MY PRINCE

MY PRINCE
DENDAM LARAS



LARAS AWAS!"


Suara Lidia yang berteriak pada akhirnya sukses membangunkan Laras dari lamunannya didalam setiap kejadian masa lalu yang kejam.


"Laras ada apa dengan mu? kau hampir saja menabrak orang yang sedang berjalan!"


Lidia mengatakan hal tersebut sambil buru - buru mengambil Angel dari gendongan Laras.


Pagi ini Laras dan juga Lidia hendak pergi ke supermarket dengan berjalan kaki, dan Laras berjalan dengan pikiran yang entah berada dimana.


"Maafkan aku Lidia, sungguh aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk hal itu, maafkan aku."


"Iya Laras tidak masalah untuk ku, namun kau harus lebih hati - hati lagi, dari kemarin aku memperhatikan mu sedang banyak tidak fokus, kau baik - baik saja Laras?"


Lidia mengatakan hal tersebut dengan memandang tajam ke arah Laras.


"Aku baik -baik saja Lidia, maafkan aku mungkin aku tidak bisa menemani mu untuk pergi ke supermarket itu Lid."


Laras yang saat ini sedang linglung mengatakan hal tersebut dengan sangat pelan terhadap Lidia.


"Iya, iya tak masalah, lebih baik kau kembali ke apartemen dan istirahat, aku dan Angel bisa pergi ke supermarket sendiri Laras."


"Iya, aku pulang dulu ya Lid."


"Iya hati - hati Laras."


Lidia mengatakan hal tersebut sambil memandang ke arah Laras yang kini semakin menghilang dari pandangan matanya.


"Aku pergi fisik mu sangat sehat Laras namun hal tersebut tidak berlaku akan hati mu saat ini, Prince seandainya kau tau ada satu wanita yang hatinya sampai saat ini masih menjadi milik mu, seandainya kau adalah laki - laki yang konsisten, engkau akan di dampingi perempuan seperti Laras."


Lidia yang mengenal baik antara Laras dan juga Prince sangat berharap jika pada akhirnya mereka kembali bersatu.


Hari itu Laras kembali ke apartemen dengan berjalan sangat cepat, musim dingin yang saat ini sedang melanda Negara Jepang, tidak membuat Laras memperlambat jalannya.


Dengan berjalan cepat, Laras seakan - akan berusaha untuk menyembunyikan air matanya agar tidak terlihat oleh orang.


Namun upaya Laras untuk melakukan hal itu pada akhirnya gagal karena kini Laras berjalan sambil menangis.


"Kenapa semua ingatan demi ingatan yang aku punya tidak pernah bisa hilang, harus kah aku terus membawa ingatan demi ingatan pahit ini sampai aku kembali kepada Tuhan? apakah ini adil?"


Laras mengatakan hal tersebut sambil terduduk di belakang pintu, karena sesampainya di apartemen Laras langsung melepaskan semua sepatunya dan langsung terduduk menangis tidak berhenti.


"Aku tidak mau seperti ini terus, aku ingin kembali menjadi Laras yang belum mengenal laki - laki itu!"


Sesak sekali dada Laras, saat dirinya mengatakan hal tersebut seorang diri.


Dendam yang dalam sungguh sangat masih terlihat jelas dari setiap air mata Laras yang terus keluar.


Ya dendam namun dari hati kecil yang paling dalam masih tersirat banyak kerinduan.


Kerinduan yang sangat sulit untuk diakui oleh hati dari Laras.


"Aku yakin saat ini dia tidak akan merasakan seperti yang aku alami disini, jadi untuk apa aku harus melakukan hal bodoh seperti ini!"


Untuk kesekian kalinya Laras mengatakan hal tersebut sambil terus mencoba untuk menghapus air matanya yang masih tidak mau berhenti.


Dengan sekuat tenaga pada akhirnya Laras berdiri dari tempat dirinya menangis.