
Tak butuh waktu lama untuk membuat Laras terbang ke langit yang paling tinggi, dengan sentuhan demi sentuhan Prince yang dahsyat ke seluruh tubuh Laras, membuat Laras seketika menepis semua rasanya malunya.
"Mas, Laras malu."
Hal tersebut yang Laras katakan ketika Prince pada akhirnya berhasil membuka sebagian pakaian yang Laras gunakan.
"Aku adalah suami mu, dan tidak seharusnya kau mengatakan hal ini kepada ku."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mencium pipi Laras dan terus memegang semua area sensitif di dalam tubuh Laras.
Laras yang malam ini tidak mau mengecewakan Prince mencoba untuk menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang Prince berikan kepadanya.
Suara indah Laras pun mulai terdengar tak kala Prince berhasil membawanya ke langit paling, kenikmatan yang Laras rasanya membuatnya lupa akan setiap kata - kata penghinaan yang telah Prince berikan kepadanya.
"Mas, ini sakit."
Hal tersebut yang Laras terus katakan ketika Prince mulai akan melakukan penyatuan terhadapnya.
"Kau harus menahannya Laras."
"Iya mas."
Laras yang sebenarnya sudah merasakan perih, pada akhirnya harus menahan ketika Prince terus memaksakan penyatuan tersebut.
Ke dua tangan Laras dengan mencengkram erat seprai, dan Laras mengigit bibirnya kuat - kuat ketika pada akhirnya Prince berhasil melakukan penyatuannya tersebut.
Dan Prince pada akhirnya tertidur di samping nya, dan kini hanya Laras yang masih merasakan perih di sekitar **** ************* tersebut.
Perih, ya perih sangat, jadi ini rasanya malam pertama?
Malam ini Laras begitu bahagia, dengan tubuhnya berbalut selimut kini dengan bangga dirinya bisa menyebut dengan bangga bahwa malam ini dirinya telah resmi menjadi nyonya Prince.
Dengan hati yang sangat bahagia Laras pada akhirnya memejamkan ke dua mata.
Malam hari ini, ya malam hari ini, adalah malam yang penuh kejutan bagi Laras.
Dan malam yang penuh kebahagiaan tersebut berganti sangat dengan pagi.
"Astaga berat sekali tubuh ku."
Pagi ini Prince mengatakan hal tersebut sambil membuka ke dua matanya, dan betapa terkejutnya ketika Prince mendapatkan dirinya telah di peluk satu wanita yang selama ini selalu dia hindari.
"Astaga, pantas saja tubuh ku berat, ternyata aku di tindih oleh gentong."
Hal spontan itu yang Prince katakan dengan pelan ketika Prince melihat Laras yang hanya menggunakan selimut putih masih tertidur dengan pulas.
"Dasar gendut, sudah gendut ngorok juga, pantas saja semalam aku seperti mendengarkan suara kereta api di dalam mimpiku."
Prince mengatakan hal tersebut sambil terduduk di tepi tempat tidur.
"Apa saja yang telah aku lakukan dengan wanita ini, astaga Prince, harga dirimu sudah benar - benar turun."
Prince mengatakan hal tersebut sambil mengacak-acak rambutnya, tak kala dirinya melihat pakaian dalam Laras dan dirinya berserakan di lantai.
"Semalam aku harus terus membayangkan mu Jesika saat aku harus menyentuh wanita gendut ini, ya membayangkan tubuh indah mu, dan semua sentuhan hangat mu terhadap ku, kau tau saat aku mencoba untuk mencium wanita gendut ini, satu hal yang selalu aku bayangkan, yaitu saat ini aku sedang menciumi mu, saat ini aku sedang melakukan hubungan suami istri dengan mu, bukan dengan wanita gendut ini, karena fantasi ku tentang mu, yang membuat aku berhasil menyentuhnya.
"Jes, aku berharap pernikahan buruk ini segera berakhir dan aku akan menjemputmu wanita ku yang cantik."