ya Jepang ada bisnis yang sedang aku jalankan disana, jadi untuk sementara aku akan cuti dari pekerjaan ku di Indonesia."
"Aku mau Dre, aku mau."
Laras mengatakan hal tersebut dengan penuh keinginan.
"Baiklah jika memang kau mau ikut secepatnya akan aku urus, jadi sekarang kau akan kembali ke rumah Prince."
"Tidak Dre aku tidak mau untuk kembali ke rumah itu."
Dan untuk kesekian kalinya Andre langsung mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Laras?"
Dengan cepat Laras langsung menganggukkan kepalanya.
"Ada saatnya nanti aku akan menceritakan semuanya, ya ada saatnya nanti."
"Baiklah jika memang itu yang kau inginkan, ayo aku akan membawa mu ke vila ku, kau bisa istirahat dengan tenang di sana."
Prince mengatakan hal tersebut sambil meraih tangan Laras..
Ya tangan yang sejak lama ingin dia raih, namun pada akhirnya sekarang Andre sadar bahwa tangan itu tidak cukup kuat untuk bisa dia raih dengan sempurna.
"Dre, terima kasih karena kau selalu membantu ku, aku tidak bisa membalas banyak hal kepada mu namun aku selalu mendoakan mu agar kau mendapatkan wanita yang baik untuk menjadi pasangan mu nanti."
Andre yang mendengarkan doa dari Laras kini hanya bisa tersenyum sambil mengatakan di dalam hati bahwa sebenarnya wanita yang pernah dia cintai adalah wanita yang saat ini berada dekat dengan dirinya.
"Ayo Laras, kau pasti akan suka dengan villa itu karena villa itu sangat klasik."
"Ayo Dre, kita berangkat."
Dan pada akhirnya Laras keluar dari rumah sakit dan kembali masuk ke dalam mobil Andre.